Tags

, , , , , , , , , , , , ,


Mungkin bagi negeri tropis seperti Indonesia yang hanya mengenal dua musim, kemarau dan hujan, kurang bisa merasakan pengalaman musim semi seperti di negara-negara Eropa dan Amerika. Daun-daun mulai tumbuh, kuncup-kuncup bunga mulai mekar, dan kicauan burung menandai berakhirnya musim dingin. Sebuah dunia baru di awal musim semi. Namun apa jadinya jika petanda musim semi tiba-tiba hilang? Ya, suara-suara indah dari paruh-paruh kecil burung Robin, tiba-tiba bungkam entah ke mana, meninggalkan kesunyian semata.

Potret muram itu sengaja diambil Rachel Carson dalam “Silent Spring” (1962), sebagai kajian kritis tentang krisis ekologi di era 50an. Sebuah protes keras tentang penggunaan DDT secara membabi-buta, dan racun kimia pemusnah hama yang ikut mematikan spesies lain, termasuk kemungkinan perusakan genetik pada manusia. Buku itu kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “Musim Bunga yang Bisu” (1990), atas prakarsa Program Nasional Pengendalian Hama Tanaman (PHT). Sebuah program pertanian ekologis yang mencoba meniti jalan baru, keluar dari rejim suci hama, menjauhkan alat-alat penyemprot sedini mungkin sembari menggantikannya dengan pendekatan-pendekatan agroekosistem.

Industri pertanian di Amerika dan Eropa nampaknya tak bisa mengelak dari upaya intensifikasi pertanian. Hal itu menjadi alasan munculnya ledakan hama, seperti halnya di Indonesia saat diserang hama Wereng pada 1984. Pengendalian hama secara kimiawi dipilih atas pertimbangan harga yang lebih murah dan efisien. Manusia telah didesak sedemikian untuk mengorbankan tugas membajak dan menyiangi tanaman, menggantikannya dengan alat-alat penyemprot kimia.

Warisan perang dunia kedua berupa DDT (dichloro-diphenil-trichloro-ethane) dan pesawat terbang, nampaknya menjadi dua hal yang mengawali pemusnahan massal spesies tertentu sampai akhir 1950an. DDT awalnya dipergunakan dalam bentuk serbuk oleh ribuan tentara dan pengungsi sebagai penghalau sejenis kutu (caplak). Sang penemu, Paul Mueller dari Swiss, diganjar hadiah Nobel setelah DDT diketahui khasiatnya sebagai insektisida, membasmi penyakit tanaman pangan yang disebabkan oleh serangga pada 1939. Namun DDT bukan sejenis sabun colek yang setelah dipakai, tangan dibilas dan busa pun hilang. DDT bersemayam ditubuh manusia dan organisme lainnya sampai akhir hayat, tanpa pernah terurai dengan sempurna. Pesawat terbang selain dipergunakan sebagai alat transportasi, terbukti sangat efektif mengemban misi penyemprotan pestisida ke ribuan hektar lahan pertanian dan perkebunan industri untuk disucihamakan.

Penggunaan pestisida, insektisida, dan senyawa racun kimiawi nampaknya tak memilih sasaran tunggal, memberantas serangga atau gulma tertentu saja. Pestisida juga ikut memusnahkan makhluk lain, spesies penyeimbang ekosistem baik predator alamiah, satwa liar, ataupun sejenis mamalia. Racun kimiawi itu lebih tepat disebut sebagai biosida. Pemusnahan sejenis semak atau gulma di Amerika bagian Timur, ikut menghilangkan beberapa spesies burung dan mamalia kecil yang hidup dari tanaman pinggir jalan itu. Sebenarnya gulma bukannya tak berguna, ia memiliki fungsi sebagai indikator keadaan tanah. Di Belanda, sejenis tanaman gulma, manigold, secara efektif berhasil menangkal serbuan cacing nematoda pada bunga mawar.

Sistem pertanian industri nampaknya telah meninggalkan tradisi tanam yang buruk, petani terbiasa mencampur benih dengan DDT sebelum ditabur. Penggunaan DDT pada benih diharapkan mampu mematikan hama yang ada dalam tanah. Di daerah Kalifornia, DDT diberikan untuk menangkal sejenis kecebong dan kumbang pemakan bangkai. Namun lagi-lagi DDT tak hanya membunuh hama, namun menyebabkan musnahnya burung dan unggas liar. Selain itu penyemprotan DDT pada pohon elm di musim gugur, untuk mengatasi serangan sejenis cendawan telah turut mematikan berbagai jenis burung di musim semi. Di selatan India, petani jagung menggunakan parathion, racun senyawa kimia, untuk memberantas hama sejenis burung hitam. Hasilnya sekitar 65 ribu burung hitam dan jenis jalak musnah tanpa jejak. Sebenarnya kunci pengendalian komunitas tanaman dan hewan adalah dengan mempertahankan keanekaragaman. Penanaman satu jenis spesies pohon di areal yang luas akan mengundang malapetaka.

