Tags

, , , , , , , , , ,


“Jutaan pengusaha asal Cina dan India bakal menguasai dunia pada 2020 mendatang.” Demikian pendapat Tarun Khanna dalam “Billion of Entrepreneurs,” Bagaimana Cina dan India Menata Kembali Masa Depan Mereka dan Anda (2010), sebuah buku yang ia susun di sela-sela aktivitasnya sebagai pengajar di Jurusan Bisnis Harvard. Buku setebal 447 halaman, diterbitkan Kelompok Gramedia, PT Elex Media Komputindo yang biasa menerbitkan buku-buku teknologi informasi. Cukup mengesankan, upaya seorang akademisi bidang bisnis menarasikan kisah individu-individu yang sukses di Cina maupun di India dengan gaya yang sangat populer. Pertimbangan penulis mengurutkan kisah para pengusaha dengan konteks sejarah bisnis antara India dan Cina, nampak menyerupai bingkai sekaligus lukisan yang layak diapresiasi.

Kenyataan seperti apa yang ingin dibuktikan dengan meramalkan bahwa Cina dan India mampu memimpin peradaban, sementara sampai saat ini nilai-nilai dan budaya Barat masih dominan dalam kehidupan? Bayangan orang tentang orang India yang kotor, berdebu, berjejal menggembalakan sapi-sapi kurus di pinggir sungai masih mendominasi pola pikir kelas terdidik Barat. Begitupun citra atas orang Cina yang digambarkan sama seperti saat Mao masih memimpin tentara merah melanjutkan sisa-sisa revolusi kebudayaan. Gagasan tentang Orientalisme meski banyak menuai kritik karena telah memosisikan Barat sebagai pusat peradaban, pada hakikatnya masih cukup efektif jika diterapkan dalam aspek pengembangan ekonomi, ekspansi pasar.

Upaya pembelaan atas ketimpangan relasi Timur-Barat, sudut pandang yang terlalu memojokkan negara-negara pasca kolonial, pernah dilakukan oleh Edwad W. Said dalam “Covering Islam” (1987). Said melakukan pembelaan atas kelompok Islam di Timur-Tengah yang dituduh sebagai pelopor terorisme dunia. Melalui pembongkaran Ideologi Barat dalam media massa, Said mampu membuktikan kontribusi media massa mencitrakan masyarakat Islam sebagai grup radikal konservatif, suka berperang, dan anti demokrasi. Said menunjukkan betapa selama ini media massa mengampanyekan kelompok Islam identik dengan kekerasan, jihad, dan pembunuhan-pembunuhan keji. Upaya media meliput Islam tak lepas dari kepentingan negara-negara Barat, termasuk Amerika, berupaya menguasai sumber daya minyak mentah di dataran Timur-Tengah. Usaha pendudukan ekonomi itu telah memosisikan negara-negara Islam, terutama yang berpaham Syiah, sebagai penghalang tujuan-tujuan kesejahteraan ala Barat.

Sebagai akademisi yang memiliki tradisi pemikiran Barat, Khanna dalam tulisannya tak hendak melakukan pembelaan seperti yang pernah dilakukan Said. Perbedaan latar belakang tradisi inilah yang memengaruhi tesisnya tentang diaspora pengusaha Cina dan India sebagai jembatan emas pengembangan ekonomi bisnis masyarakat dunia, khususnya Amerika dan Eropa. Menurut Said, media massa berhasil menentukan sudut pandang dunia tentang Islam, Ideologi Barat sebagai pusat kekuasaan memengaruhi perkembangan demokrasi, ekonomi, dan politik negara-negara berkembang. Sebaliknya, Aspek ideologi dalam teropong Khanna menjadi semacam faktor produksi bagi kelangsungan siklus produksi-konsumsi negara-negara maju dan negara pasca kolonial di Asia.

India dan Cina merupakan dua negara besar yang saling berbatasan. Jika jumlah penduduk dua negara itu ditotal, maka setidaknya terdapat sekitar 2.4 milyar orang. Jumlah yang terlalu besar untuk tak diperhitungkan sebagai kekuatan yang sedang melakukan perubahan. Pun, negara-negara maju tak mungkin meraih keuntungan maksimal jika terus mengabaikan besarnya jumlah penduduk kedua negara sebagai potensi pasar. Kedua negara itu memiliki sejarah hubungan diplomasi yang unik. Pada pemerintahan Nehru di India, dan Mao di Cina, sekitar 1962 di pegunungan Himalaya –perbatasan kedua negara– telah pecah pertempuran tanpa jelas faktor pemicunya yang kelak membekukan hubungan kedua negara selama empat dekade. Penulis berspekulasi bahwa peristiwa itu adalah dampak traumatis akibat kegagalan Cina mempertahankan wilayah kenegaraannya di masa lalu.

Khana tak memungkiri kenyataan bahwa prasangka kolonial masih menggejala di alam pikir kaum terididik Barat. Namun bukan berarti apriori terhadap Cina dan India tak bisa berubah. Ia berhasil membuktikan bahwa cita-cita untuk bekerja dan hidup layak di Cina dan India bukan hal yang mustahil. Satu-satunya tembok penghalang yang membuat pergerakan ekonomi pasar Asia, terutama India, adalah soal kepercayaan negara-negara maju atas produk-produk lokal.

