Tags

, , , , , , , , , , , , , , ,


Terkadang para Antropolog mampu menyihir pembaca dengan pengungkapannya yang “realistik” tentang kehidupan masyarakat yang unik dan memang terkesan apa adanya.

Ini terjadi karena mereka tidak hanya terpaku dengan persoalan biografis dan historis, tapi juga kesastraan.

Yang terakhir ini jarang diperhatikan dalam Antropologi, tetapi tidak di buku ini.

Tiga kalimat itu kutemui di sampul belakang buku berjudul “Hayat dan Karya, Antropologi sebagai Penulis dan Pengarang” (2002), karya seorang Antropolog kondang Clifford Geertz. Sebuah buku terjemahan. Sengaja kukutip tiga kalimat itu untuk memeriksa isi buku, apakah sesuai dengan “iklannya” atau tidak.

Antropologi konvensional memang mengemban amanat mendeskripsikan sebuah masyarakat yang dianggap unik, aneh, bahkan yang dianggap belum beradab. Semua disajikan melalui informasi Etnografis yang terkesan apa adanya. Foto, sketsa, gambaran-gambaran literal Etnografer seringkali membantu memudahkan pembaca membayangkan situasi “yang ada di sana” secara visual.

Pada proses kerja lapangan seorang Etnografer menggambarkan situasi “yang ada di sana” dengan beberapa model pendekatan yang telah teruji dalam wawasan Antropologi. “Berada di sana” menjadi syarat pertama bagi seorang Etnografer untuk menyajikan informasi sebuah suku pedalaman, masyarakat adat yang terisolasi dengan dunia luar. Penghadiran subjek “Aku” sebagai sentral dalam karya Etnografi menjadi salah satu ciri penerapan tulisan yang menggambarkan bahwa seorang Etnografer menaati syarat “berada di sana”. Subjek “Aku” juga menandai adanya interaksi antara pengamat dan objek yang diamati beserta seluruh proses aktivitas kerja lapangan.

Model pendekatan “aku-saksi-mata” atau I-witnessing juga kerap mewarnai narasi sebuah laporan Etnografi. Model penulisan “aku-saksi-mata” adalah sudut netral dari seorang peneliti Antropologi, yang berupaya sebisa mungkin memindah realitas lapangan ke dalam narasi. Akhirnya, model deskriptif dengan pendekatan I-witnessing, tak mampu menghindari penggunaan metafora, kiasan, ataupun majas di dalam tiap laporan Etnografinya.

Nah, pada titik deskriptif itu, kerja-kerja lapangan seorang Antropolog atau Etnografer sebenarnya telah bersinggungan dengan gagasan kepengarangan dalam tradisi sastra. Dalam tradisi Strukturalis, ada semacam dikotomi di dalam sebuah narasi antara gagasan pengarang (author) dan penulis (writter). Dikotomi ini lebih disebabkan adanya anasir pengelompokan kerja antara para intelektual kafetaria dan para intelektual yang sarat akan kerja-kerja ziarah. Dikotomi antara mereka yang bekerja di laboratorium, perpustakaan, bergelut dengan buku-buku dan tersegmentasi dari dunia luar, dengan para intelektual lapangan yang menjadi bagian sebuah peradaban yang hilang, asing, dan tak terjamah.

Menurut beberapa pakar Linguistik Posmoderen, perbedaan antara kepengarangan dan penulisan ada pada mekanisme fungsional dan makna praksis bagi keduanya. Sosok pengarang mengasosiasikan sebuah fungsi tertentu, sedangkan penulis merupakan sebuah aktivitas yang memiliki praksis di luar teks itu sendiri. Jika model penulisan laporan atau kerja lapangan Etnografi mengambil bentuk sastra dan gagasan kepengarangan di baliknya, maka mencairlah dikotomi pengarang dan penulis pada tradisi Strukturalis.

Satu persoalan selesai. Melelehnya dikotomi ketat gagasan pengarang dan penulis memungkinkan sebuah laporan Etnografi menjadi sebuah karya sastra yang tak anti kritik. Namun persoalan lain menunggu pledoi Ilmu Antropologi di pinggir peradaban moderen.

Menurut Geertz, tugas Antropologi sebagai pengangkut material dari “dunia lain” ke peradaban Barat telah usai sejak 1920an. Setelah itu, periode kolonial menyambung kembali kebutuhan ber-Antropologi demi meneliti, mengamati, memilah, menggolongkan, kemudian perlahan-lahan menjinakkan perlawanan masyarakat pribumi di negeri jajahan. Namun setelah abad-abad Kolonialisme berakhir, dan wajah Imperialisme tak lagi menyerupai monster, sementara “dunia lain” yang menjadi objek kajian Antropologi secara bertahap bertransformasi menyerupai institusi-institusi moderen, maka ke manakah gagasan kepengarangan dalam penjelasan-penjelasan serta kaidah-kaidah Etnografi hendak ditujukan?

