Tags

, , , , , , , , , , , , , ,


Beberapa waktu yang lalu, para pejabat tinggi negara berkumpul bersama di Mahkamah Konstitusi untuk mendiskusikan ulang Pancasila. Menurut mereka, Pancasila masih relevan dan bangsa ini memang harus kembali pada khitah Bhineka Tunggal Ika. Jika dulu Orde Baru menggunakan Pancasila sebagai alat legitimasi negara atas tindakan represif yang melahirkan kekerasan oleh negara, kini, tiga belas tahun setelah reformasi agaknya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mesti dipahami sebagai benih asli dari rahim bangsa ini dan patut mendapat tempat sebagai ideologi.

Para pejabat itu mengakui kegelisahan tentang fenomena kekerasan horizontal yang kerap terjadi. Kekerasan yang mengatasnamakan identitas agama, adat, etnis serta dorongan-dorongan primordial komunitas menjadi pangkal dari tindakan agresif-destruktif yang terjadi secara kolektif dan meluas. Para petinggi negeri berharap dengan mengampanyekan kembali nilai-nilai Pancasila pada lini birokrasi, dan memberikan pendidikan terus-menerus kepada masyarakat, bangsa ini bisa keluar dari keterpurukan dan krisis sosio-kultural.

Kekerasan. Satu kata yang sejak zaman lampau coba dipahami, dimaknai, dikendalikan, dikelola, bahkan dijinakkan. Sindunata dalam buku “Kambing Hitam” (2006) mencoba menelusuri kerangka teoretik kekerasan dari seorang pemikir Prancis, Rene Girard. Penulis mendedahkan konsepsi Girard tentang Mimesis dan Kambing Hitam sebagai upaya memetakan hubungan kekerasan dan masyarakat dalam sejarah umat manusia. Girard berupaya membuktikan bahwa manusia memiliki rivalitas dengan sesamanya dan cenderung terjerumus dalam pola kekerasan yang destruktif, melalui penyelidikan karya-karya sastra, penyelidikan antropologi dan berupaya membongkar agama beserta mitos dan ritusnya.

Mimesis

Pada fase pertama teori Girard tentang hasrat segitiga atau Mimesis, berupa sebuah penelusuran literatur sastra untuk mengetahui hakikat kekerasan yang terkandung di dalamnya, terutama tentang gagasan dan pengalaman-pengalaman kepengarangan soal kekerasan. Girard melihat bahwa setiap hasrat mengandung potensi konflik karena sifat dan watak mimesisnya. Hasrat manusia pada pokoknya tak terarahkan pada sebuah objek yang spesifik. Orang menghasratkan sesuatu, karena orang lain menghasratkan sesuatu. Orang meniru dan hasratnya diarahkan oleh orang lain yang ditirunya (Hal.204-205).

Hasrat segitiga Girard itu sekilas nampak seperti terobosan argumen triadik Psikoanalisis Lacanian pada fase “yang simbolik”. Menurut Lacan melalui realitas simbolik seseorang tak pernah bisa menikmati hasrat tanpa mengafirmasi kenikmatan yang lain. Subjek tak akan bisa menjumpai subjek lain, tanpa melalui simbolisasi. Karena pada hakikatnya, realitas itu dibangun melalui relasi simbol sebagai perwujudan hasrat dari subjek-subjek. Namun pada hasrat segitiga Girard tak merefleksikan otonomi subjek, seperti yang dibayangkan oleh pemikir-pemikir penerus Lacan seperti Slavoj Zizek yang mati-matian mempertahankan kedigdayaan subjek di tengah gempuran kebudayaan.

Teori hasrat segitiga atau Mimesis Girard setidaknya mengandung dua pokok pengertian. Pertama, hasrat manusia tak pernah otonom secara sempurna. Ia mengikuti pola segitiga, tak langsung mengenai pada objek yang dituju. Subjek menghasratkan objek melalui jalan putar lewat mediator. Manusia tak mampu menghasratkan sesuatu, ia selalu menghasratkan sesuati lewat mediator. Kedua, hasrat segitiga menyimpan rivalitas. Mediator yang semula adalah model, berangsur-angsur menjadi rival yang menghalangi hasrat (Hal. 86).

