Tags

, , , , , ,


“Berangkat ke kantor, memeriksa laporan perkembangan harian, mingguan, bulanan, dan tahunan. Sore hari beranjak pulang. Sesampai di rumah membersihkan badan, mandi, makan, lalu tidur. Keesokan hari berangkat ke kantor … sesampai di rumah … ” Demikian cara Heidegger, seorang Filsuf Jerman, Sang Pelihat dari Messkirch, mencoba mengajak kita melihat kembali keseharian secara transparan. Meski filsafatnya rumit, susah dicerna, tapi sungguh ia seorang Fenomenolog keseharian, pelihat yang mencapai keheningan, penutur peristiwa yang kelewat biasa dan remeh.

Menurut Heidegger manusia moderen tunduk kepada rutinitas, takut akan kebebasan, kemudian serta-merta menyerahkan eksistensinya kepada kekuatan di luar dirinya. Saat globalisasi menjadi jalan hidup, manusia nyaris tak lagi bisa menentukan sikapnya selain melebur menjadi satu dengan budaya pasar dan tradisi konsumsi. Masuk ke dalam jerat rutinitas, kesibukan peradaban material. Lantas apa yang hendak ditawarkan Sang Filsuf atas fenomena rutinitas manusia?

Kecemasan (Angst) nampaknya menjadi syarat utama bagi manusia untuk bisa menjaga jarak dari rutinitas. Menurut Heidegger, manusia dituntut untuk terus eksis dalam dunianya, namun sayangnya ia tak bisa menjaga jarak, terseret arus, dan tenggelam dalam waktu. Menjaga jarak dengan rutinitas maksudnya eksis secara otentik. Untuk tetap otentik manusia mesti “bergaul dengan sesuatu”, melibatkan dirinya dengan sebuah percakapan, komunikasi primordial nirbahasa yang menuntun pada sebuah keheningan. Hal-hal demikian akan menyebabkan keseharian akan nampak transparan dan bening.

F. Budi Hardiman dalam buku “Heidegger dan Mistik Keseharian, Suatu Pengantar Menuju Sein Und Zeit” (2003), mencoba mengetengahkan pemikiran Heidegger yang kompleks secara renyah dan sederhana – meski demikian, tetap sulit memahami lanskap pemikiran Sang Filsuf.

Mistik keseharian bukan berarti pengertian abstrak tentang hubungan manusia dan pencipta, atau bersatunya makro dan mikro kosmos, tapi lebih pada praktik keseharian, pengalaman manusia memukimi dunia (Ada) dan memaknai waktu (Zeit). Heidegger tak bosan untuk mengulas betapa dunia tak menjadi tempat bermukim manusia. Tak lagi menjadi rumah eksistensial. Begitupun dengan waktu, manusia menjadi subordinat waktu, keberadaannya telah terbelah, terbagi-bagi ke dalam satuan kronomoetris keseharian.

Proyek besar Heidegger – Filsuf setelah Nietzsche – merespon nihilisme, meletakkan dasar-dasar mistik keseharian sebagai nilai-nilai. Tak heran jika ia terus membahas hal-hal biasa seperti kecemasan, kegelisahan, ketakutan, dan hal-hal yang kurang membahagiakan sebagai benang merah “Ada” agar manusia berhasil memukimi dunia secara eksistensial. Ia berharap agar manusia menjadi tuan dari waktu, sehingga mampu mencandra keseharian sebagai sebuah pengalaman.

Di dalam uraian buku, terdapat beberapa contoh sederhana tentang bagaimana memperlakukan waktu sebagai sebuah pengalaman. Misalnya momen seorang anak yang mendapati Ibundanya dalam keadaan kritis menuju perjalanan ke rumah sakit, akan sangat berbeda dengan waktu yang biasa sang anak dapatkan ketika melihat jam tangannya. Waktu yang tertera sebagai angka kronometris jam tangan telah terlampau biasa, tanpa perlu dipertanyakan lagi, telah menentukan momen-momen kehidupan si pemakai. Pada waktu tertentu yang ditunjukkan angka dalam jam, selalu diteruskan sebagai sebuah tindakan/sikap tertentu oleh si pemakai. Jika seluruh benda-benda pengukur waktu semacam jam, kalender, sistem penanggalan itu rusak atau tak dipakai, maka apa yang tersisa dari waktu? Maka, pengalaman bersama Ibunda yang sedang kritis nampak menjadi segala-galanya dibandingkan dengan urusan angka di jam tangan. Hal-hal semacam itu yang mesti dicamkan dari penjelasan Heidegger.

Pertanyaan yang mungkin tersisa ketika mencoba menelisik pemikiran Hedegger, apakah manusia mampu hidup selalu otentik, sementara sebagai makhluk sosial tak mungkin lepas dari interaksi-interaksi simbolik? Jelas, manusia tak akan betah hidup otentik terus-menerus, Heidegger pun tak menyarankan sebuah eksentrikisme dalam uraiannya. Untuk bisa otentik, manusia tentu pernah terhanyut dalam arus keseharian. Ketika ia terhanyut dan melihat betapa rejim keseharian telah menelannya perlahan-lahan, maka ia mampu melihat fenomena itu secara transparan. Menjadi otentik adalah berada di luar dan di dalam keseharian itu sendiri.

Menjadi otentik juga tak serta merta mengubah manusia menjadi individualistik. Justru manusia membutuhkan keberadaannya sebagai makhluk sosial untuk bisa mencapai keheningan. Pada titik itu, kegelisahan dan kecemasan akan nampak berbeda dengan rasa takut. Heidegger mulai membawa pengalaman takut untuk melihat kematian sebagai bagian dari mistik keseharian.

Menurutnya, kematian bukanlah sebuah hal yang mesti ditakuti ketika manusia bermukim di dunia eksistensialnya. Memikirkan kematian sama halnya dengan menghargai kehidupan. Tak ada kehidupan eksistensial kedua setelah kematian, lantaran tak ada penjelasan “ada” dan “waktu” yang bisa disibakkan sebagai pengalaman ataupun pengetahuan. Hal ini yang kadang membuat manusia tak berdaya ketika berhadapan dengan kematian. Ketakberdayaan itu membentuk struktur keseharian yang cenderung eskapis, pelarian diri, melupakan sedini mungkin tentang kemungkinan kematian yang rahasia.

Kematian yang nampak wajar, pasti terjadi, dan bersifat final, justru menjadi mistik keseharian yang hendak dibongkar Heidegger agar manusia berhasil mencapai otentisitasnya. Pada dasarnya, mencintai kematian sama halnya dengan mencintai kehidupan itu sendiri, karena hidup dan mati adalah aspek utama rejim keseharian. Heidegger menjadi salah seorang manusia yang berpayah-payah meretas nilai-nilai otentisitas, membebaskan manusia memukimi dunia yang kelewat indah jika hanya diserahkan mentah-mentah pada kedigdayaan waktu. [] Futomo.