Tags

, , , , , , , ,


sawit papuaLangit Abepura nampak mendung. Rintik hujan disertai hembus angin kencang menghantar mobil yang ditumpangi beberapa orang staf lembaga non pemerintah menuju hotel Travellers di Waena, Papua. Sepanjang perjalanan di pinggir Danau Sentani terpampang bukit dan gunung terburai materialnya. Tanah, batu, pasir, tertata siap dijual. Kabarnya masyarakat adat di sana telah melepas pemilikan hak ulayat ke pihak swasta.

Di dalam mobil, tim riset kebijakan bersiap menuju sebuah kegiatan workshop pengembangan kewirausahaan budidaya tanaman Kakao di Jayapura. Kegiatan melibatkan beberapa pemangku kepentingan perkebunan Kakao meliputi pemerintah, sektor privat, petani atau pekebun, LSM, akademisi-peneliti, serta kelompok adat.

Forum multipihak itu merupakan pertemuan kali kedua. Meski di tingkat nasional telah terbentuk Dewan Kakao, nampaknya masih belum cukup menjadi jaminan bagi terwujudnya keberlanjutan ekonomi lokal di sektor perkebunan rakyat. Kerjasama para pihak diharapkan mampu mendorong kemandirian ekonomi lokal berbasis budidaya Kakao. Secara faktual masyarakat Jayapura telah membudidayakan tanaman Kakao sedari zaman Belanda. Namun sampai sekarang sulit ditemukan sosok pengusaha lokal, asli Papua, yang sukses berkat bahan dasar permen coklat itu.

Workshop diawali pemaparan hasil kajian kebijakan kewirausahaan sektor perkebunan di Jayapura. Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian yang baru dilantik menyampaikan informasi terkait rencana ekspansi bisnis Kelapa Sawit di Papua. Investasi perkebunan Kelapa Sawit seluas 16 ribu ha sampai 32 ribu ha meliputi lebih dari enam distrik di Jayapura. Dua perusahaan investor itu antara lain PT Permata Mandiri dan PT Purni Jaya. “Jika Sawit sudah masuk ke Papua, habis sudah Kakao punya cerita” pungkas sang kepala dinas.

Terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh ekspansi bisnis Sawit akibat pembukaan lahan skala raksasa, sebenarnya tanah Papua sudah lama tereksplorasi oleh perkebunan Kakao. Sekitar 1978-1980an Irian Jaya Joined Development Fund (IJJDF) bersama PT Coklat Ransiki membiayai bisnis perkebunan plasma Kakao skala besar di Manokwari. Jaringan pasar, fasilitas pendukung panen, pasca panen tersedia lengkap. Di Era IJJDF petani lokal memiliki lahan luas dan menanam banyak bibit Kakao.

Sekitar 1995an dukungan IJJDF dan sektor swasta berakhir, Pemda pun tak mampu melanjutkan pengembangan. Tak ada sistem berkelanjutan yang mampu dipertahankan. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, kisah Kakao di Papua pun tutup buku. Sekitar 2006 Bupati Jayapura melalui instruksi No. 1/2006 menggalakkan wajib tanam Kakao menyambut perintah Permentan No. 33/2006 tentang revitalisasi tanaman perkebunan.

Menurut penuturan Kepala Dinas Pertanian, Kakao masih menjadi program unggulan pada 2014. Menyusul perikanan, peternakan, serta budidaya tanaman pangan. Kakao masih menjadi prioritas saat tiga dinas –pertanian, peternakan, dan perkebunan– dilebur menjadi satu: Dinas Pertanian. Akibatnya, Dinas Perkebunan menjadi satu bidang dan anggaran pun kian menciut.

Kini investasi untuk perluasan lahan Kelapa Sawit sudah di depan mata. Pemerintah dan petani Kakao menghitung mundur realisasi rencana ekspansi Sawit. Terminal peti kemas di Depapre, Jayapura, disiapkan memperlancar bisnis Sawit. Ibarat lomba lari, meski Kakao telah mengawali start namun Sawit lah yang akan mencapai garis akhir perlombaan. Sayang, perlombaan itu, pembukaan lahan besar-besaran, hanya akan menyisakan kerusakan lingkungan semata.

Kelapa Sawit merupakan tanaman perkebunan yang tergolong boros air. Ia menyerap kadar air dalam jumlah yang besar. Situasi demikian tentunya akan mengancam kelestarian sumber air. Pun pula membahayakan kelangsungan hidup masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari hasil berburu dan meramu, mengambil makanan yang disediakan alam.

Meski Kakao juga tanaman perkebunan yang membutuhkan intensifikasi dan perawatan khusus, namun keberadaannya di Papua telah menyejarah. Bahkan varietas Kakao di beberapa kampung basis perkebunan rakyat telah tergolong spesifik lokal dan stabil. Kakao pun menjadi tanaman perkebunan yang populis, tak memisahkan alam dan manusia yang hidup darinya. Berbeda dengan Kelapa Sawit yang selalu memerlukan pembukaan hutan yang berpotensi menggerus suku-suku lokal. []