Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,


Iwan Setyawan anak seorang sopir angkot dan masa kecil yang kurang bahagia, sukses bekerja di Amerika, tertuang dalam cerita “9 Summers 10 Autumns, dari Kota Apel ke The Big Apple”, disingkat 9S10A. Sebuah novel yang berhasil menjadi national best seller, menyabet predikat buku fiksi terbaik Jakarta Book Award 2011. Cerita-cerita pendek yang disajikan pengarang nampaknya banyak menarik simpati publik lantaran berisi kisah perjuangan anak manusia keluar dari jerat kemiskinan. Rumah mungil Iwan di Gang Buntu, Kota Batu, telah berhasil mengawetkan cita-citanya mengejar mimpi, menempuh pendidikan tinggi, membangun perahu berlayar ke samudra kesuksesan.

Agaknya menarik jika mengikuti secara aktual kisah seseorang dari sudut pandang from zero to hero. Dan, pengarang berhasil menggiring pembaca ke sudut itu. Kota Batu yang kecil, dimana semua orang di kaki Gunung Panderman mengenal satu sama lain, sebuah kota yang berhasil menjinakkan ruang dan waktu, surga sekaligus tempat yang siap menjerat siapapun dalam lubang kemiskinan. Pengarang agaknya berupaya mentransformasi tiap kesedihan dan seluruh jejak-jejak duka nestapa kemiskinan pada jarak yang kuat antara Iwan kecil, Iwan remaja dengan Iwan seorang direktur sebuah perusahaan di New York, Amerika.

Membaca 9S10A seakan ikut merasakan beban yang telah lama mengendap, kemudian dengan penuh kerelaan melepasnya untuk lahir menjadi kehidupan baru, tatanan baru. Menyingkap detil-detil psikologis, tegangan-tegangan kepribadian dengan situasi sosial, bukanlah perkara mudah. Masa lalu yang kelam bukanlah hal yang patut untuk disimpan, namun nyatanya sulit mengenyahkannya. Pada titik itu, kejujuran menjadi modal utama bagi tiap pengarang fiksi yang memilih fakta pengalaman hidup sebagai basis cerita.

Nampaknya khalayak pembaca saat ini masih gandrung dengan kisah-kisah berlatar sosial-ekonomi marjinal, berbalut semangat meraih kesetaraan dan perbaikan kualitas hidup melalui pendidikan. Cerita semacam “Laskar Pelangi” yang sukses di pasar telah mendorong para pengarang muda untuk terus mengembangkan cerita-cerita fiksi semacam itu. Lompatan kelas ekonomi dari miskin menjadi kaya, perubahan status sosial dari orang biasa menjadi idola, tertuang sebagai gagasan yang klop dengan permintaan pasar yang selalu haus sosok-sosok ideal manusia, pahlawan.

Pengarang-pengarang cerita fiksi semacam 9S10A nampak tak melewatkan kesempatan memberikan teladan hidup pada khalayak melalui pengalaman-pengalaman pribadi. Di saat yang sama ratusan pengarang lainnya juga melakukan hal yang serupa. Kira-kira jika publik dipenuhi novel-novel best seller semacam ini, maka seharusnya berbanding lurus dengan sikap seseorang dalam realitas sosialnya. Mungkin itu hanya teori. Faktanya, jumlah pembaca di Indonesia masih rendah. Pasar potensial masih bercokol di level menengah atas. Tak heran jika cerita-cerita fiksi itu menjadi teladan kelas menengah.

Dugaan ini mungkin tak sepenuhnya benar, karena kreativitas anak muda memang tak bisa diprediksi. Sebuah anti virus perangkat lunak bisa lahir dari tangan mungil bocah sekolah menengah pertama. Mungkin ia terlalu banyak membaca komik manga, atau membaca 9S10A. Tapi, kita juga tak pernah tahu bagaimana seorang anak bisa secerdas itu. Dan, teladan tetap dibutuhkan, siapapun orangnya dan darimanapun asalnya. Tabik. []