Tags

, , ,


jejak air       Tangisan Abay memecah kesunyian malam, meredam deru arus Kali Ciliwung, membungkam derit sayap jangkrik yang menggelitik telinga. Masih seperti malam-malam sebelumnya. Mama Ana berdiri di pinggir jalan, menanti sang suami pulang. Ia tak menyadari jika sepasang mata telah lama memerhatikan gerak-geriknya dari seberang jalan. Seorang pria berpostur tegap, berambut cepak, dari dalam pos piket, dengan tatapan penuh curiga seolah ingin memastikan perempuan itu tak akan berbuat macam-macam.

“Mama ikut, mama, Ana takut.” Suara tangis bocah perempuan memanggil-manggil ibunya dari dalam rumah petak yang pengap. Ia bersama adiknya terkunci di dalam sana. Lagi, tangisan Abay pecah. Kali ini suaranya melengking tinggi mengalahkan rengek tangis kakaknya.

“Berisik tau, mama… Abay pipis nih,” Ana menjerit seolah tak ingin suaranya dikalahkan.

Andai saja Mama Ana mendengar tangisan kedua anaknya. Sayangnya ia tak punya waktu untuk itu. Baginya, kedatangan sang suami lebih penting. Padahal, seluruh penghuni kompleks rumah petak di pinggir Sungai Ciliwung itu sering mengeluhkan tangisan Abay. Tangisan itu di telinga mereka lebih mirip lolongan srigala malang yang kelaparan. Namun Mama Ana mengabaikan sindiran-sindiran itu. Ia lebih tertarik untuk memastikan sang suami bisa pulang ke rumah tepat waktu.

Lorong sempit itu dilaluinya dengan mantab.

Pukul setengah empat pagi ia datang. Barusan ada dua buah unit pendingin ruangan yang mesti diperbaiki. Sebelumnya, sebuah kulkas dan satu pompa air ngadat, tak berfungsi, berhasil ia jinakkan. Sepasang tangan dingin dan kejeliannya itu sudah teruji ratusan kali berhasil mengubah barang-barang rongsokan menjadi teman yang berguna. Para pelanggan pun sering memuji keterampilan yang dimilikinya itu.

“Sudah makan nak?” ucapnya, sembari menggendong anak perempuan itu.

“Ana lapar, Ana belum makan.”

“Bohong, ini anak nggak bisa dibilangin ya, awas nanti,” Sang Istri menyela, menyanggah, tak terima pengakuan Si Sulung.

Mata yang bening. Abay menatap dalam-dalam. Tak ingin lepas dipelukan. Lelah baru saja tertambat, kantuk yang menyengat pun belum hilang. Pria itu bersiap-siap berangkat lagi. Istri yang kelewat cerewet, rumah yang tak terurus, anak yang tak mau berhenti menangis. Entah apa lagi. Ia memutuskan untuk berangkat setengah empat pagi, dan pulang setengah tiga pagi. Ia lakoni itu tiap hari.

Setahun yang lalu, ia dan istrinya adalah seorang buruh di sebuah perkebunan teh di daerah puncak, Bogor. Mereka bekerja memetik pucuk-pucuk daun teh yang siap panen. Setiap kilogram daun teh yang mereka petik, dihargai sekitar tigaratus rupiah. Rata-rata mereka berdua menghasilkan sepuluhribu rupiah per hari.

Konsumen daun teh bukan hanya manusia, ulat daun juga butuh makan. Jika makhluk kecil itu mulai terbit selera makannya, mereka akan mengunyah daun teh yang harum itu sebelum buruh pemetik beranjak dari peraduannya. Entah, sejak kapan mereka begitu beringas melahap daun teh puncak. Seorang buruh pemetik hanya berpenghasilan kurang dari limaribu rupiah per hari, saat ia terpaksa berbagi dengan kawanan penjarah kecil itu.

Kompetisi belum lagi usai. Tak hanya ulat yang mesti jadi saingan para buruh. Beberapa tahun terakhir, kawasan puncak mulai dipenuhi oleh villa-villa mewah, dan areal kebun sayur liar. Para buruh pun mesti bekerja dan berfikir lebih keras, bagaimana cara mendapatkan penghasilan di kebun yang sering diserang ulat, serta lahan yang kian menyempit.

Sebenarnya, selain bekerja memetik daun teh, para buruh memiliki penghasilan tambahan. Mereka membuat keramba ikan di hulu Sungai Ciliwung. Setiap panen, ikan-ikan itu bisa terkumpul sampai satu setengah ton. Sayangnya setahun yang lalu, keramba-keramba ikan itu muspra[1] diterjang banjir bandang. Ciliwung murka. Duapuluh rumah di kampung Mama Ana hanyut diterpa banjir bandang. Ironis, kampung itu berada sekitar 1200 meter dari permukaan air laut.