Akhirnya hasrat yang lahir melalui proses Mimesis, tiru-meniru, mau tak mau menyebabkan konflik. Subjek yang menghasratkan sesuatu selalu menghadirkan mediator sebagai bentuk ideal bagaimana menghasrati sebuah objek. Awalnya subjek sangat mengidolakan sang mediator dalam menghasrati objek. Girard menyebut proses itu sebagai bentuk mediasi internal subjek. Contoh yang paling mudah tentang mediasi internal adalah hubungan antara bapak dan anak, bagaimana seorang anak (subjek) begitu menghasrati apa yang dihasratkan oleh sang bapak (mediator). Anak tak memiliki hasrat secara mandiri, bapaklah yang memiliki hasrat atas sebuah objek. Anak akan meneladani apapun yang dihasrati oleh sang bapak.

Namun lambat laun hubungan teladan tersebut bergeser menjadi sebuah hubungan rival karena subjek dan mediator menghasrati objek yang sama. Sementara objek yang sama-sama dihasrati tersebut semakin menghilang seiring meningkatnya hasrat subjek dan mediator. Akibatnya, kekaburan objek itu meninggalkan bentuk rival yang mengarah kepada kekerasan. Kekerasan mengambil alih posisi objek yang dihasrati, kekerasan menjadi satu-satunya hal yang sama-sama diinginkan baik oleh subjek ataupun sang mediator. Hanya dengan melibati kekerasan secara utuh, pihak-pihak yang berselisih itu mampu memperjuangkan hasratnya.

Proses Mimesis, tiru-meniru, menyebabkan kekerasan menjadi bentuk yang sangat menakutkan, bersifat menular dan menghancurkan. Akal sehat ataupun maksud baik tak menjadi jaminan bagi kedamaian. Rivalitas terkandung dalam diri setiap orang dan membahayakan tata masyarakat. Oleh karena itu, menurut Girard, kekerasan memerlukan penyaluran melalui mekanisme substitusi. Kekerasan akan mudah pecah dan merebak jika tidak menemui saluran yang tepat.

Argumentasi ini berkonsekuensi pada munculnya ritus korban secara fungsional untuk mengkanalisasi kekerasan supaya tak mudah pecah dan merebak membabi-buta. Mekanisme substitusi berupaya mengambil bentuk kekerasan untuk sepenuhnya dimiliki korban dengan tujuan agar kekerasan tak menular dan menjalar ke mana-mana. Karena pada hakikatnya tiap-tiap kekerasan selalu mencari penyaluran secara sewenang-wenang. Akhirnya pengertian kekerasan dalam ritus korban menjadi sebuah tindakan kekerasan yang baik, mencegah penularan kekerasan yang jahat. Namun situasi berubah drastis ketika ritus korban mengalami impuritas ritual, yang berarti tiadanya distingsi dalam masyarakat.

Melalui penyelidikan antropologi, Gerard mulai mengamati peradaban masyarakat primitif dan mulai membandingkannya dengan tradisi masyarakat modern. Ia segera menemukan prinsip kesamaan yang menjamin ketenangan dan keharmonisan pada masyarakat moderen, ternyata tak berlaku bagi masyarakat primitif. Menurutnya, para peneliti moderen kerap memaksakan sudut pandang itu pada masyarakat primitif. Sebaliknya, di masyarakat primitif, perbedaan, distingsi status sangat dibutuhkan untuk memelihara keharmonisan kultural. Tiadanya distingsi justru akan membawa masyarakat primitif pada jurang kehancuran akibat kekerasan yang terjadi secara terus-menerus. Melalui distingsi status dan derajat sosial, kekerasan bisa direservasi untuk tak menjalar dan menular dengan cepat.

Menurut Gerard, krisis korbani yang juga merupakan krisis distingsi, pada tahap final akan melahirkan mekanisme kambing hitam. Setelah mekanisme kambing hitam diterima sebagai bagian dari ritus korban, maka terbukalah jalan bagi mitos dan tragedi untuk mengatasi kekerasan dengan caranya masing-masing. Mitos menutup-nutupi mekanisme kambing hitam dengan konsep monster, sedangkan tragedi membuka mekanisme kambing hitam untuk membela tujuan mitos dalam mempertahankan ketenangan dan ketertiban ritual (Hal. 154).

Kambing Hitam

Mekanisme kambing hitam dimungkinkan dengan adanya fenomena unanimitas, atau kesertamertaan mengenai persetujuan atas sesuatu. Yang menarik dari fenomena unanimitas itu bahwa kemunculannya di tengah krisis korbani dan situasi permusuhan yang chaos. Hal ini dimungkinkan karena krisis korbani telah mencapai pada tahap paling final, kemudian berubah menjadi keselamatan. Tahap yang sangat masuk akal, karena semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri dari kekerasan. Akhirnya semua orang merasa nasibnya sama, tak ada yang berbeda, setiap orang menjadi kembaran dari yang lain, enemy brother.

