Tags

, , ,


Jakarta 09/12/09- Hari ini ribuan massa berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia, memperingati hari anti korupsi sedunia. Elemen mahasiswa, LSM, ormas, dan masyarakat simpatisan anti korupsi melakukan longmarch sepanjang jalan MH. Tamrin menuju Monas. Siang itu jalanan begitu ramai, bukan macet karena kendaraan bermotor seperti biasanya, namun hiruk pikuk demonstran yang meneriakkan slogan “hukum mati koruptor” menuntut ketegasan pemerintahan SBY untuk mengganyang koruptor.

Aparat terpaksa menutup beberapa titik akses ke arah Tamrin, dan mengalihkan ke jalur lain selama aksi damai itu berlangsung. Sekitar 10.000 massa tumpah ke ruas-ruas jalan, mereka bergerak perlahan namun pasti mengikuti komnado koordinator lapangan masing-masing.

Bermacam-macam poster, spanduk, selebaran dengan berbagai ukuran, menghiasi jalanan yang sesak oleh pendemo. Gambar Wakil Presiden Budiono, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dipampang sebagai poster dengan ukuran besar dan kecil. Kedua pejabat itu nampak seram dengan dua taring yang menyembul dari bibir mereka, warna merah taring-taring itu begitu mengerikan.

Para demonstran mencoba mengaitkan momen peringatan anti korupsi sedunia itu dengan skandal Bank Century yang melibatkan dua orang andalan SBY itu. Budiono yang menjabat sebagai Gubernur BI pada waktu itu, dan Srimulyani sebagai Menteri Keuangan dianggap bertanggungjawab atas pengaliran dana talangan Bank Century yang mengakibatkan kerugian negara sebesar 6,7 triliyun rupiah.

Sampai di Monas, para demonstran bergabung dan melanjutkan orasi. Nampak beberapa orang aktivis menyatakan deklarasi “Indonesia Bersih” di atas panggung. Aksi berlangsung damai. Pukul 14.00 WIB massa berangsur-angsur bergerak meninggalkan Monas. Menjelang akhir peringatan anti korupsi sedunia beberapa orang aktivis JAMPER, sebelum mengakhiri aksinya, membakar poster Srimulyani, Bodiono, dan SBY terlebih dulu.

Melihat gelagat aksi yang akan berubah menjadi vandal, aparat langsung merangsek maju dan menangkap dua orang yang berpotensi memicu kerusuhan. Serentak puluhan wartawan foto, cetak, elektronik dari dalam dan luar negeri, berebut momen dengan mendekat ke arah massa yang bergumul.

Kekhawatiran Presiden SBY dalam pernyataan sehari sebelum aksi damai tanggal 09 Desember, bahwa ada “penumpang gelap” nampaknya tidak terbukti. Ketertiban barisan massa pada komnado, tetap menjaga kebersihan jalan raya, dan tidak bertindak anarkis menjadi wajah demonstrasi saat itu. Meski sempat diwarnai aksi rusuh di Kota Makasar, aksi massa yang juga dilakukan serentak di berbagai provinsi itu menjelaskan kepada pemerintah bahwa masyarakat memang menginginkan perubahan. []