Tags

, , , , , , , , , , , , , ,


Berat. Satu kata yang bisa saya ekspresikan saat membaca karya Joseph Margolis, “Pengantar ke Dalam Problem-Problem Filsafat” (2012). Agaknya buku ini memang diperuntukkan bagi mereka para filsuf, mahasiswa filsafat, atau para pembaca tingkat lanjut yang mendalami perkembangan pemikiran aliran-aliran filsafat, khususnya filsafat Barat. Wajar jika mereka yang awam filsafat, termasuk saya, akan megap-megap dan mumet saat mencoba membaca satu-dua paragraf buku ini.

Padahal di sampul belakang buku menjelaskan secara singkat bahwa buku ini bisa dibaca siapapun tanpa memerlukan syarat tertentu. Karena masih dalam segel plastik, tak boleh dibuka sebelum dibeli, dengan tulisan di sampul belakang “tulisannya mudah dipahami oleh pembaca umum”, maka mereka yang hendak membaca pasti mengira buku dikemas secara populer dengan bahasa yang mampu dicerna orang biasa. Saya sempat tertawa sendiri jika ingat ungkapan “jangan beli buku karena sampulnya”. Tapi tak mengapa, setidaknya buku ini bisa membuat saya tersenyum.

Intinya tak ada masalah. Saya pun tak menyesal telah membeli buku yang demikian rumit untuk dicerna. Bahkan merasa tertantang untuk membacanya sekali lagi, dan lagi. Sejauh ini baru satu bab dan beberapa percik pemahaman yang berhasil saya mengerti secara sederhana.

Menurut seorang teman yang pernah belajar filsafat di Yogyakarta, buku ini berada satu tingkat sebelum menuju pelajaran filsafat. Namun penilaian itu tentu tak serta-merta saya sepakati. Karena buku berbahasa Indonesia ini nampaknya ingin menyoal teori-teori asal-usul, teori sebab-akibat, teori-teori tentang persepsi dan analisis tentang pengetahuan yang biasa digunakan dalam sebuah prosedur filsafat. Tentunya prosedur filsafat tradisi Barat yang mengutamakan rasionalitas. Dengan kata lain buku pengantar ke dalam problem filsafat ini adalah sebuah cara pandang kritis terhadap prosedur-prosedur berpikir filsafat Barat.

Prosedur berpikir ini yang mendapat porsi paling banyak dalam tuturan penulis sedari awal sampai akhir. Bahkan, dalam pengantar dijelaskan bahwa penulis menjamin jika tak ada nama-nama filsuf besar beserta gagasannya dalam tiap bab dan pembahasan. Penulis buku ingin para pembaca memahami akar masalah dalam prosedur berpikir filsafat, bukan sekadar konsep atau gagasan seorang filsuf tentang sebuah hal. Mungkin ia melakukan itu untuk memastikan bahwa karya yang ia buat bukanlah sekadar karya kreatif, namun sebuah karya filosofis.

Margolis ingin menyajikan sebuah pengantar ke dalam masalah filsafat, dimana tradisi Filsafat Barat yang mengandalkan rasio itu telah diterima sebagai kebenaran dan menjadi justifikasi bagi ilmu pengetahuan. Misalnya, persoalan mengenai hubungan antara pengetahuan dan kepercayaan, ia melihat betapa rasionalitas selama ini telah berhasil membuat prosedur berpikir filsafat tentang pengetahuan menjadi sebuah entitas moral yang terhubung secara asimetris.

Serangkaian prosedur filsafat tentang pengetahuan nampaknya mensyaratkan adanya kebenaran di dalamnya. Soal kebenaran dan “ada” menjadi sifat asal-usul pengetahuan. Tanpa unsur “ada” dan “benar ada” maka pengetahuan itu setidaknya memiliki asal-usul persepsi yang dipengaruhi sense-datum, panca indra, yang mampu mengklarifikasi dan membedakan sesuatu hal sebagai fiktif atau sekadar sensasi. Asal-usul sebuah pengetahuan jelas menjadi variabel yang sangat tergantung dengan adanya kebenaran.

Namun tidak demikian dengan kepercayaan. Asal-usul kepercayaan, menurut Margolis, adalah sebuah situasi psikologis yang tak membutuhkan adanya kebenaran ataupun mensyaratkan “ada” dan “benar ada”. Sebuah kepercayaan tak pernah sekalipun tergantung dengan panca indra, ataupun membutuhkan klarifikasi tentang yang fiktif dan yang nyata.

Hubungan asimetris antara pengetahuan dan kepercayaan terjadi ketika pengetahuan ternyata selalu membutuhkan kepercayaan untuk melakukan justifikasi kebenaran tentang adanya asal-usul sebuah pengetahuan. Akhirnya, pengetahuan tak bisa terlepas dari suatu kepercayaan, meski kebenarannya bersifat relatif.

Sebenarnya sejak kapan terjadi hubungan yang asimetris itu? Apa dampak dari hubungan asimetris terhadap pengetahuan dan kepercayaan?

