Tags

, , , , , , , , , , ,


Di tengah hiruk-pikuk pernyataan para filsuf kontemporer soal “subjek telah mati”, Slavoj Zizek dengan lantang menyerukan pembelaan atas posisi manusia sebagai subjek sadar di dalam kebudayaan. Klaim bahwa subjek hanyalah produk sampingan dari struktur-struktur yang mengepung manusia, sampai kematian gagasan subjek manusia moderen yang dimotori para pemikir Posstrukturalis, tak juga menyurutkan optimisme Zizek. Salah satu pendapat yang hendak menumbangkan peran manusia sebagai subjek yang berkesadaran, bahwa otoritas sebuah teks telah melampaui gagasan kepengarangan melalui praktik penafsiran atas teks itu sendiri. Fenomena “Kematian Sang Pengarang” begitu menghantui, akibat subjek hanya tunduk pada aturan struktural kebudayaan, dan manusia tak lebih dari sekadar bentukan struktur kekuasaan dan pengetahuan.

Jika seorang manusia dianggap sebagai organisme hidup, hal itu dikarenakan rejim pengetahuan biologi yang mendefinisikannya. Manusia mampu melakukan fungsi produksi, karena ada pengetahuan ekonomi yang melahirkan gagasan tentang modal dan kapitalisasi. Seterusnya seperti itu, manusia hanya bentukan kuasa pengetahuan belaka, tak pernah menjadi subjek nyata dalam kebudayaan. Para filsuf Posstrukturalis dan Posmoderen, nampaknya ingin segera mengakhiri determinasi rasio dan subjektivitas manusia, menggantikannya dengan hal-hal yang bersifat diskursif dan partikular.

Apa yang membuat Zizek tetap optimis, berharap menemukan celah bagi subjek untuk lepas dari kepungan praktik diskursif yang menjerat dan menegasikannya? Sebagai salah seorang pemikir yang berhaluan Marxis, ia mencoba untuk memeriksa kemungkinan lepas dari jebakan Posmoderen melalui dua jalur sekaligus: tradisi Strukturalis Cartesian, dan Psikoanalisis Lacanian. Pada dasarnya, seorang Marxis memang memiliki ketekunan lebih dalam memahami sejarah dan dialektika materialisme. Menurutnya, subjektivitas manusia di dalam kebudayaan yang cair masih diperlukan, karena tak selamanya subjektivitas itu dilucuti sedemikian rupa oleh virtualitas dan kemajuan teknologi. Proyek reinterpretasi subjek diawali dengan melakukan penelusuran asal mula subjek yang segera membawa Zizek pada tradisi Cartesian.

Diktum Cogito Ergo Sum, segera menyadarkan Zizek bahwa Cogito yang dipahami Descartes kala itu adalah sebuah pola dasar dialektika akal dan alam seperti halnya tradisi filsafat Yunani kuno. Cogito menjadi subjek yang berpikir sebagai dasar kepastian untuk mengetahui realitas. Sebagaimana umum memahami, tradisi filsafat Yunani kuno tak menjadi tren di abad pertengahan, karena para filsuf saat itu lebih memikirkan hubungan akal dan iman untuk menyokong konsep-konsep teologi. Selanjutnya, konsep “aku yang berfikir”, ditafsirkan Zizek menjadi “ruang kosong” sebagai substansi subjek. Ruang kosong yang dibayangkan Zizek mampu mengatasi sifat kebudayaan yang cair, berubah-ubah, dinamis, dan imajiner. Semangat Cartesian semakin menumbuhkan optimisme Zizek untuk terus-menerus memformulasikan konsep reinterpretasi subjek di ranah Psikoanalisis.

Setelah selesai belajar filsafat di Ljubljana, Slovenia, Zizek beranjak ke Paris dan resmi menjadi seorang pelajar Psikoanalisis di bawah bimbingan Jaques Alain Miller, menantu Jaques Lacan. Hobi menonton Opera nampaknya sangat membantunya memahami konsep Psikoanalisis Lacan. Zizek meyakini bahwa terang Psikoanalisis mampu mengatasi krisis subjek. Konsep Psikoanalisis Lacanian di Paris sangat mewarnai tradisi filsafat Prancis yang meninggalkan bentuk analisis medis, meski Lacan awalnya juga seorang psikiatri.

Zizek menyelami risalah Lacan “kembali ke Freud” untuk menemukan subjek melalui etika alam bawah sadar. Sebenarnya jika mengacu pada pemikiran Freud, manusia sangat ditentukan oleh potensi alam bawah sadarnya, bukan alam sadarnya. Namun, hal ini justru mengarahkan Zizek kepada argumen triadik Lacan tentang “Yang Nyata”, “Yang Simbolik”, dan “Yang Imajiner” untuk menemukan subjek. Menurut penjelasan Lacan, pengalaman “Yang Nyata” dialami oleh setiap orang sejak umur 8-16 bulan. Seorang bayi yang mencari pemenuhan kebutuhan, dan menjumpai ibunya sebagai objek hasrat. Namun jika seorang anak dihadapkan pada sebuah cermin, kemudian mencoba mengidentikkan diri dengan bayangannya di cermin, maka ia akan mengalami kesadaran tubuh seutuhnya. Sebelum mengenal cermin, seorang anak mengalami tubuhnya secara parsial, tak utuh. Seorang anak yang dihadapan cermin juga mengalami “Yang Imajiner”, ketika ia mencoba memahami bayangan di dalam cermin sebagai perwujudan realitas dirinya. Ia akan terus-menerus berupaya memahami bayangan di cermin adalah sama dengan situasinya.

