Tags

, ,


Baru pulang kerja, kehujanan, jadi aku sengaja mampir berteduh di kantor seorang kawan. Rasanya begitu lama tak berjumpa rekan-rekan seperjuanganku itu. Seperti biasa, aku langsung ke dapur menyeduh secangkir kopi hitam. Hum, wangi, nikmatnya, sampai lupa baju yang agak basah karena hujan. Sebatang rokok mulai kubakar, asapnya kuhisap dalam-dalam sampai dada terasa hangat, sambil bercanda dengan dua orang temanku yang cuma senyum kecut rasan-rasan kisah Mas Markus.

“Aneh ya, sekarang orang-orang kok baru permasalahkan koruptor.”

“Loh, itu kan bagus, Pak Polisi yang memberi petunjuk untuk segera menangkap koruptor itu perlu diberi penghargaan.”

“Penghargaan apa? kalau Polisi lalu lintas yang suka “berdamai” itu ditindak, baru, acungkan jempol untuk Pak Kapolri. Kalau Mas Markus ini kan urusan gede, masak pejabat yang lebih tinggi ndak kecatut?”

“Ya, setidaknya kan ada niat baik dari para pejabat reformis yang mau adakan perubahan di dalam.”

“Begini, korupsi itu ibarat koreng yang mencederai kulit tubuh. Kalau satu dua koreng disadari bisa merusak kesehatan dan pemandangan segera diobati, kulit bisa mulus lagi. Tapi kalau sekujur tubuh dipenuhi koreng dan dianggap biasa, itu namanya apa bos?”

“Kalau begitu, koreng itu penyakit atau bukan?”

“Penyakit kalau cuma satu dua saja. Tapi kalau sampai sekujur tubuh, emm, kayaknya tergantung Mas Markus, dia yang merasakan. Kalau sudah mulai gatal, ya dia mungkin bisa garuk-garuk koreng itu sampai terkelupas dan berharap kesembuhan. Masalahnya korengnya kan bukan cuma satu dua, tapi sekujur tubuh, bisa-bisa ganti kulit.”

“Kayak ular dong ganti kulit. Jadi Mas Markus dan koreng bagaimana?”

“Ya kita lihat saja, soalnya koreng itu katanya bisa menular, kalau dibiarkan bisa sampai ke mana-mana, tak terkendali, menjadi-jadi. Tapi kalau merasa malu bisa lari ke luar negeri kok.”

“Yang korengan saja bisa ke luar negeri, kita yang sehat walafiat ini kok paling banter cuma bisa ke tanah abang ya? he he he…”