Tags

, , , , , , , ,


Untuk waktu yang sangat lama, beratus-ratus abad lalu, sejarah umat manusia bermula. Selama itu, manusia sebagai organisme hidup memiliki sumber biosfer yang sama. Pada proses peradaban manusia hidup bersuku-suku, memisahkan diri sebagai golongan, sampai melahirkan sistem nilai: yang baik, yang buruk, yang putih, yang hitam. Nampaknya cikal bakal jati diri, entitas kolektif itu beranjak diretas.

Sejak saat itu, perbedaan antarmanusia, antar golongan, antarsuku, antarbudaya menjadi keniscayaan hidup. Setelah sistem religi berhasil melahirkan gagasan-gagasan agama formal, maka entitas lembaga agama dan tradisi nampak bertalian kuat membentuk identitas masyarakat. “Bertalian kuat” memiliki asosiasi fungsional dengan “terus-menerus membayangkan” citra agama dan budaya sebagai pondasi tatanan sosial, ekonomi, dan politik sebuah komunitas masyarakat.

Benedict Anderson dalam “Imagined Communities”(2001) atau “Komunitas-Komunitas Terbayang”, mencoba menelusuri asal-usul bangsa dalam narasi sejarah peradaban Eropa mulai abad ke-15. Menurutnya, kebangkitan kapitalisme cetak yang dipicu oleh gerakan reformasi gereja, telah menumbuhkan sebuah komunitas masyarakat Eropa baru. Jika sebelumnya bahasa Latin nyaris memonopoli pengetahuan dan peradaban, setelah kitab suci berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, maka semakin teranglah jalan pencarian identitas kebangsaan itu.

Semangat menafsirkan ayat-ayat suci, berjalan paralel dengan semangat kebangsaan yang tak lagi bertumpu pada sifat-sifat religi dan ortodoksi gereja. Sekularisme muncul mengatasi jurang pengetahuan dan keyakinan agama. Di sisi lain bahasa menjadi semacam pintu masuk menjalin ikatan imajiner antarkomunitas.

Kapitalisme cetak, bahasa-bahasa tutur, bahasa ibu dari berbagai macam suku, klan, dan komunitas bermuara pada penyebutan imajinatif tentang sebuah bangsa. Selanjutnya, nasionalisme Eropa muncul dengan model-model baru, melahirkan semangat Imperialisme. Pada titik itulah Eurosentrisme kadang muncul mengklaim melahirkan gagasan nasionalisme negara-negara berkembang. Padahal cikal bakal nasionalisme negara-negara pascakolonial khususnya Indonesia, menurut Anderson, sangatlah berbeda dengan awal tumbuhnya nasionalisme di Eropa.

Nasionalisme negara-negara berkembang merupakan jawaban politis dari semangat Imperialisme Eropa sampai akhir perang dunia kedua. Sebuah jawaban politis yang memiliki gagasan tentang bangsa yang diimajinasikan sebagai kesatuan yang utuh, mampu meraih kemerdekaan karena keuntungan-keuntungan revolusioner. Revolusi Bolshevik menjadi model imajinasi yang paling konkrit dan nyata tentang sebuah proses pembentukan kesatuan kolektif masyarakat: Uni Soviet. Meski kesuksesannya tak bisa dipukul rata bisa diterapkan di wilayah kebangsaan lain, tetap saja Internasionale diterima sebagai contoh bayangan visual terbaik sebuah proses revolusi.

Proses pertumbuhan nasionalisme negara jajahan di Asia Tenggara, menurut Anderson, memiliki kesadaran yang dibentuk oleh format dan lembaga-lembaga kolonial. Pendapat tersebut mengartikan bahwa tanpa kolonialisme, tak mungkin ada nasionalisme di negara jajahan. Hal ini yang membedakan transformasi imajinatif gambaran kebangsaan yang muncul di Eropa pada abad 15 dan di Asia Tenggara pada pertengahan sampai akhir abad 19. Ada anasir keterlambatan konsolidasi kebangsaan di negara-negara yang menjadi wilayah jajahan.

Pelacakan Anderson sampai pada keterangan final tentang proses pembayangan sebuah bangsa, baik yang lahir dari kebangkitan kapitalisme cetak, Sekularisme, maupun Kolonialisme, ada pada dokumen berupa cacah jiwa atau sensus penduduk, peta, dan museum.

Setelah berhasil memodelkan bayangan, kemudian mengaplikasikan bentuk harapan-harapan, dan cita-cita bangsa dalam konstitusi, mulailah bangsa itu berproses mengategorikan anggota masyarakatnya. Kategori yang menurut Anderson, kurang toleran dengan nilai-nilai kemajemukan. Kategori yang suka dengan pengelompokan “yang lain” sebagai kelompok minoritas. Selain itu sistem kategori juga menandakan strata dan kelas sosial, bahkan merepresentasikan kecenderungan ras tertentu.

Ilmu geografi juga memberi sumbangsih tak kalah hebat dalam proses imajinatif bangsa. Ukuran, tata letak, besaran sumber daya, sangat ditentukan kemampuan grafis, kemudian ilmu kartografi dalam melukis wajah bangsa. Sumber-sumber peta dan cacah jiwa sangat menentukan nasib sebuah bangsa bisa diakui di mata internasional.

Proyek pembayangan Anderson berakhir pada situs sejarah peradaban bangsa yang dilokalisasikan dalam format museum. Museum menjadi titik akhir perjalanan pembayangan bangsa, sebuah kaca sejarah yang mengikat kehadiran sebuah bangsa dengan masa lalunya. Sebuah bangsa yang hakikatnya kumpulan individu-individu yang memiliki sejarahnya sendiri, bersama-sama membayangkan kesamaan-kesamaan dan perbedaan-perbedaan secara terus menerus. Sebuah proses pembayangan peradaban yang tiada akhir. []