Agaknya itu bukan jenis pertanyaan yang bisa segera dijawab. Karena penulis buku filsafat ini masuk dalam sebuah penjelasan tentang teori persepsi kemudian berupaya melihat bagaimana rasionalitas telah mengubah pengetahuan dan kepercayaan sebagai sebuah sikap moral. Sikap moral jika ditelusuri berasal dari situasi psikologis yang dimaksud di awal. Dampaknya, rasionalitas Filsafat Barat telah mengupayakan sebuah instrumen rasional yang memungkinkan bagi pengetahuan dan kepercayaan memiliki kebenarannya sendiri. Sebuah kebenaran yang bisa jadi tak memerlukan kualifikasi Ontologis ataupun klarifikasi sense-datum. Sebuah kebenaran yang berada di luar jangkauan “ada” dan “nyata” itu sendiri.

Saya memberanikan diri menyebut jenis kebenaran itu sebagai kebenaran ideologis. Margolis pun menolak keserta-mertaan situasi ideologis itu. Sebuah sikap moral yang menjadi ideologi dari praktik berpikir, dan menjadi basis tiap-tiap teori tentang pengetahuan dan kepercayaan. Bentuk kengerian dari situasi ideologis itu misalnya, jangan-jangan selama ini, pemahaman kita mengenai realitas dunia hanya berdasarkan sebuah keyakinan ideologis yang kita sebut sebagai ilmu pengetahuan, sains, dan sumber-sumber ilmiah.

Nampaknya bukan hanya Margolis yang berhasil mengganggu kemapanan rasionalitas dan prosedur berpikir filsafat Barat. Karya klasik Jurgen Habermas, Knowledge and Human Interest (1971) berupaya mengungkap kepentingan pengetahuan melalui sebuah kritik epistemologi Positivisme. Habermas mengemukakan sebuah tesis “kepentingan membentuk pengetahuan”, bagaimana nalar Positivisme masyarakat rasional Barat telah menjadi ideologis dalam seluruh praktik kehidupan. Singkatnya, karya Habermas itu adalah sebuah bentuk kritik ideologi sebuah tatanan masyarakat moderen.

Untuk itu ia menawarkan sebuah rekonstruksi bertahap terhadap proses rasionalisasi yang telah berjalan secara ideologis. Rekonstruksi itu meliputi perubahan pada standar normatif (rasionalisasi komunikatif/rekonstruksi teori kritis) tentang persoalan asal-usul, korelasi, psikologi perkembangan, evolusi sosial, sejarah ide, susunan politik masyarakat moderen, serta permasalahan moderenitas.

Salah satu standar normatif yang hendak direkonstruksi adalah persoalan asal-usul, sama seperti yang dikemukakan Margolis. Nampaknya secara kebetulan, kita telah memasuki sebuah proposal besar dari proyek kritik peradaban moderen yang melibatkan banyak material.

Menapaki aras masalah berpikir dalam filsafat menjadi penting ketika menyadari bahwa kita, manusia-manusia subjek selalu mencoba menghubungkan keterkaitan antara alam pikir dan tubuh materi. Penting ketika menyadari bahwa pergerakan kita sehari-hari tidaklah otomatis, meminjam istilah Margolis, “informal”, namun selalu haus akan nilai dan spontanitas. Sekali kita berhenti mencari kaitan antara pikiran dan tubuh yang membentuk subjek, subjektivitas, maka tak salah jika ada yang mengatakan jika kita manusia hanyalah bentukan struktur, dan terlahir sebagai ras turunan belaka.

Sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah yang terkandung dalam cara berpikir Filsafat Barat yang hendak disampaikan Margolis. Misalnya soal persepsi dan sensasi, keraguan dan kepastian, eksistensi dan kenyataan, identitas dan individuasi, tindakan dan peristiwa, bahasa dan kebenaran, serta soal kenyataan dan nilai.

Joseph Zalman Margolis adalah seorang profesor filsafat di Laura H Carnell Temple University, Philadelphia. Minat utamanya pada filsafat ilmu-ilmu manusia, teori pengetahuan dan interpretasi, estetika, filsafat pikiran, filsafat Amerika, dan pragmatisme.

Agaknya membutuhkan satu pembahasan khusus mengenai tesis-tesis Margolis, misalnya dalam sebuah kajian kritik Filsafat Barat atau kritik teori asal-usul. Mungkin membutuhkan ruang yang agak serius -mungkin sangat serius- untuk menganalisis anasir-anasir Margolis tentang permasalahan pokok dalam Filsafat Barat. Bahkan mungkin membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran filsuf lain yang memiliki kesamaan untuk memperluas dan memperdalam kerangka analisisnya.

Nampaknya hal itu menjadi pekerjaan yang cukup besar dan rumit. Tapi bukan berarti tak bisa dilakukan. Sampai saat ini, hanya filsafat yang mampu berdiri di luar eksistensi pengetahuan dan menjadi sumber yang berlimpah bagi perbaikan kehidupan manusia. Tertarik? [] Franditya Utomo.