Tags

, , , , , , , ,


Buku-buku sepanjang abad 17 sampai 19 tentang batu mulia nampak lebih menarik daripada buku-buku produk moderenisme abad 21. Demikian asumsi umum dari para kolektor dan pengamat batu mulia internasional. Mengapa hal tersebut bisa menjadi asumsi umum para pengamat batu mulia?

Pertama, karena buku-buku tersebut disajikan secara menarik dengan kapasitas inteligensi yang tinggi. Hal demikian bukan lantaran para penulis buku tersebut mengenyam pendidikan tinggi. Bukan. Namun karena posisi dan status sosial mereka di masyarakat.

Umumnya para penulis dan pengarang buku tentang batu mulia abad 17-19 adalah para bangsawan, ningrat yang menjadi anggota berbagai komunitas saintifik, komunitas para bangsawan kerajaan. Setidaknya untuk mengarang atau menulis sebuah buku, mereka tak kesulitan memperoleh akses informasi dari perpustakaan, koleksi buku langka, bahkan batuan langka dari sumber pertama.

Namun secara umum, buku-buku tentang batu mulia yang muncul sepanjang abad 17-19 lebih dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama, yaitu Kolonialisme Inggris, penemuan Benua Amerika dan kisah para petualang pemberani.

Persentuhan dunia Barat dengan batu mulia sangat dipengaruhi oleh pendudukan atau Kolonialisme Inggris di India. Melalu eksplorasi tambang dan aktivitas ekonomi kongsi dagang India Timur, orang-orang Eropa dan masyarakat Barat pada umumnya mendapatkan informasi mengenai batuan mulia eksotis negeri India.

Hal tersebut memungkinkan masyarakat Barat dan khususnya Inggris terus-menerus menjadi pengamat dan peneliti batu mulia, memproduksi pengetahuan tentang batu secara akurat langsung dari sumbernya.

Selain India, terkait batu mulia, Birma dan Srilanka menjadi dua tempat yang cukup berpengaruh membentuk pengetahuan orang-orang Barat mengenai Mineralogi, batu-batuan mulia yang mereka tulis dan dokumentasikan.

Para penakhluk Spanyol juga memiliki peran yang cukup seignifikan dalam pembentukan pengetahuan Barat dan umumnya masyarakat moderen tentang batu mulia melalui penemuan Benua Amerika. Obsesi terhadap emas telah menuntun para “conqueror” kepada eksotika batu Safir. Para penakhluk asal Spanyol ini merupakan sumber kedua pengetahuan tentang batu setelah Kolonialisme Inggris.

Selanjutnya para penjelajah kelas kakap seperti Marco Polo atau Jean Baptiste Tavernier menduduki posisi ketiga sebagai pemasok pengetahuan tentang batu mulia. Setidaknya sekitar 85 persen penulis buku-buku klasik tentang batu mulia mengutip tentang kisah Berlian Tavernier dalam masing-masing risalahnya.

Selain itu, pengetahuan mengenai batu mulia masyarakat moderen banyak berhutang kepada bahasa Latin yang umum digunakan pada abad pertengahan. Bahasa Latin merupakan transisi dari bahasa kuno dan bahasa moderen, jembatan pengetahuan bagi masyarakat moderen untuk mengetahui situasi masyarakat kuno beserta produk kebudayaannya.

Misalnya buku tentang batu mulia berjudul “Lapidary or, The History of Pretious Stone” karangan Thomas Nicols yang diterbitkan pada 1652 menjadi salah satu buku yang menjadi sumber utama para penulis batu mulia moderen. Bahkan ulasan mengenai daya magis batu dan kekuatan penyembuh masih diikuti, ditulis ulang oleh para pengarang moderen. Menurut para pengamat batu dan kolektor internasional, umumnya para penulis batu mulia moderen sekadar menulis dan mengutip ulang karya Thomas Nicols. []  tulisan lain bisa diakses di http://www.akikpedia.com