Tags

, , ,


“Mbak, besok saya libur, untuk sementara waktu saya tidak berjualan. Anak di kampung sakit keras, saya harus segera pulang.” Perempuan paruh baya itu pamit pulang kepada para langganan sayur di perumahan tempat ia biasa berjualan. Min (40 tahun) memiliki 4 orang anak, dua laki-laki, dua perempuan. Anak sulung ikut bersamanya membantu bekerja menjadi buruh di sebuah pabrik konveksi di Jakarta. Anak kedua dan ketiga masih sekolah di kampung. Sedangkan Si Bungsu menderita sakit, Autis. Padahal ia masih kecil, balita.

Puluhan tahun Min menjalani profesi sebagai pedagang sayur keliling. Kini, ia membesarkan ketiga orang anaknya yang masih kecil seorang diri. Tiap pagi ia belanja ke pasar besar. Para langganannya sudah menunggu sekitar jam setengah tujuh pagi, bahkan lebih awal. Tak jarang dini hari perempuan tukang sayur itu sudah berada di pasar untuk memenuhi bahan-bahan pesanan pelanggannya. Biasanya para pelanggan memesan menu belanja tertentu sehari sebelumnya.

Tiap hari ia melakoni rutinitas dari rumah ke pasar, berkeliling menjual sayuran ke kompleks perumahan, pulang, dan berbelanja lagi. Begitu seterusnya. Tubuhnya yang renta kerap menjadi bulan-bulanan udara tak sehat dan asap kendaraan bermotor saat ia harus mendorong gerobak sayur di jalanan. Batuk, masuk angin, sampai diare, menjadi teman kerja yang sangat menyebalkan.

Penghasilan Min tak banyak. Ia sering mengeluh jika ibu-ibu perumahan terlalu rendah menawar buah-buahan dan daging yang ia bawa dari pasar. Karena memang tak banyak untung yang bisa diraih. Dari tiap kilogram penjualan daging Min hanya mengambil untung tak lebih dari limaribu rupiah. Sedangkan untuk buah-buahan, untung per kilogram tak lebih dari tiga ribu rupiah. Sebaliknya tiap hari ia mesti membayar uang “keamanan” sebesar lima ribu rupiah kepada satpam yang bekerja menjaga kompleks perumahan tempat para langganannya tinggal.

Pernah, suatu kali, saat harga cabai melangit dari harga Rp.15.000,- per kilogram menjadi hampir Rp.60.000,-, Min tak berani menjual sayur itu di perumahan, karena tak tahu lagi berapa harga jual yang harus ia tentukan. Ibu-ibu itu biasa membeli tak lebih dari lima ribu rupiah saja. Bahkan ada yang dua ribu rupiah. Jika harga tak naik, Min bisa dengan mudah menakar berapa jumlah cabai yang harus ia berikan dengan harga seribu atau dua ribu rupiah.

Min bertahan. Ia tetap berusaha berjualan. Namun, sudah seminggu lebih dia tak terlihat. Para pelanggan sudah resah menunggu kapan dia mulai berjualan lagi. Saat Min tak ada, ibu-ibu penghuni kompleks mengeluh, mereka harus mengeluarkan biaya dua kali sampai tiga kali lipat lebih mahal dari biasanya. Saat Min tak ada, mereka mendapatkan kebutuhan pokoknya di supermarket. Tak ada waktu untuk pergi ke pasar tradisional. Di sisi lain, sebagai masyarakat urban ibu-ibu perumahan itu tak terbiasa untuk memfungsikan pekarangan mereka dengan menanam sendiri sayuran atau buah-buahan. Praktis selama ini Min lah satu-satunya sumber vitamin dan zat hijau alternatif para penghuni kompleks.

Lahan di perumahan-perumahan kota tak terlampau luas, bahkan relatif sempit. Pun, jika ada sedikit lahan kosong biasanya bunga-bunga hias lebih mendominasi pekarangan. Hanya dalam tempo kurang dari satu bulan, pengeluaran belanja sehari-hari telah menyedot lebih dari separuh pemasukan per bulan penghuni kompleks perumahan langganan Min. Pasangan suami istri di perumahan itu rata-rata bekerja dengan total penghasilan 6-8 juta rupiah per bulan. Padahal kebutuhan untuk SPP anak per bulan, uang jajan, angsuran kredit rumah atau motor belum lagi tertutup sempurna. Hanya karena absen beberapa hari Min berhasil membuat rencana keuangan satu komunitas urban itu kacau-balau.

