Tags

, , , , ,


“Tak ada yang bisa memilih untuk menjauh dari sejarah”
–Amitav Ghosh, The Glass Palace (2000)–

 

Perang sama seperti wabah. Menyerang, mencincang, merebak, menebar benih kematian. Ketakutan, kehilangan, kebencian, harapan, dan cita-cita turut tercipta, terlahir dalam perang. Perang sebagai tujuan berarti pembantaian. Di zaman kuno perang merupakan wujud ekspresi peradaban atas nama suku bangsa, raja-raja, dan agama. Kuil-kuil, tempat pemujaan diciptakan untuk mengenang para pahlawan masing-masing bangsa yang rela berkorban. Setelah menusia memasuki peradaban agraria, pemilikan tanah, perang menjadi semacam alasan untuk semakin memerluas wilayah dan mengakumulasikan modal.

Zaman moderen telah melahirkan jenis perang yang berbeda. Kesejahteraan dan kemakmuran, keberadaban, moderenisasi menjadi alasan sebuah bangsa berhak menduduki wilayah bangsa lain. Rejim kolonial berhasil mengendalikan tata kehidupan bangsa Timur, sementara teori ekonomi klasik dan cerita sukses revolusi industri tepat berada di belakangnya. Gagasan tentang kekerasan berakar dalam tiap naluri memerkaya diri. Di saat yang sama Fasisme datang menyapa sebagai saudara tiri Imperialisme.

Setelah Hitler mengoyak peradaban Eropa pada perang dunia kedua, giliran Kekaisaran Jepang mengibarkan bendera matahari yang segera membakar Asia Raya. Rajkumar, tokoh rekaan dalam novel fiksi sejarah The Glass of Palace (2000) menjadi saksi sekaligus ekspresi generasi keturunan India yang tertindas oleh penjajahan dan Kolonialisme di Burma –Myanmar. Tokoh Rajkumar bisa jadi ditemui di kebanyakan negara kolonial Eropa di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, atau Singapura, yang mengalami beberapa fase penjajahan. Pertama penjajahan oleh Inggris, Prancis, ataupun Belanda, kemudian Jepang di awal perang dunia kedua.

Rajkumar muncul sebagai lelaki keturunan India yang sangat tertarik hidup di Mandalay, Burma. Di usia yang sangat remaja ia mesti menghadapi kenyataan invasi Inggris. Dentuman meriam segera meruntuhkan tembok Mandalay, mengusir keluarga raja ke pengasingan, India. Seperti laki-laki India pada umumnya yang memiliki ketertarikan kepada kehidupan di Burma, Rajkumar bertekad untuk bertahan hidup di masa-masa yang sulit sebagai pedagang kayu.

Tekad yang kuat membuat Rajkumar berhasil menjadi saudagar kaya. Seorang pedagang kayu jati tersohor. Ia pun berkenan pergi ke India, menjemput sang kekasih yang hilang selama pengasingan. Dolly, seorang pengasuh putri kerajaan, yang hidup hanya untuk melayani keluarga raja. Rajkumar berhasil meyakinkan belahan jiwanya pergi meninggalkan tanah pengasingan untuk hidup bersama di Burma. Melalui bantuan Uma –kelak menjadi pelopor pejuang demokrasi di India– dan suaminya, Dolly berhasil pergi meninggalkan pengasingan. Dua insan yang sempat terpisah oleh invasi Inggris akhirnya dikaruniai dua orang anak lelaki: Neel dan Dinu. Reruntuhan istana kaca pun dirajut.

Tak satu pun dari anak-anak Dolly yang mewarisi bakat ayahnya sebagai pedagang kayu. Bahkan Dinu sangat tertarik dengan fotografi sejak ia masih kecil. Ia pun berani memupuk mimpi menjadi seorang fotografer dan memiliki sebuah studio di Burma. Sang bapak tak kuasa mengekang keinginan anak-anaknya.