Pada saat itu, sebenarnya semua orang memiliki potensi yang sama untuk dikorbankan. Sehingga fenomena unanimitas dikuatkan dengan sikap menyetujui secara serta-merta atas status bersalah seseorang sebagai ganti semua orang yang berpotensi menjadi korban. Unanimitas kekerasan mengarahkan permusuhan semua melawan satu. Akhirnya Girard menarik hipotesis, bahwa kekerasan yang melahirkan unanimitas kekerasan dengan mekanisme kambing hitam, telah menimbulkan penyelamatan (Hal. 171).

Selanjutnya Girard mencoba mendekati aspek ritus korban dari sudut mitos dan ritus. Pengalaman manusia melakukan prosesi pembunuhan sesama dalam ritus menjadi sebab awal sebuah kekerasan menjadi sangat dirindukan secara kolektif. Pembunuhan dalam ritus korban bukanlah sebuah peristiwa, namun pengalaman yang membuat orang tak asing terhadap kekerasan. Akhirnya sebuah masyarakat mencoba mengenangkan dan melaksanakan peringatan akan pembunuhan dengan meniru dan mengulangi pembunuhan itu dalam mitos atau ritus (Hal. 176).

Sebuah mekanisme kambing hitam dengan teknik ritual pembunuhan awali untuk mecegah destrukturasi dan penghancuran masyarakat. Kekerasan yang ditunjukkan pada kambing hitam merupakan sesuatu yang generatif, sampai tindakan itu melahirkan ketenangan masyarakat. Misalnya pada tema-tema mitos yang berupaya menunjukkan kambing hitam dengan cara tersembunyi, melalui drama pengusiran, pengasingan, bahkan pembunuhan tokoh mitologis sebagai tindakan pemulihan ketentraman masyarakat.

Namun demikian ritus tak pernah persis meniru kekerasan asali pada fragmen pembunuhan asal dalam mekanisme kambing hitam. Hal ini dikarenakan adanya substitusi ganda dalam sebuah ritus. Substitusi pertama adalah orang atas sesuatu bagi masyarakat, atau kambing hitam. Kemudian substitusi ritual bagi kambing hitam, karena kambing hitam itu adalah sosok masyarakat itu sendiri, jadi bukan kambing hitam yang mengorbankan diri, tapi seharusnya masyarakat atas sifat pendosanya.

Ritus mengatasi kebuntuan itu dengan membayangkan kambing hitam itu sebagai sesuatu yang ada di luar masyarakat. Dengan demikian masyarakat bisa lega, karena sang kambing hitam adalah makhluk lain, bukan anggota masyarakatnya. Situasi pelik tersebut dimungkinkan karena hakikat korban sebagai institusi sosial yang mesti melakukan fungsi substitusi sosial, bukan individu. Akhirnya pemahaman Girard mengkerucut pada kekerasan masyarakat yang telah dialihkan pada korban sebagai kambing hitam, dengan kata lain, kekerasan itu adalah asal-usul dari berbagai institusi masyarakat, termasuk agama.

Girard menegaskan, jika muncul sanggahan bahwa asal-usul masyarakat dari sebuah kontrak sosial bukan sebab kekerasan, maka sebenarnya pernyataan itu muncul dari masyarakat moderen Barat, yang tak tak pernah mengalami bentuk kekerasan yang menggiringnya ke jurang kehancuran sebagaimana masyarakat primitif alami. Masyarakat moderen tak berhasil melihat hakikat agama secara fungsional sebagai alat untuk menundukkan dan menjinakkan kekerasan dalam kehidupan masyarakat prmimitif. Sehingga, jika menimbang situasi masyarakat moderen dari sudut fungsional agama pada masyarakat primitif, maka yang sedang dialami manusia moderen adalah sebuah krisis korbani berdimensi sosial maupun ritual. Krisis yang membawa kekerasan secara sosial masuk ke dalam ritus, dan membuat ritus mandul dalam menetralisir kekerasan.

Namun demikian, Girard tak lantas membuat kesimpulan religius tentang kekerasan dan agama, sebaliknya, ia menganjurkan bahwa agama tetap perlu ada secara fungsional sebagai lembaga penanganan kekerasan masyarakat. Pernyataan Gerard itu tentunya menunggu keterangan teologis demi merespon bencana-bencana yang bakal diterima manusia, sejak pertamakali memiliki hasrat dan terjebak pada rivalitas sesama, sampai kelahiran kambing hitam sebagai korban sekaligus juru selamat peradaban moderen.