Min mengacaukan perputaran ekonomi satu komunitas urban yang beranggota kurang lebih dua Rukun Tetangga (RT) atau 150 Kepala Keluarga (KK). Jika masing-masing pasangan dalam satu keluarga memiliki dua orang anak, maka total jumlah orang yang bergantung pada Min seluruhnya 450 jiwa. Jika dalam satu kota besar seperti Jakarta penjual sayur seperti Min jumlahnya ribuan, kira-kira apa yang akan terjadi jika mereka serentak tak lagi keliling berjualan ke rumah-rumah penduduk dalam jangka waktu yang panjang?

Ruang Hidup dan Pola Tutur Dominan

Tentu pertanyaan di atas tak harus dijawab. Karena persoalan belanja harian adalah persoalan remeh temeh, selesai dengan uang belasanribu rupiah saja. Rumah Makan Padang ataupun Warteg masih banyak. Mall dan pusat-pusat belanja menyediakan makanan cepat saji yang luar biasa murah. Jika ada anggota keluarga yang mendadak sakit karena turunnya ketahanan tubuh, serangan jantung, atau tingginya kolesterol bisa langsung mendapat klaim asuransi kesehatan. Begitupun dengan asuransi-asuransi yang lain, siap menjamin kenyamanan hidup masyarakat urban. Kehadiran Min nampak tak perlu. Asuransi nampaknya menjadi modal pola tutur ekonomi (baca: pola produksi-konsumsi), menjawab soal kepastian kelangsungan hidup dalam ruang-ruang ekonomi masyarakat moderen.

Tapi, belakangan diketahui perempuan penjual sayur keliling itu tak sekadar pulang untuk merawat anaknya yang sakit, Min pulang untuk tak kembali lagi. Cerita tentang penjual sayur telah sampai pada halaman akhir. Min menyerah. Ia tak mampu lagi menanggung resiko merugi, atau sekadar balik modal. Harga-harga semakin naik sedangkan daya beli para pelanggannya tak juga bertambah, bahkan diantara mereka sering berhutang. Belum lagi uang keamanan yang wajib ia keluarkan tiap hari. Min memutuskan untuk tinggal di desa hidup seadanya bersama ketiga orang anaknya, sementara itu anak pertama masih bekerja di kota sebagai buruh pabrik. Sesekali Si Sulung mengirimkan sebagian dari gaji untuk biaya hidup orang tua dan adik-adiknya di desa.

Masalah lain sudah menunggu. Beberapa petak sawah warisan mendiang orang tua Min habis terjual untuk biaya pengobatan Si Bungsu dan biaya sekolah yang lain. Min menjadi buruh tani di areal lahan produktif beberapa kerabat jauh yang ia kenal. Lumayan. Penghasilan sebagai buruh tani biasa berupa gabah kering bisa ia simpan untuk persediaan selama beberapa waktu. Uang kiriman Si Sulung sedikit membantu meringankan pembayaran SPP per bulan dan kebutuhan sehari-hari. Untuk sementara Min mampu bertahan hidup.

Meski sekadar buruh tani, bukan petani sesungguhnya, Min cukup berhasil dalam hal mencukupi karbohidratnya sendiri. Selain gabah kering, ia terbiasa menanam sendiri beberapa jenis sayuran dan buah di halaman rumah yang masih cukup lega. Bahkan beberapa jenis tanaman seperti Labu Siam bisa ia panen dan menjualnya ke pasar. Namun cerita Min sebagai buruh tani nampaknya tak kalah perih dengan cerita sebagai pedagang sayur keliling. Beberapa tahun terakhir desa tempat ia tinggal dijadikan areal konversi lahan, dari lahan produktif menjadi lahan-lahan industri. Tak tersisa tempat bagi Min sebagai buruh tani. Kerabat-kerabat jauh pemilik lahan produktif lebih suka menjual tanah mereka kepada investor asing, karena selama ini hasil panen tak lagi menjadi harapan keluarga.

Selama bertani harga pupuk kian mahal, bibit tanaman pangan dimonopoli perusahaan, akhirnya hasil panen pun tak sesuai harapan. Belum lagi persoalan persaingan dengan produk-produk impor, petani lokal sungguh tak terlindungi. Mereka pun kalah bersaing. Pilihan menjual sawah nampak masuk akal, logis, pun menguntungkan. Dengan menjual lahan pertanian mereka tak lagi bingung berjaga tiap malam untuk menunggu giliran mendapatkan air, atau bersusah payah menjaga hasil panen dari para pencuri yang kerap mengintai. Menjual sawah berarti lepas dari soal mahalnya pupuk dan persaingan bebas dengan produk-produk impor.