Sebuah bencana terparah yang pernah terjadi dalam sejarah banjir di hulu Sungai Ciliwung. Kejadian itu memaksa Mama Ana sekeluarga pindah. Hobi suami mengutak-atik alat-alat elektronik – sewaktu pindah tempat di salah satu kota satelit Jakarta – benar-benar menjadi pekerjaan utama.

Abay masih berumur beberapa bulan saja. Saat air bah datang, bocah itu kintir,[2] terseret arus ketika rumah dan tempat tidurnya luluh lantak diterpa banjir. Kedua orang tuanya masih dalam perjalanan pulang, dan menangis sejadinya saat melihat rumah dan anaknya raib. Waktu itu Si Sulung menginap di rumah kakeknya, jadi ia tak tahu menahu perihal petaka yang menimpa sang adik.

Malam yang kelam. Air menderu-deru, seolah mengutuk, menyumpah tiap-tiap benda dan menggulung semua makhluk yang menghalangi laju gelombangnya. Tangis bayi merah membelah tirta mengiringi leburnya semesta dalam kehendak-Nya. Ia terbawa tak sampai hilir. Air Ciliwung seperti membelai tubuh mungil itu. Arus yang kuat membawa Abay sampai ke sebuah anak sungai.

Sungai dan Abay menjadi satu. Tak ada beda antara Abay dan sungai. Keduanya saling memberi, melengkapi, memuji, dan melayani. Arus yang menderu-deru berubah menjadi gemericik air yang merdu. Angin yang kencang, berbalik menyapa makhluk yang saling merindukan. Mereka bermula dari rahim, mata air, dan gunung yang sama. Berjumpa untuk dilahirkan kembali, berjanji untuk saling memberi kesempatan dalam kehidupan dan mengabdi pada Sang Khalik.

Abay ditemukan di dekat sebuah mata air, Sungai Ciesek. Beberapa warga kampung turut mengevakuasinya saat menyisir korban banjir bersama SAR. Warga pun berbondong-bondong pergi menyaksikan tim penyelamat menyerahkan Abay kepada kedua orang tuanya.

***

       Suara Abay kembali melengking. Seperti sedang kerasukan roh anjing atau roh penunggu Kali Ciliwung. Lengkingan itu keluar dari mulut bocah berusia dua tahun. Setahun terakhir, masih tak ada tanda-tanda kemauan untuk berjalan. Kedua kaki kecil itu lebih mirip dua potong cakue kering asin ketimbang rangkaian tulang, daging, dan otot yang bernas.

Biasanya anak seumur dia sudah bisa berdiri tegak, berlarian menyambut kedatangan Bapaknya. Setidaknya, kaki kecil itu seharusnya sudah bisa menendang-nendang sesuatu di hadapannya. Jangankan berjalan, berbicara pun tak mampu, ia hanya bisa melengking. Bagian tubuh yang terlihat menonjol dan masih berfungsi adalah kepala. Bahkan, kepala itu terlihat terlampau besar, melebihi ukuran normal.

Mama Ana selalu berdalih jika di dalam rumah petak itu ada hantu, tetekan, genderuwo, alu-alu, jin, pri perayangan, banaspati yang merasuk, berdiam di tubuh anaknya. Tak jarang ia mengambinghitamkan makhluk halus, penghuni bantaran Kali Ciliwung yang mengalir tak jauh dari pemukiman rumah petak milik Mbah Midjo itu. Para penyewa rumah petak sangsi akan hal itu. Namun, cerita yang sama mesti ia ulang berkali-kali, jika ada orang yang bertanya tentang keadaan si bungsu.

Pada suatu pagi yang cerah, Minggu, Mama Ana nampak bersiap pergi. Busana favoritnya: tutup kepala, kerudung, kain motif kulit macan, beludru, dipadu dengan kain rok terusan panjang, dan sepatu-sandal hak lima sentimeter. Ia pun melenggang bersama Si Sulung. Abay tak nampak bersama mereka. Mungkin ia sengaja ditinggal di rumah. Sendirian.

Sepekan lalu, RT setempat mengingatkan kepada warga, jika akan ada aktivitas pengasapan, foging, di sekitar bantaran Kali Ciliwung.

“Anu, demam berdarah berjangkit lagi, besok Minggu kita semprot rame-rame,” putus Priel, ketua RT, malam hari rapat di kediaman Pak Kius, seorang veteran perang kemerdekaan. Pejabat kampung itu mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di pagi hari, sampai penyemprotan benar-benar selesai.

Suara menderu-deru terdengar sayup-sayup sampai, semakin mendekat ke pemukiman rumah petak bantaran Ciliwung. Sekilas terdengar seperti suara mesin pemotong rumput. Tapi mesin yang satu ini suaranya lebih majal dan keras. Sepertinya ada rongga yang sengaja didesain mendukung mesin bersuara lebih kuat. Asap mulai mengepul, bergulung-gulung, membumbung tinggi memenuhi udara. Aroma pekat, tak sedap segera menyesaki ruang dan pori-pori kulit.