Setelah Jepang berhasil menduduki Malaya, Burma dihadapkan pada pilihan evakuasi massa dini. Rajkumar tak mengindahkan saran untuk segera meninggalkan negeri impiannya. Bahkan saat pesawat Jepang menjatuhkan bom di Rangoon, Rajkumar masih bersikukuh menjalankan bisnis kayu dengan pemerintahan Ciang Kai Sek. Neel menjadi korban dalam serangan brutal itu. Tubuhnya hancur tergencet kayu berbobot ratusan kilogram.

Rajkumar, Dolly, Manju sang menantu dan Jaya anak semata wayang Neel bersama-sama ribuan penduduk keturunan India mengungsi ke Kolkata. Mereka hendak menuju ke kediaman Uma sang aktivis pro demokrasi di India. Pengungsian yang sangat berat, melelahkan, memupuskan harapan hidup seorang janda seperti Manju. Ia pun mengakhiri hidupnya menenggelamkan diri di sebuah sungai dingin. Sebelumnya ia menitipkan Jaya kepada mertuanya.

Salah satu tokoh yang terobsesi pada keprajaan semasa kolonial Inggris dan perang melawan Jepang ada pada sosok Arjun. Ia adalah pria keturunan India, seorang prajurit yang mengabdi pada kerajaan Inggris. Ia sangat terpengaruh dan mengagungkan etika militer Eropa. Ketika dua kapal kebanggaan Inggris berhasil ditenggelamkan Jepang, dan sekutu mengalami kekalahan di Asia, Arjun masih ragu untuk bergabung dengan Tentara Nasional India. Akhirnya ia terjebak dalam alam cita-cita dan kenyataan bahwa perang telah dimenangkan orang lain, sementara dirinya menjadi perwujudan kegagalan pasukan Inggris melakukan rekrutmen pria-pria India sebagai tentara bayaran di masa lalu.

Jaya tumbuh sebagai pribadi yang kuat dan cerdas, di bawah bimbingan Uma, dan kenangan bersama kakeknya, ia berhasil menjadi seorang dosen di sebuah universitas di India. Ketertarikannya pada sejarah dan fotografi mendorongnya untuk melakukan penelitian tentang sejarah kehidupan Uma sebagai salah satu tokoh pembaru di India dan menulisnya sebagai buku. Proyek penelitian itu membawanya ke Malaysia dan mendapatkan petunjuk tentang keberadaan pamannya, Dinu, di Myanmar.

Jaya menjumpai Dinu tua sedang memberi ceramah fotografi di kediamannya. Myanmar di bawah junta militer menjadi sebuah negeri yang tak ramah. Segenap aktivitas mesti mendapatkan ijin dan harus diketahui pemerintah. Istri Dinu, seorang penulis dan aktivis, menjadi korban kekejaman rejim militer di sana. Dinu menceritakan sisik melik setelah penyerangan Jepang ke Burma pada 1942, dan hasil karyanya di negeri emas, “The Glass Palace Photo Studio”. Ya, ia berhasil meraih cita-cita sebagai seorang fotografer, hidup dari karya-karya fotografi.

Fotografi telah merekatkan kembali serpihan istana kaca yang dijarah pada masa pendudukan Inggris di Burma. Melalui fotografi Jaya mengetahui asal-usul, dan berhasil menuliskan genealogi nenek moyangnya. Fotografi menjadi pengalaman yang sangat personal, membatin dalam diri seorang Jaya. Gambar-gambar lawas Rajkumar dan Uma hasil jepretan Dinu, menuntunnya untuk merangkai sejarah keluarga, sejarah korban peradaban dan pedihnya perang.

The Glass Palace menyatukan kisah bangsa dan pribadi dalam satu frame, seperti halnya keluarga Rajkumar dan Uma berfoto dengan latar peradaban kolonial. Rajkumar sampai Jaya, menjadi fragmen kesedihan, duka yang mendalam sebuah cerita keluarga. Namun, melalui foto-foto Dinu yang dihidupkan kembali oleh Jaya, pergulatan meraih hidup seakan tak pernah usai. []