Tags

, , , , , , , , ,


Tergelitik juga saat membaca liputan khusus Majalah Tempo edisi 14-20 November 2011, tentang kisah peneliti asing, atau lebih sering dikenal sebagai Indonesianis dalam sejarah Indonesia. Rasa tergelitik pertama muncul bahwa sebagai generasi muda, mungkin pengetahuanku tentang sejarah bangsa ini tak lebih baik dari para peneliti Barat. Setidaknya, sampai saat ini penelitian mereka tentang Indonesia sudah berada pada generasi ke empat. Artinya, sejarah Indonesia yang mereka cerna sebagai bagian dari ilmu pengetahuan telah mengalami empat masa kritik dan revisi baik metode ataupun hipotesis.

Kedua, hubungan politik internasional nampaknya menjadi salah satu motivasi yang paling determinan – tentu tanpa mengurangi rasa hormat atas kesetiaan dan loyalitas peneliti Barat yang benar-benar jatuh cinta kepada Nusantara. Kebutuhan negara seperti Amerika dan beberapa negara di Eropa mengirimkan para peneliti dan kalangan kampus semasa perang dingin, ingin mengetahui kecenderungan haluan politik Indonesia: Sosialis atau Kapitalis. Tak heran jika generasi pertama dan kedua para Indonesianis ini lebih meletakkan sendi-sendi analisis dan teropongnya kepada hubungan antara negara dan masyarakat beserta gejala suprastruktur seperti idelogi, politik, dan konsolidasi kelompok elit.

Era Suharto menjadi puncak kejayaan Indonesianis. Saat itu bantuan dana penelitian dari negara asal masih relatif besar. Pusat-pusat kajian Asia Tenggara di berbagai negara seperti Australia, Amerika, dan Belanda menerbitkan bermacam laporan penelitian dan jurnal ilmiah tentang Indonesia. Bahkan beberapa buku yang telah ada sebelumnya seperti karya Clifford Geertz “The Religion of Java” atau Ruth T. McVey “The Raise of Indonesian Communism”, menjadi bacaan wajib bagi siapapun yang ingin meraba Indonesia.

Sayangnya, waktu itu beberapa karya Indonesianis dilarang beredar karena isinya dianggap subversif. Semakin dilarang, semakin mengundang perhatian. Peneliti Barat menganggap Indonesia sebagai misteri.

Namun anggapan kemisteriusan Indonesia berakhir ketika gong reformasi ditabuh. Lengsernya Suharto dari pimpinan tertinggi negara telah memudarkan pamor kemesteriusan itu. Rejim ekonomi global berhasil mengoyak pertahanan moneter negara, dan menyeretnya ke jurang krisis. Para peneliti asing pun beringsut menjauh dari sosok “negara”, berpindah melihat sisi-sisi pinggiran sebagai narasi penting. Kajian tentang kehidupan urban, perempuan, dan sejarah orang-orang biasa, menjadi tema menarik pasca Orde Baru.

Namun bukan menjadi besar, kajian tentang Indonesia kian mengerut. Pusat-pusat studi Asia Tenggara di berbagai negara terancam tutup. Pemerintah setempat menganggap cerita tentang Indonesia –segenap eksotika dan kemisteriusannya– telah berakhir. Bahkan beberapa peneliti muda asal Amerika berpendapat bahwa negaranya tak lagi menganggap penting kajian tentang Indonesia. Hal yang sama terjadi di negara-negara di Eropa, termasuk Belanda.

Namun tidak demikian dengan Cina, mereka sampai saat ini masih teguh membaca evolusi sosial nusantara. Bahkan saat pemerintah Orde Baru memutuskan hubungan dengan segala yang berbau Cina atau Komunisme, Pemerintah Cina tak bergeming dan terus memperdalam kajian Indonesia.

Menurunnya tren penelitian tentang Indonesia oleh akademisi Barat, disebabkan agenda pergantian rejim yang menuntut kebebasan demokrasi telah tercapai. Negara sudah tak lagi menampakkan wajah Leviathan, monster. Selain itu teori-teori yang coba dibangun para Indonesianis untuk memetakan Indonesia, terjebak pada struktur teori itu sendiri yang tak bisa melepaskan diri dari jeratan generalisasi. Untuk itu “PR” generasi muda Indonesianis adalah melakukan revisi teoretis para pendahulunya.

Waktu terus bergulir, tanpa terasa sarjana Indonesia lulusan universitas-universitas di Amerika dan Eropa mulai muncul, beberapa diantaranya menempati posisi strategis di pemerintahan. Indonesianis bisa jadi memiliki segudang teori cantik dan hipotesis aduhai soal nusantara, namun eksekusi dan praktik berada di tangan orang-orang Indonesia sendiri. Pertanyaannya, apakah sarjana-sarjana lulusan luar negeri itu memraktikkan teori para Indonesianis, notabene para mahagurunya? Hal ini penting untuk melihat kaitan kebijakan strategis pemerintah yang nyatanya tak terlalu berpihak pada rakyat.

Memang tak bisa ditampik soal anasir tentang fungsi ke-agen-an Indonesianis semasa perang dingin. Dan sah-sah saja jika mereka jatuh cinta, berpihak pada nasib Indonesia atau justru sebaliknya. Namun yang lebih bermakna dari keberadaan mereka selama ini, bahwa kita perlu segera; (1) membaca dan merumuskan kekuasaan, (2) menentukan nasib diri sendiri, (3) menggunakan segenap potensi yang ada untuk perubahan. Jika para peneliti asing itu bisa mencintai nusantara –mungkin berpihak pada rakyat– kenapa kita tidak? []