Sejumlah orang bercelana pendek, mengenakan penutup hidung dan mulut, mulai bergerak perlahan memasuki pemukiman. Ketua RT dan RW ikut dalam rombongan itu. Salah seorang diantara mereka menjinjing mesin penyemprot. Bentuknya menyerupai senapan tempur berkaliber besar, dengan kemampuan memuntahkan dua ratus butir peluru per detik.

Mereka sengaja mematikan mesin sewaktu susuri lorong yang menghubungkan jalan raya dengan pemukiman. Sisa-sisa asap masih terlihat keluar dari lubang-lubang kecil penyemprot itu. Sesaat, mereka meminta warga untuk keluar rumah, sampai asap itu efektif memusnahkan biang nyamuk, penyebar virus demam berdarah dan penyakit kaki gajah.

Mesin penyemprot kembali menyalak. Kali ini lebih mirip suara motor, bunyinya begitu memekakkan gendang telinga. Asap putih keluar dari moncong yang tak ramah, mengoyak tiap jengkal sarang nyamuk di sudut-sudut kamar rumah petak. Pintu-pintu rumah petak ditutup, segera setelah tim penyemprot memberi kode.

Sepuluh pintu rumah petak itu mirip mulut gua persembunyian tentara Jepang yang di bom oleh pasukan sekutu. Saat itu tak seorang pun sadar jika seorang bocah dua tahun masih tertinggal di salah satu rumah yang sesak oleh asap. Tak seorang pun tahu, seorang bocah, lumpuh, sedang berjuang melawan asap yang menyatroni paru-paru kecilnya. Tak ada yang berinisiatif, alih-alih berupaya mengevakuasi. Abai.

Air Sungai Ciliwung masih mengalir seperti biasa. Alirannya tak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Ketenangan arusnya begitu hampa, tak mampu menghanyutkan, sekalipun seekor semut melintas di atasnya. Dan, Mama Ana masih bersikeras dengan pendiriannya. Ia mengira Si Bungsu kesambet roh halus penunggu Kali Ciliwung.

Ia lebih memercayai kekuatan para makhluk halus telah memengaruhi pertumbuhan fisik Abay yang kian hari kian memrihatinkan. Dalam benaknya hanya membayang bagaimana cara memantau suaminya supaya tak tergoda perempuan lain. Bukan susu atau gizi yang ia awasi. Sebaliknya, bagaimana setiap hari, sang suami pulang tanpa bau parfum perempuan lain. Parfum murahan, sama seperti yang ia kenakan.

Abay melengking lagi. Mungkin cuma itu yang bisa ia lakukan. Ia tak bisa sampaikan keluhan dalam kata, dan membuat ibunya mengerti jika dirinya sangat membutuhkan dekapan dan kasih sayang. Abay melengking-lengking, melolong layaknya anjing, marah. Pada suatu kesempatan ia gigit pantat kakaknya.

“Srigala, Mama…, Abay Ma..,” teriak Ana.

“Bisa diam nggak sih, bego banget nih anak,” hardik perempuan itu.

“Bego, bego, bego,” teriak Ana, seolah membalas, bersamaan suara lengkingan Si Bungsu.

“Brak, rek, krek,” pintu kamar ditutup, dikunci dari luar.

Mama Ana keluar rumah menyusuri lorang gelap, menunggu sang suami di pinggir jalan, meninggalkan jejak raungan kedua anaknya. Malam kian larut, suhu udara cukup rendah. Dingin. Meski tak terlalu mendung, langit sepertinya masih mampu menumpahkan gumpalan uap air yang terlihat tak sabar ingin segera menyapa bumi. Ciliwung pun siap tampung curahan langit itu.

“Aduh, suamiku, sekarang sudah malam nih, kira-kira sudah sampai mana ya,” gumamnya. Tak jarang ia menanyakan hal yang sama kepada tiap penghuni rumah petak yang kebetulan pulang ke rumah agak larut.

“Suamiku telat pulang, takutnya sudah larut, ngantuk, terus nyeberang jalan, banyak mobil..,” ia mengungkapkannya pada tiap orang yang lewat tanpa canggung sedikitpun. Padahal semua tetangganya tahu jika suaminya selalu berangkat dan pulang pagi. Kedua anaknya masih melolong mencarinya. Sampai esok tiba.

***

       “Pokoknya, kalau nggak mau, sebaiknya jangan tinggal di sini. Kampung sini gak pernah ada keluhan gizi buruk dari warga. Kampung sini punya prestasi bagus soal kesehatan. Ayo, pokoknya saya tunggu di sini, kita berangkat sekarang.”