Penyemprotan DDT di hutan-hutan sepanjang sungai Miramichi pada 1954 sebagai upaya memberantas ulat-ulat pemakan pucuk daun pohon balsam bahan industri kertas, turut membinasakan spesies ikan salem. Tiga tahun penyemprotan dilakukan secara intensif, telah mencemari 15 juta hektar lahan di Kanada. Jenis insektisida di bidang pertanian yang kerap digunakan antara lain, endrin, toxaphene, dieldrin, dan heptaklor. Chlorinated hydrocarbon menjadi bagian terbesar insektisida di zaman moderen.

Sekitar 1950, negara-negara bagian selatan, Alabama bagian utara, ikan-ikan juga terkena dampak dari pembasmian hama tanaman kapas, kumbang penggerek. Racun populer yang dipakai adalah toxaphene. Di saat yang bersamaan, Filipina juga melakukan penyemprotan untuk memberantas hama nyamuk, dan telah mematikan 120 ribu ikan bandeng dalam kolam. Pada 1961, Sungai Colorado hilir Austin, Texas, ikan mati di danau Town sejauh 5 mil dari hilir akibat air beracun. Air tercemar limbah industri kimia, produk utamanya adalah DDT, benzena heksakhloride, chordane toxaphene. Peristiwa itu dikenal sebagai “malapetaka ikan Austin”.

Penyemprotan, satu demi satu terus berlangsung tanpa henti. Para pengambil kebijakan turut mengambil bagian atas dampak yang disebabkan penggunaan DDT. Penyemprotan DDT oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat dan Departemen Pertanian dan Pasar New York pada 1957 untuk mengusir ngengat gypsy dan semut api, telah meracuni seluruh pemukiman.

Pendidikan mengenai penggunaan bahan kimia berbahaya sangat diperlukan. Masyarakat tak boleh menjadi konsumen pasif yang rentan menjadi korban atas ketidaktahuannya. Pengetahuan masyarakat tentang sifat dari bahan kimia yang ditawarkan untuk dijual sangat diperlukan. Konsumen bingung pada deretan insektisida, fungisida, pembasmi gulma, tak tahu mana yang aman dan mana yang mematikan. Banya kemungkinan-kemungkinan lain untuk pembasmian serangga secara efektif, tanpa meninggalkan residu dalam bahan makanan.

Pestisida dalam peta penyakit lingkungan, setidaknya memperhatikan beberapa hal penting tentang betapa senyawa chlorinated hydrocarbon akan terus bersemayam dalam organisme hidup tanpa pernah terurai. Penimbunan chlorinated hydrocarbon bersifat kumulatif, bahan-bahan beracun berada di seluruh jaringan tubuh yang berlemak, terutama organ hati. Jika persediaan lemak digunakan, maka racun akan menyerang dengan cepat. Insektisida ada dua macam, chlorinated hydrocarbon yang merusak organ hati, dan fosfat organik yang langsung merusak sistem syaraf, otak kecil dan korteks motor. Oleh karenanya, gejala keracunan DDT bisa berupa sensasi abnormal berupa rasa nyeri, peradangan, rasa gatal, gemetar, dan sawan. Jelas DDT juga telah memicu infeksi pada organ hati, dan kenaikan tajam penyakit hepatitis dan siorosis akibat meratanya penggunaan insektisida.8 Selain itu pestisida menghambat proses pembelahan sel sampai menimbulkan kemungkinan kerusakan genetik pada manusia.

Tak hanya berhenti pada gejala abnormal pada organ dalam, insektisida dan zat arsenik berpotensi memicu kanker. Arsenikum ada dalam lingkungan tiap orang sebagai pencemar udara, pencemar air, residu pestisida pada bahan makanan, kosmetik, pengawet kayu, bahan pewarna cat dan tinta. Bahan-bahan kimia penyebab kanker berakar dalam kehidupan karena manusia mencari kehidupan yang lebih baik dan lebih mudah. Di samping itu, penjualan dan pembuatan bahan kimia menjadi bagian yang telah diterima oleh ekonomi dan cara hidup.

