Tags

, , , , , , , , , , ,


Kang Okky dan petani Sukamukti

Desa Sukamukti, Kaki Gunung Cermai, orasi rakyat

Gunung Slamet nampak menjulang tinggi dari belakang rumah Pak Kento, Petani yang tempat tinggalnya kami inapi selama beberapa hari di Kasepuhan, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Rumah dua tingkat yang luas dan asri. Halaman depan terpampang kolam ikan Mas. Ikan besar-besar, melimpah. Di belakang, Ikan Lele kerap menimbulkan suara ciprat air akibat terlampau rakus berebut makan. Hamparan sawah seolah tak ingin menyisakan tempat selain padi dan palawija. Setiap pukul sebelas malam Pak Kento bangun, khusus memberi makan Ikan Lele.

Tak jelas berapa jumlah anak Pak Kento. Tapi yang jelas si bungsu kini bekerja di Departemen Kesehatan, Jakarta. Kami sempat bertemu dengannya saat ia pulang kampung. Istri Pak Kento memperkenalkan anak gadisnya kepada kami. Tersirat raut muka ceria bangga saat anaknya menjabat tangan para aktivis LSM dari berbagai daerah Indonesia. Tiga-empat jam perjalanan Jakarta-Kuningan memungkinkan seseorang yang bekerja di ibukota meluangkan banyak waktu untuk pulang, melepas rindu kampung halaman.

Kasepuhan nampak sangat tentram dan sejahtera. Kolam ikan ada dimana-mana. Air jernih mengalir sepanjang aliran sungai, memenuhi petak-petak sawah, kolam. Dingin air membasuh raga, gemericiknya menenangkan jiwa. Muda-mudi bahu-membahu di kampung, meski berbeda keyakinan dan agama. Nenek moyang mereka mengajarkan saling menghormati dan hidup rukun sesama. Tak ada alasan tak ulurkan tangan bagi orang lain.

Ikat kepala yang disematkan penghulu adat semalam masih kupakai. Kulihat beberapa rekan juga memakainya. Meski terkesan simbolik, nyatanya simbol sampai saat ini masih diperlukan. Bahkan, mungkin simbol itu adalah hidup itu sendiri. Semakin habis oleh jaman, simbol-simbol masa lalu kian dirindukan.

Kini Cigugur dalam bahaya. Taman Nasional Gunung Cermai mengancam hajat hidup para petani di kaki gunung. Batas-batas taman nasional pun kian tak jelas, bahkan telah memasuki wilayah perkotaan. Beberapa warga mengaku bingung atas situasi tersebut. Tanah yang sedari nenek moyang, para pendahulu kelola, kini telah menjadi hutan negara. Bahkan belakangan pihak swasta, perusahaan penambang panas bumi, Chevron, bersiap menggali lahan petani. Konon mereka telah mengantongi hak konsesi lahan dari pemerintah. Situasi kian rumit, runyam.

Petani Tolak Chevron

Demonstrasi petani tolak Chevron di Kaki Gunung Cermai, Jawa Barat

Petani pun tak tinggal diam. Beberapa waktu lalu mereka bertandang ke Jakarta ke Kantor Komnas HAM, mengadu atas hak hidup yang terjarah. Seperti biasa, Komnas HAM bekerja secara normatif, mengumpulkan data-data di lapangan, membentuk tim pencari fakta pelanggaran hak asasi, hak insani. Bahkan menjadi mediator, penengah bagi para pihak yang bersengketa. Mungkin karena di Indonesia belum ada Peradilan HAM maka keputusan hanya bersifat rekomendatif, tidak bersifat Imperatif atau perintah. Di sisi lain, korban, rakyat, petani di kampung terus dirampas haknya oleh kekuatan ekonomi dunia melalui tangan-tangan industri keruk.

Perusahaan datang ke kampung, mengiming-imingi perbaikan hidup dan kesejahteraan warga Cigugur. Mereka berjanji akan melibatkan warga dalam proyek pembangunan, mendapatkan manfaat dari penambangan panas bumi. Aneh.

Jauh sebelum mereka datang ke Buana Panca Tengah, Negeri Pasundan melimpah ruah hasil bumi, kaya sinar matahari dan hujan. Petani Jawa Barat adalah soko guru, pilar ekonomi Indonesia. Meski kebijakan impor tanaman pangan saat ini kian menggila, petani di kampung masih mampu menghidupi keluarga besarnya. Ratusan perusahaan asing tentu hanya mampu bermimpi menginjakkan kakinya di surga Pasundan, jika tak ada komprador lokal yang tega menjual nasib saudaranya sendiri.

Salah satu desa penghasil sayuran di kaki Gunung Cermai, Sagara Hiang, setiap kali panen jika dinominalkan mencapai 22-24 Milyar Rupiah. Fakta ini tentunya dengan mudah menepis, bahkan meruntuhkan penilaian tiap perusahaan asing yang tiba-tiba datang dengan segepok dokumen, data, serta-merta menyatakan kemiskinan rakyat tani Jawa Barat.

Selain itu, di Sagara Hiang terdapat situs penginggalan kerajaan masa lalu dan air terjun Pelengseran yang legendaris. Warga setempat yakin jika tempat itu adalah tempat nenek moyang mereka. Pemakaman yang tempatnya terpisah-pisah menandai jejak masa lalu para pendahulu.

Situs Sagara Hiang dan makam leluhur warga Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Situs Sagara Hiang dan pemakaman leluhur warga Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.

Kini rakyat tani kaki Gunung Cermai giat melakukan pendokumentasiian asal usul, sejarah, dan warisan budaya setempat sebagai alat klaim atas hutan dan lahan yang dijarah pihak luar. Warga sebisa mungkin mengumpulkan data, menyatakan desa dan hutan sebagai satu kesatuan utuh yang memiliki sejarah, nilai dan norma adat yang masih berlangsung hingga kini. Pelanggaran terhadap adat-istiadat sebuah masyarakat merupakan pelanggaran hak asasi yang serius.

Sekilas proyek desa adat, invented tradition, teknokrasi budaya, bertujuan menggali simbol-simbol masa lalu untuk hidup beriringan dengan nilai dan ritus moderen. Ada anasir semangat konservasi budaya dalam penelusuran sejarah asal-usul desa adat di kaki Gunung Cermai. Namun langkah tersebut cenderung lebih terlihat taktis dan tepat, sebagai respon ancaman terhadap ruang hidup petani Indonesia. Untuk sementara waktu, konsep masyarakat hukum adat bisa digunakan sebagai benteng, penangkal tangan-tangan jahil yang hendak mengklaim lahan garap petani.

Setidaknya orang-orang kampung di sekitar kawasan hutan menyiapkan diri merebut kedaulatan desa adat, sebelum UU No 6/2014 tentang Desa yang menjadi landasan yuridis warga desa menyatakan hak masyarakat hukum adat diamandemen, dan rakyat tani sekali lagi kehilangan kesempatan berdikari. Paralel dengan itu, putusan Mahkamah Konstitusi No. 35/2012 yang mengeluarkan kawasan hutan adat dari kawasan hutan (negara), menjadi momen penting mengklaim kembali kawasan hutan sebagai bagian integral wilayah kesatuan masyarakat hukum adat.