Perempuan itu menyeka keringat di dahinya dengan tisu. Wajahnya muram. Cukup lama ia berdiri di depan pintu itu. Sebagai istri RT, ia jengah dengan warga baru yang berulah. Sebelum keluarga kecil itu datang, kegiatan Posyandu yang ia tangani tak pernah bermasalah. Tak pernah ia hadapi orang miskin yang sok. Dan, yang paling menyebalkan: tak jujur. Tak jujur mengenai kondisi kesehatan keluarga dan anak. Tak jujur mengenai keluhan yang dirasakan selama tinggal di bantaran Kali Ciliwung.

Memang bantaran kali itu, kini, berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Para penyewa rumah petak tak henti-hentinya membuang sampah di sana. Untuk menjaga kebersihan masing-masing rumah, mereka cukup melemparkan kotoran-kotoran itu sampai ke dasar sungai. Selesai.

Di musim penghujan bau busuk menyengat hidung. Jasad renik dan mikro bakteri memulai pekerjaannya menguraikan sampah, kotoran, dan gemburkan tanah. Biasanya kucing-kucing suka berebut sisa makanan warung yang juga dibuang di sana.

Satu hal yang masih mengganjal di benaknya, mereka tak jujur tentang kondisi Abay. Pernah, suatu kali petugas puskesmas marah saat pembagian susu gratis. Puluhan ibu-ibu yang menimbang bayi dan mendapatkan susu, terlihat pulang dengan jejak senyuman menghambur. Namun jauh dari kegembiraan, selidik dan curiga yang jadi respon pertama Mama Ana.

Tiga kaleng besar susu bubuk itu nyaris dilempar petugas ke wajah Mama Ana. Sebelumnya, petugas telah menjelaskan pentingnya kesehatan dan kebersihan bagi anak. Bau pesing yang berasal dari baju Mama Ana dan kedua anaknya telah mencerminkan kealpaannya pada kebersihan.

“Emang, susu ini masih bisa dipakai ya, apa nggak kedaluwarsa, trus kalau anak saya sakit gimana.” Pertanyaan-pertanyaan lain dan tak kalah aneh menyeruak dari mulut ibu dua orang anak itu kepada para petugas.

Tak mampu berkata-kata. Petugas itu hanya bisa berbisik kepada Bu RT, menyuruh perempuan tak waras itu untuk segera pulang dengan membawa susu bubuk gratis. Betul. Sebelum segalanya menjadi kacau.

Mereka kembali ke bantaran Kali Ciliwung. Malam pun menjemput. Seperti biasa, Mama Ana beranjak dari rumah kontrakan, menanti suaminya pulang. Masih di pinggir jalan. Ia sendirian. Sepasang mata itu lelah mengawasi gerak-gerik perempuan yang selalu saja sama dari malam ke malam. Kini ia lebih tertarik dengan acara televisi, kuis interaktif, yang bisa ia simak tak jauh dari pos piketnya. Sesekali ia menguap, mengusir kantuk, dan tertawa keras saat pembawa acara televisi itu mulai mbanyol.[3]

Kali ini tak terdengar lengkingan. Sepi, terlalu sepi. Aliran Sungai Ciliwung bergemericik, terdengar sangat jernih. Suara kodok bangkak bersahut-sahut-an menjelang sinar temaram rembulan di sela-sela dedaunan bambu barong. Derit sayap jengkerik mulai terdengar seperti sepasang kastanyet yang sedang memberi dan membagi ketukan nada-nada Illahi.

Seorang anak kecil berkepala besar berjalan menyusuri bibir Sungai Ciliwung. Ia barusan beranjak dari tidurnya yang panjang, mimpi tentang peri-peri bersayap yang mengajaknya terbang. Ia sekadar mengikuti suara nyanyian mereka, sampai tak terasa air sungai memercik di kedua tungkai kakinya yang kecil. Permukaan air sungai yang mengalir memberitahu betapa tampan dirinya, betapa kini ia bisa bernyanyi bersama para peri, dan berlarian di atas kali wingit[4] itu.

Dari kejauhan terdengar suara tangisan seorang lelaki. Sesekali teriakan bocah perempuan juga terdengar memanggil namanya. Suara yang tak asing, begitu akrab, dekat, hangat. Sebenarnya ia ingin mencari sumber suara itu, tapi, peri-peri bersayap itu terlanjur membawanya pergi menjauh. Sepanjang aliran Kali Ciliwung bermula dan berakhir. []

 

Franditya Utomo

2008, Bantaran Kali Ciliwung, Jawa Barat

 

 

catatan kaki:

[1]    Hilang, musnah.

[2]    Hanyut oleh arus sungai yang sangat deras.

[3]    Melucu, melawak.

[4]    Angker