Memang, Sosialisme dan Partai Komunis (PKC) yang menjadi pilihan idelogi Cina dalam membangun sistem pasar telah memerkuat prasangka-prasangaka anti demokrasi negeri tirai bambu itu. Namun, pada praktiknya, Cina bersikap sangat terbuka dan mendorong masuknya modal asing ke dalam negeri. Bahkan PKC menjamin adanya deregulasi untuk mendorong investasi asing untuk masuk. Bagaimana dengan perusahaan lokal yang terancam tersisih? Konsep Sosialisme pasar telah membuat perusahaan-perusahaan lokal Cina menjadi semi BUMN. Partai Komunis sepenuhnya mengendalikan kestabilan indeks saham gabungan di pasar moneter, memastikan informasi yang tepat bagi para investor untuk bisnis yang menjanjikan.

India dan Cina memiliki sejarah hubungan bisnis sejak abad pertama masehi. Hubungan kedua negara menjadi istimewa ketika agama Budha berhasil masuk ke Cina, dan memberikan motivasi perniagaan berbasis etika Budhisme. Industri tekstil Cina memiliki pasar yang luas di India akibat murahnya tenaga kerja Cina. Produksi kapas dan pendirian pabrik-pabrik tekstil telah melahirkan klas menengah baru di India. Kekuatan baru tersebut berhasil menjadi sebuah keyakinan industri tekstil lokal, swadeshi, membangkitkan nasionalisme yang menghendaki berakhirnya pendudukan dan monopoli dagang Inggris. Sebuah hubungan perniagaan yang memiliki potensi nasionalisme dan semangat pembebasan.

Saat ini teknologi informasi menjadi irisan kerjasama bisnis antara India dan Cina. Produksi software menjadi basis kerjasama, sembari terus menggali potensi hubungan bisnis yang lain. Delegasi dan duta teknologi asal Cina secara intensif melakukan riset dan kajian di Hiderabad, sebuah kota cyber di India. Cina menginginkan percepatan industri software nasional dengan menggugah keniscayaan sejarah masa lampau India-Cina. Jika kedua negara bekerja sama, maka akan mudah melakukan ekspansi pasar.

Hubungan antara India dan Cina merupakan sebuah fenomena baru di tengah jebakan krisis global. India yang memroklamirkan sebagai negara demokrasi sekuler, mampu menjalin hubungan dagang yang bermutu dengan negeri tirai bambu yang sangat sentralistik. Ideologi secara teoretis akan menjadi masalah dalam slogan kapitalisme. Namun, India dan Cina berhasil memaknai pasar secara unik dengan memberikan sentuhan romantisme regional dan segera mengubahnya sebagai kekuatan ekonomi baru: industri teknologi informasi.

Sumber daya manusia kedua negara juga tak bisa dianggap remeh. Cina adalah salah satu negara yang memiliki wilayah diaspora di seluruh dunia. Diaspora orang-orang Cina ke berbagai belahan dunia memiliki andil yang penting bagi peningkatan pendapatan nasional. India pun demikian. Keturunan India di Birma memiliki memori yang kuat dengan orang-orang Yunan Selatan. Bahkan pada era Mao, Birma seringkali mendapatkan dukungan moral dari sang pemimpin revolusi. Saat ini, banyak tenaga kerja berkebangsaan India berprofesi sebagai tenaga ahli IT di Amerika. Tenaga kerja asal India terkenal memiliki harga lebih bersaing dari tenaga profesional Eropa. Pada dasarnya, diaspora India-Cina tumbuh subur di sela-sela sentimen rasial dan prasangka-prasangka kolonial.

Tak cukup kiranya menakar peradaban India dan Cina dengan satuan budaya dan ideologi saja. Kini, dua negara itu tumbuh dan berkembang menjadi raksasa, berhasil memaknai pasar sebagai kecerdasan baru, sumber pengetahuan, dan sejarah. Ikatan emosi individu orang Cina pun mampu menjadi sumber daya yang tak tertandingi, sebagaimana para ilmuan India bekerja di pusat-pusat teknologi, lembah silikon California.

Fenomena kerjasama bisnis yang ditunjukkan India dan Cina membuka peluang bagi negara-negara lain di Asia. Bahkan, saat ini, investor asal Eropa telah memerhitungkan untuk ikut terlibat aktif dalam persaingan industri IT di India. Peluang bisnis IT di India dan Cina terbuka lebar pada globalisasi. Meski di India nampak sedikit tertutup dengan investor asing, namun mereka sangat terbuka dengan peluang pasar lokal.

Khana di akhir penjelasannya terlihat sangat optimis bisa mengambil manfaat dari hubungan industrial Cina dan India. Ia memercayai bahwa hubungan itu bisa menjadi jembatan emas bagi masyarakat Eropa dan dunia. Potensi pengembangan ekonomi baru, industri IT, dan produk-produk lokal yang mendunia, serta diaspora warga Asia, menjadi jalan baru untuk bersama-sama keluar dari krisis. Satu hal yang perlu digarisbawahi dari pemikiran Khana, bahwa sejarah bisnis dan politik industri antarngara di wilayah regional menjadi penting dimaknai sebagai basis sumber daya, sebagaimana telah berhasil dipraktikkan oleh India dan Cina. [] Franditya Utomo.