Kini tinggal Min seorang diri. Keputusan untuk menyudahi cerita sebagai pedagang sayur keliling untuk kemudian hidup di desa, menurutnya adalah jalan yang terbaik. Bayangan bekerja di sawah milik kerabat setelah sawah miliknya terjual, menjadi jawaban kesulitan berdagang sayuran di kota. Tapi, sekali lagi ia bingung memikirkan dan membayangkan apa lagi yang mesti dilakukan saat tak ada lahan lagi di desa, setidaknya lahan untuk memproduksi karbohidrat sendiri. Di desa lahan produktif yang tersisa tak lagi ditopang oleh sistem sosial dan ekologi yang memadai sejak para investor itu mengubah wajah desa menjadi lebih kosmopolitan dan “beradab”.

Min pernah bercerita, desa tempat ia tinggal pernah didatangi orang-orang pemerintahan setempat beserta serombongan orang yang tak ia kenal. Konon kabar di daerah tempat ia tinggal mengandung sejenis mineral tertentu yang menarik perusahaan-perusahaan multinasional untuk menjalankan industri ekstraksi, tambang. Meski masih rencana, dan sampai saat ini belum ada kelanjutan, Min merasa sangat kuatir jika suatu saat nanti ia terpaksa harus pergi atas nama kuasa tambang. Industri tambang belum lagi mulai, namun hidup terasa kian sulit dan mencekik leher. Kini Min mengerti kenapa banyak warga yang memilih hijrah dari desa tempat ia tinggal. Min merasa tak punya banyak pilihan. Cerita buruh tani nampaknya bakal berakhir, tak ada lagi pola tutur yang tersisa darinya.

Di sisi lain pasar-pasar tradisional perlahan namun pasti menghilang dari kehidupan sosial desa. Minimarket menjamur menggantikan pasar tradisional, bahkan harga-harga barang yang dijual jauh lebih murah. Min tak bisa lagi memanfaatkan hasil kebun sendiri, tak ada tempat yang bisa menampung hasil panennya. Sebenarnya pasar tradisional masih ada beberapa, tapi jarak dari rumahnya cukup jauh. Ia tak mau beresiko merugi tenaga, karena biaya transportasi menjadi mahal seiring dengan kenaikan BBM. Min sepenuhnya bergantung dari kiriman uang dari Si Sulung.

Cerita para pemuda, imajinasi anak-anak mantan petani itu lebih tertata untuk menyongsong kehidupan metropolis, tak terlintas sedikitpun keinginan untuk memperdalam teknik bertani atau bercocok tanam. Menolak pertanian dan petani sebagai konsep sejarah menurut mereka lebih baik, lebih mudah, karena jenis-jenis pekerjaan –selain sebagai petani– yang sesuai dengan jenjang pendidikan tinggi telah siap menunggu di kota. Di benak para pemuda, anak mantan petani itu, kota adalah puncak peradaban, puncak karir dalam hidup mereka. Wajar, karena desa tak menjanjikan apa-apa bagi pemuda-pemuda itu, kecuali bagi para investor dan perusahaan-perusahaan transnasional.

Berkurangnya lahan produktif nampaknya telah ikut meminggirkan cerita-cerita tentang kehidupan sosial dan kelangsungan ekologi di dalam satu wilayah tertentu. Min menjadi subjek, saksi hidup berlangsungnya perubahan pola tutur dalam beberapa ruang hidup. Min bertutur dalam ruang hidup perkotaan sebagai pedagang sayur, dan bertutur dalam ruang hidup perdesaan sebagai buruh tani. Awalnya perubahan pola tutur itu berlangsung dengan baik, nyaris sempurna.

Sebagai makhluk ekonomi Min telah memenuhi prinsip-prinsip Cateris Paribus, syarat-syarat logika daya beli, daya produksi, dan punya motif untuk memperbaiki kualitas hidup. Sebenarnya Min mengalami kegagalan bertutur dalam ruang ekonomi perkotaan, dan bersiap dengan pola tutur baru di desa. Malangnya, di desa ia segera terancam kehilangan pola tutur sebagai buruh tani karena kelangkaan lahan produktif dan krisis sumber daya. Di desa terjadi kelangkaan sumber-sumber daya ekologi yang semakin memiskinkan imajinasi tentang kehidupan sosial. Min tak sekadar terancam kehilangan pola tutur namun juga terancam kehilangan identitas sebagai orang desa. Menjadi buruh tani menjadi upaya terakhir menyelamatkan entitasnya sebagai manusia sosial dan manusia ekonomi.