Etnografi Pascakolonial tak lagi menyerupai jembatan penyebrangan bagi para peziarah dan pengelana yang hendak menilik sisa-sisa peradaban kuno di Asia, Afrika, dan negara-negara berkembang lainnya. Kemajuan teknologi dan sains tak lagi membedakan secara artifisial antara mereka “yang disana” dan “yang di sini”. Untuk itu, Geertz di akhir penjelasan kebutuhan ber-Antropolgi menekankan:

Yang perlu dilakukan ialah memperluas kemungkinan perbincangan, wacana, yang jernih antara orang-orang yang sangat berbeda minat dan kepentingannya, wawasannya, kekayaannya, dan kekuasaannya, tapi toh terkurung di suatu dunia yang sama, di mana, karena diceburkan begitu rupa ke dalam perkaitan tanpa akhir mereka makin sulit saling hindar dan tak saling pergok di jalan.”(hal.162-163).

Ya, Geertz sangat sadar bahwa Etnografi tak bisa bertahan sebagai metode bila hanya mengkaji sebuah landskap masyarakat secara artifisial. Ia menyadari aspek kognitif, partikularitas, dan skema-skema gagasan masyarakat sebagai kajian Etnografi. Dengan demikian penjelasan Etnografi tak hanya bersembunyi di balik retorika kepengarangan kesastraan, namun lebih mendekat ke praktik pemaknaan subjektivitas dan aspek-aspek kekuasaan.

Kembali ke tiga kalimat iklan di belakang sampul buku ini. Sebenarnya bukan Antropolog yang jago memainkan tata bahasa menyerupai nilai sastra yang menyihir pembaca. Bukan pula persoalan biografis dan historis masyarakat yang mengundang decak kagum. Buku ini disusun bukan sekadar melirik kepengarangan dari sudut Etnografi, tapi menyerupai penjelasan final, alasan para Antropolog mesti menghidupi bidangnya demi menemukan praksis pada tiap-tiap rumusan Antropologi dan retorika-retorika Etnografi.

Keniscayaan bahwa Antropologi sebagai pengetahuan dan Etnografi sebagai metode harus dibebaskan dalam format konvensional – telah memunculkan metode penulisan Etnosains– salah satunya adalah Etnografi kognitif atau biasa disebut Etnografi Baru. Sebuah metode yang beroposisi dengan Etnografi Moderen yang masih bersikeras mengarahkan kajian Etnografi pada upaya generalisasi, penyusunan kaidah umum tentang masyarakat. Metode Etnografi kognitif menekankan pada pengalaman masyarakat mengorganisasi budaya sebagai sebuah sistem tertentu. Lokus budaya tak lagi terpaku pada batasan geografis sebuah masyarakat, tetapi budaya ada di dalam pikiran manusia yang berbentuk organisasi pikiran tentang fenomena material. Etnografi kognitif berfungsi menemukan dan menggambarkan organisasi pikiran itu.

Pendapat itu dikuatkan oleh James P. Spradley dalam “Metode Etnografi” (1997), bahwa mendefinisikan proses budaya sebagai sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses belajar, yang mereka gunakan untuk mengintepretasikan dunia sekeliling mereka, dan sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekeliling mereka (hal. xiv). Penemuan kategori (Emik) oleh masyarakat itu sendiri menjadi kunci untuk memahami bagaimana sebuah masyarakat mengorganisasikan budaya di dalam pengalamannya. Sedangkan penetapan kategori-kategori dari seorang peneliti (Etik), berfungsi membandingkan praktik-praktik lintas budaya.

Selanjutnya Spreadley lebih banyak membahas tentang teknik wawancara Etnografi dengan pendekatan Etnosemantik dan analisis data sebagai dasar penulisan Etnografis. Belajar Etnografi melalui menulis, menggunakan panduan “Developmental Research Sequence”, sebuah proses penelitian yang mencakup identifikasi tugas, maju bertahap, penelitian orisinal, dan problem solving. Spreadley sengaja menyajikan buku “Metode Etnografi” dalam format teknis panduan cara melakukan Etnografi selangkah demi selangkah, karena ia tak berpretensi meninjau segenap bangunan teoretis tentang kebudayaan. Dengan metode Etnografi baru, Spreadly berharap orientasi ilmu untuk ilmu harus mulai ditinggalkan, karena ilmu memiliki sisi lain: kegunaan praktis menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. [] Franditya Utomo.