Setelah seorang anak mengenal bahasa sebagai bagian dari kebutuhan di luar kemampuan ibu sebagai objek pemenuh hasrat, maka ia telah memasuki fase “Yang Simbolik”. Sejak bahasa mengambil alih peran ibu sebagai objek hasrat, maka si anak semakin terjauh dari dirinya, beralih mematuhi ketetapan-ketetapan gramatikal sebagai cara memenuhi hasrat. Dalam fase simbolik ini Zizek ingin menunjukkaan bahwa Psikoanalisis Lacan mampu membuat terobosan. Menurutnya, melalui realitas simbolik, seseorang tak pernah bisa menikmati hasrat tanpa mengafirmasi kenikmatan yang lain. Subjek tak akan bisa menjumpai subjek lain, tanpa melalui simbolisasi. Karena pada hakikatnya, realitas itu dibangun melalui relasi simbol sebagai perwujudan hasrat dari subjek-subjek.

Proses simbolisasi telah merangkai realitas sedemikian rupa sebagai tempat bertemunya hasrat dari subjek-subjek. Praktik simbolisasi memang akan selalu menghalangi subjek memenuhi hasrat ketika terjadi relasi simbolik. Relasi simbolik yang terjadi secara terus-menerus akan menggeser realitas subjek yang tak pernah benar-benar menemukan bentuk hasrat yang nyata. Proses simbolisasi yang terus-menerus mengubah sifat subjek menjadi konstan. Menurut Zizek, subjek yang tersimbolisasi dan tergeser terus-menerus, selalu memunculkan gejala “salah maksud”, karena di dalam proses simbolisasi, tak semua hal bisa masuk ke dalam satuan simbol, dan pada dasarnya tiap praktik simbolisasi akan menyisakan ruang nyata yang tak bisa diwakili (Yang Nyata).

Drama cinta antara Darcy dan Elizabeth, di dalam sebuah pertunjukan Opera, bisa menunjukkan bagaimana situasi “salah maksud” sebagai realitas sosio-simbolik yang justru membimbing subjek menikmati hasratnya. Darcy adalah seorang lelaki Aristokrat kaya-raya, sedangkan Elizabeth adalah perempuan yang berasal dari keluarga miskin. Darcy mengira dengan ketampanan dan kekayaannya, akan membuat Elizabeth jatuh cinta padanya. Namun, sebaliknya, Elizabeth telah mengira bahwa kebiasaan kaum Aristokrat selalu mengunggulkan kekayaan sebagai daya tarik. Sedikitpun Elizabeth tak tertarik pada kekayaan Darcy. Ketika Darcy mulai menggunakan kekayaannya untuk menarik perhatian, Elizabeth justru tak merespon. Namun pada akhirnya, Darcy dan Elizabeth saling jatuh cinta dan hidup bersama selamanya.

Masing-masing subjek dalam drama itu disimbolkan oleh kelas sosial yang definitif, dan berinteraksi sesuai sifat dasar antagonisme kelas. Subjek yang tersimbolisasi itu mengalami pergeseran terus menerus, mengikuti relasi sosio-simbolik yang akhirnya membuat subjek menjadi konstan. Darcy seorang Aristokrat, dan Elizabeth yang miskin. Fenomena “salah maksud” adalah selisih antara subjek yang disimbolisasi menuju jalan menikmati hasrat. Meski keduanya memiliki prasangka yang saling menegasikan, namun hal itu yang justru menjadi cara mereka untuk memeroleh cinta, memuaskan hasrat.

Zizek meyakini bahwa kebudayaan sebagai ruang pertumbuhan gagasan, bertujuan mendewasakan manusia untuk mencapai kesejahteraan dan keadilan. Melalui gagasan Cartesian dan Lacan, ia memaknai subjek sebagai lubang dalam semesta yang menarik kembali subjektivitas manusia ke alam realitas sosial, dunia sosio-simbolik. Subjektivitas di ruang kebudayaan tak lantas tergerus oleh pola-pola diskursif relasi simbolik, sebab substansi “Yang Nyata” sebagai basis dialektika subjek akan bermakna konstan karena pada dasarnya manusia masih menjadi pusat pemikiran. Ruang kosong dengan substansi “Yang Nyata” dalam sebuah relasi sosio-simbolik yang membentuk realitas, akan menuntun penilaian manusia terhadap keadilan dan kesejahteraan. Konsep Cogito dan argumentasi triadik Lacan, di tangan Zizek berubah menjadi sebuah etika subjek moderen yang siap membendung serangan-serangan kebudayaan, mengakhiri krisis subjektivitas manusia. Sebuah proyek redefinisi subjek yang terus memerlukan penafsiran untuk menghindari jebakan-jebakan esensialisme. []

Franditya Utomo

Peneliti Forum Indonesia Moeda