Tags

, , , , ,


image

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayapura yang baru dilantik, dalam workshop “Mendorong Kebijakan Kewirausahaan Perkebunan Kakao di Jayapura” (20/02) menyatakan jika saat ini terdapat beberapa investor perkebunan kelapa sawit yang akan ekspansi lahan seluas 16 ribu ha sampai 32 ribu ha. Luas lahan meliputi lebih dari enam distrik di Jayapura. Dua perusahaan investor Sawit itu antara lain PT Permata Mandiri dan PT Purni Jaya.

Sementara itu program pertanian dan perkebunan pemerintah daerah Jayapura sampai 2014 meliputi intensifikasi perkebunan Kakao, perikanan, peternakan, dan budidaya tanaman pangan.

Saat ini Dinas Perkebunan, Pertanian, dan Peternakan melebur menjadi satu dinas: Dinas Pertanian. Ketentuan peleburan tiga dinas tersebut tertuang dalam Perda No 18/2008. Peleburan dinas tak sekadar berakibat mengecilkan anggaran pengembangan budidaya tanaman Kakao, namun ekspansi Sawit juga menjadi ancaman serius. “Jika nanti Sawit jadi masuk Papua, Kakao bisa habis cerita” tutur sang Kepala Dinas.

Penguatan Budidaya Kakao
Dua kampung yang menjadi basis perkebunan Kakao di Jayapura adalah Kwansu dan Hamonggrang. Meski letaknya berdekatan, kedua kampung tersebut berbeda distrik. Menurut Kabid Perkebunan, Dinas Pertanian, Ganefo, penguatan kapasitas usaha tani pada 2012-2013 telah dilakukan di Kleisu dari dana APBN untuk permodalan dan Unit Pengolahan Hasil (UPH).

UPH memiliki anggaran sekitar 89 juta rupiah untuk membeli panen kakao, basah dan kering, dari kelompok tani. Namun selama ini petani kakao di kampung jarang menjual hasil panen ke UPH. Ada kemungkinan petani masih terikat dengan para pembeli atau pengumpul Kakao lama.

Serangan hama penggerek batang Kakao (PBK) juga menjadi persoalan utama yang menjadi perhatian para pemangku kepentingan. Teknologi sambung pucuk dan sambung samping dilakukan untuk mengurangi dampak serangan PBK. Saat ini sekitar 80 % atau sekitar 1500 pohon Kakao di Yapsi telah dilakukan teknik sambung pucuk dan samping.

Terkait soal membendung ekspansi kelapa sawit dan memperkuat perkebuban Kakao di Jayapura, nampaknya berkembali pada regulasi tingkat kampung yang diatur dalam Perda Kampung. Jika ekspansi Kelapa Sawit memang sudah tak bisa dihindari, setidaknya wilayah dan lokasinya berjauhan dengan lahan Kakao milik warga kampung. Selain itu kerjasama antarsektor privat diharapkan terjalin serta mampu memahami keberadaan Kakao yang telah menyejarah di tanah Papua. []