Di kota, Min menjadi subjek bergantungnya hidup suatu komunitas urban yang miskin lahan namun progresif dalam memupuk daya beli. Jangankan lahan, imajinasi untuk memproduksi karbohidrat sendiri tak pernah terlintas dalam benak mereka. Keberadaan Min di kota sangat membantu akumulasi kapital masyarakat. Kegagalan Min beserta komunitasnya bertutur dalam ruang hidup perkotaan berarti hilangnya faktor alternatif pendukung akumulasi modal masyarakat urban. Hubungan kausalitas itu seolah kebetulan, terjadi begitu saja. Bahkan sampai saat ini, tiap tahun pertambahan penduduk di kota kian meningkat. Mungkin sebagian diantaranya berhasil menggantikan posisi Min.

Hubungan kausalitas di tiap-tiap ruang hidup baik di kota ataupun di desa tentang sumber-sumber daya yang mulai kritis, telah memosisikan Min beserta komunitasnya dalam situasi krisis. Sebuah krisis yang sebenarnya bukan mutlak miliknya ataupun komunitasnya, tapi sebuah krisis ruang hidup. Kekayaan pola produksi-konsumsi dalam sebuah ruang hidup diambil alih dan didefinisikan secara tunggal sebagai ruang ekonomi an sich. Pola produksi-konsumsi menjadi mata rantai aktivitas manusia yang mendorong ruang hidup sekaligus menegasikannya.

Jika Min dan komunitasnya menerima situasi krisis ruang hidup sebagai bagian dari konsekuensi hidup, lantas krisis itu milik siapa? Atau, ketika semua orang menerima hanya ada satu ruang hidup sebagai ruang ekonomi saja, sebenarnya krisis itu ada atau tidak? Bisa jadi selama ini yang terjadi sekadar perubahan pola produksi-konsumsi dan sama sekali tak berkaitan dengan relasi sosial dan lingkungan hidup. Bahkan, krisis itu mungkin cuma dalih seseorang soal perbedaan kekuatan daya beli, perbedaan jenis pekerjaan, perbedaan besar gaji, perbedaan hasil produksi, dst. Lantas dimana ruang hidup sosiologis, ruang hidup ekologis, dan dimensi-dimensi hidup yang lain? Apakah daya beli dan pola produksi-konsumsi masih berlaku sebagai standar atau ukuran untuk menakar ruang-ruang hidup lainnya? Bahkan, krisis yang terjadi telah menghapus ingatan, imajinasi, dan sejarah tentang kekayaan pola tutur dalam ruang hidup sosial-ekologis. Sungguh ironis.

Belajar membaca krisis berarti melihat dan mempelajari pola-pola produksi-konsumsi terkait dengan ruang hidup dan kesadaran spasial sebuah komunitas dalam satuan ruang dan waktu. Artinya di dalam kehidupan tidak ada satuan ruang dan waktu yang tunggal, karena pola produksi-konsumsi telah membuat sebuah daur kehidupan, sejarah yang berbeda sesuai dengan karakter sebuah komunitas masyarakat. Permasalahan muncul ketika ruang ekonomi diyakini menjadi satu-satunya ruang hidup yang memungkinkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan praktis menegasikan ruang hidup lainnya. Sehingga yang berlaku sebagai pola tutur atau pola produksi-konsumsi adalah pola tutur ekonomi. Pola tutur sosial-ekologi tak menemui tempatnya sebagai aktivitas yang menopang ruang hidup. Maka kesadaran spasial tentang kehidupan sosial dan ekologi yang memiliki kekayaan pola tutur telah direduksi oleh keniscayaan ruang ekonomi sebagai satu-satunya ruang hidup.

Gejala pengabaian ruang hidup atas nama berlangsungnya pola tutur ekonomi adalah krisis sosial dan ekosistem menjangkiti wilayah-wilayah yang kaya sumber daya. Wilayah-wilayah tersebut sebenarnya memiliki keragaman pola tutur yang diyakini sebagai sejarah yang membentuk kultur masyarakat yang memungkinkan berjalannya daur kehidupan selama berabad-abad. Tapi kemu

dian kepentingan ekonomi global menyatakan keinginannya untuk mengelola sumber daya tersebut dengan dalih partisipasi dalam “pembangunan” wilayah. Akhirnya pemerintah menjadi taruhan tentang cerita keberhasilan atau kegagalan, masuknya sebuah pola tutur dominan dalam sebuah wilayah adminsitratif.

Dengan demikian belajar membaca krisis berarti juga membaca kemungkinan rejim pengurusan publik dalam menata perikehidupan sosial, ekonomi, dan ekologi. Pun pula membaca aspek relasi kekuasaan yang mendeterminasi berlangsungnya prak

tik-praktik dominan, upaya-upaya untuk mengelola ruang kehidupan, memproduksi kebijakan, serta mendefinisikan ruang hidup demi satu kepentingan tertentu. [dit]