Tags

, , ,


-Jakarta 13/12/09- Hari Minggu agak mendung, aku berangkat menuju gedung BPK di Jalan Gatot Subroto, dimana teman-teman alumni UNEJ sudah menunggu di sana. Informasi yang kudapatkan di milis dan facebook menjelaskan jika pertemuan para alumni Universitas Jember akan diadakan pada tanggal 13 Desember di Batavia Marina, Ancol Barat. Pun, salah seorang anggota KAUJE yang aktif, Mas Praminto memberitahu untuk ikut datang meramaikan.

“Dit,” Mas Pram menyapaku di depan pintu gerbang BPK. Nampaknya dia sudah menunggu agak lama. Teh botol dan sebatang rokok tengah ia nikmati sembari menunggu teman-teman yang lain. Aku pun langsung ikut memesan secangkir kopi seduh dan menyalakan sebatang rokok mild di bangu pedagang kaki lima depan gedung BPK. Semalam, aku membaca pesan singkat dari Mas Pram di telepon selularku, “besok pakai dresscode, atas pakai kaos polo, bawah jeans warna gelap.” Ternyata, informasi mengenai dresscode itu memudahkan kami untuk saling mengenal, alumni-alumni yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya yang belum pernah bertemu sebelumnya. Saat itu para alumni yang berkumpul di gedung BPK hanya beberapa saja yang mengenakan dresscode, mungkin tidak lebih dari 10 orang. Akhirnya kami pun saling memperkenalkan diri. Tak lama kemudian kami pun bertolak dari gedung BPK tepat pukul sembilan pagi setelah mendapat instruksi dari panitia.

Bis BPK yang kami tumpangi melaju dengan santai, di dalam masih banyak kursi kosong, nampaknya alumni yang lain lebih memilih berangkat langsung ke lokasi reuni. Sesampai di lokasi, kami langsung menghambur ke lantai 2 tempat diadakannya acara itu. Panitia sudah siap di sana menunggu dengan kertas-kertas registrasi. Mereka mendata para alumni yang hadir, menempelkan identitas di dada berupa nama, fakultas-jurusan, dan angkatan. Setelah itu panitia mengambil gambar para peserta dengan kamera digital sebagai pelengkap data base alumni. Saat aku tiba, sudah ada sekitar 300 alumni yang turut hadir.

Tari remo, tarian khas Jawa Timur menjadi suguhan awal di acara yang ceria itu. Tiga orang penari dengan mengenakan busana Jawa Timur-an dengan lincah dan gagah menyambut kedatangan para alumni yang sibuk bertegur sapa. Setelah tarian usai, acara segera dimulai dengan sambutan-sambutan. Choirul Sholeh Rasyid Ketua Wilayah, Walikota Jakarta Utara, dan Ali Masykur Musa Ketua KAUJE berpidato mengawali klangenan. “Hari ini kita bertemu bukan untuk berwacana berdiskusi tentang ide dan gagsan, saat ini kita bertemu untuk melepas kangen satu sama lain,” ujar Choirul.  Sebelum acara masuk sambutan, lagu Indonesia Raya dinyanyikan bersama dengan khidmat.

Mas Pram dan para peserta lain yang membawa kamera sibuk membidik target masing-masing. Suara gelak tawa, canda ria, jabat tangan dan peluk mesra mewarnai sepanjang acara. Alumni angkatan 70an sampai 2000an tumpah ruah di hall Batavia Marina. Aku pun menyadari jika acara reuni wong Jember ini tak lebih dari sekadar klangenan dan kangen-kangenan, seperti yang sudah disampaikan Ketua Wilayah di awal acara. Tapi aku tak ingin terjebak dengan situasi itu. Kutemui beberapa alumni, salah satunya seorang Direktur LSM di Jakarta. Kami pun bertegur sapa soal aktivitas kekinian, dan sedikit tentang isu-isu NGO. Kemudian kami saling bertukar nomor telepon untuk berdiskusi lebih serius di kemudian hari.

Tak hanya itu, aku juga bertemu dengan seorang alumni angkatan 80an. Ia bercerita tentang sejarah militer, tak lama berselang kami yang sebelumnya belum pernah bertemu hanyut dalam diskusi tentang sejarah nasional. Di sebuah pojok, kami membuka jendela, mencuri sela hanya untuk membakar sebatang rokok. Menyenangkan memang, bertemu dengan para alumni tapi tak sekadar klangenan. Ada substansi, ada kegelisahan yang selalu ingin dibagi, tak terkecuali dalam ruang reuni itu. []