Penulis berpendapat;
“… bahwa penyakit-penyakit berbahanya dapat dikurangi secara nyata dengan usaha-usaha yang tekun untuk mengenali sebab-sebab lingkungannya dan menyingkirkan atau mengurangi pengaruhnya. Bagi mereka yang terkena kanker meskipun masih belum terlihat atau telah terlihat, usaha-usaha untuk penyembuhannya tentu saja harus dilanjutkan. Tetapi bagi mereka yang belum tersentuh oleh penyakit itu dan tentu saja bagi generasi-generasi yang belum lahir, maka pencegahan mutlak perlu.”

Sebenarnya, pada titik dimana insektisida tak hanya membasmi serangga dan gulma, namun telah menimbulkan dampak buruk pada makhluk hidup lain, termasuk manusia, maka telah terjadi pergeseran isu dari pertanian industri menuju industri medis. Saat ditemukan berbagai gejala gangguan kesehatan dan penyakit akibat penggunaan bahan-bahan kimia dan insektisida, maka pengetahuan medis sangat berkepentingan untuk terus-menerus melakukan analisis dan kajian penanggulangan penyakit pada manusia.

Di sisi lain, penggunaan pestisida secara berkelanjutan dan masif akan menimbulkan efek ketahanan pada hama. Serangga atau hama yang akan dimusnahkan akan menjadi resisten dengan insektisida yang diberikan, tak seketika mati, terus hidup dan kebal. Kemungkinan lain bahwa serangga atau hama yang diberikan pestisida akan mati, namun sebelumnya ia akan bertelur atau melakukan regenerasi beberapa kali lipat daripada sebelumnya. Daya tahan lingkungan dan populasi selalu tetap terkendali oleh jumlah makanan yang tersedia, kondisi cuaca dan iklim, kehadiran spesies penyaing atau predator.

Daya tahan hama paralel dengan kerugian sistem pertanian industrial. Misalnya kerusakan yang diakibatkan kumbang Jepang (Japanese Beetle) di Amerika Serikat kira-kira sampai 10 juta dollar setahun, kerusakan yang ditimbulkan oleh pelubang jagung mencapai 85 juta dollar. Konon 24 spesies parasit pelubang jagung didatangkan dari Eropa dan Asia, namun lambat laun penggunaan parasit alami digantikan bahan kimia.

Penelitian Dr. Pikett di kebun apel lembah Annapolis, Nova Scotia, Kanada selama 35 tahun, merencanakan sebuah program yang memanfaatkan secara maksimum pembasmian hama secara alami dan penggunaan insektisida seminim mungkin. Hasilnya ujicoba cukup mengesankan, petani buah menghasilkan mutu nomor satu seperti halnya menggunakan bahan kimia secara intensif. Menurut Entomolog Kanada G.C. Vilyett, banyak cara yang bisa ditempuh untuk mengelola lingkungan alam dalam membatasi populasi organisme secara lebih ekonomis.

Isu kekebalan hama memang menjadi keprihatinan bidang pertanian dan kehutanan, namun demikian bidang yang lebih merasa prihatin adalah kesehatan masyarakat. Kekebalan hama atas pestisida terjadi setelah satu dasawarsa penggunaan insektisida sintesis. Menjelang 1959, lebih dari 100 spesies serangga utama menunjukkan kekebalan yang pasti terhadap bahan-bahan kimia. Penggunaan pemusnah hama semacam insektisida untuk mengendalikan alam terbukti tak mampu mengarahkan proses-proses alamiah, dan cenderung menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar.

Sebenarnya, ilmu pengetahuan telah menemukan teknologi pemandulan serangga, sejenis kumbang sigaret (cigarette beetles) dengan menggunakan sinar-X sejak 1916. Artinya konsep pembasmian hama secara biologis telah mendahului model pembasmian hama secara kimiawi. Bahkan penemuan tentang getaran suara ultrasonik yang mampu mematikan jentik nyamuk, atau penggunaan sejenis patogen tertentu untuk mengatasi kumbang hama, menjadi pilihan alternatif pembasmian hama. Pembasmian biologis sebenarnya relatif tak mahal, bersifat permanen, dan tak meninggalkan residu beracun, terutama jika mampu memaksimalkan musuh-musuh alami hama. [] Franditya Utomo.