Tags

, ,


Kawasan pesisir utara Jawa Timur sebagai pusat perdagangan, nyata menjadi situs sejarah kongsi Cina dalam merawat jaringan bisnis dengan VOC, Pemerintah Hindia Belanda, kekuasaan elit pribumi, bahkan antarsesama pedagang “Kunlun”. Penyusunan narasi dengan mempergunakan pendekatan rekonstruksi sejarah bisnis Cina di pesisir utara Jawa Timur sekitar abad 18, setidaknya memerhatikan tiga hal penting. Pertama soal sejarah migrasi komunitas Cina di wilayah pesisir, kedua soal interaksi sosial antara komunitas Cina dengan masyarakat pribumi, VOC, dan dengan orang-orang Cina sendiri. Ketiga, melihat keberagaman jenis aktivitas masyarakat Cina di bidang perdagangan sebelum abad 18 sampai abad 19.

Kehadiran komunitas Cina atau Tionghoa di Jawadwipa menjadi satu bagian penting dalam upaya memetakan rumitnya jaringan dagang yang mereka bangun jauh sebelum para pedagang dari Eropa merapatkan kapal-kapalnya di perairan Nusantara.

Para pedagang Cina itu mementuk jaringan dagang dengan bekerjasama dengan penguasa pribumi, dan sesama pedagang Cina melalui perkawinan. Pola kawin politik ini memungkinkan hubungan ekonomi menjadi sebuah hubungan politik yang mendukung langgengnya bisnis orang-orang Cina di Jawa.

Tak heran, jika pada masa peperangan dan perebutan kekuasaan raja-raja di Jawa, banyak diantara bangsawan-bangsawan keturunan Cina ikut terlibat dalam berbagai persetruan politik.

Gelombang pertama datangnya para imigran asal Cina daratan itu telah mengentalkan etos kerja dan jiwa entrepreneur orang Cina daratan sehingga mampu berdaptasi dan bekerja apa saja. Bahkan pada abad ke-18 peran ekonomi mereka semakin menguat. Awalnya mereka bekerja sebagai pedagang perantara, kemudian perlahan namun pasti orang-orang Cina itu mulai menyewa tanah, menjadi pemilik penggilingan tebu, pengumpul pajak jalan (Tol), pemegang lisensi perdagangan opium dan minuman keras, dan jenis perdagangan lainnya.

Sebenarnya wajah pedagang yang hidup pada abad 16 sampai abad 18 ada dua macam, pedagang pemberi kredit (uang), dan penerima modal. Para pemberi kredit biasanya tinggal di rumah saja, tapi terkadang mereka juga bepergian sendiri atau menyuruh seorang agen untuk berkeliling atau berdiam di perantauan. Para pedagang penerima modal tugasnya menjalankan perdagangan dengan cara berkeliling atau berlayar dari satu daerah ke daerah lainnya untuk menjajakan barang dagangannya. Sedangkan yang menjadi pusat perdagangan adalah daerah pertanian dengan cara menjangkau daerah pinggir sungai dan pantai. Dan, produk perdagangan yang menjadi komoditi utama di pesisir pantai utara Jawa Timur waktu itu adalah beras dan kayu jati.

Selain ulet dan terampil dalam berdagang, salah satu kunci keberhasilan komunitas Cina merajai perdagangan di Pulau Jawa pada umumnya dan khususnya kawasan pesisir utara Jawa Timur di abad 18 adalah faktor kondisi sosio politik zaman itu. Setelah Portugis berhasil menguasai Selat Malaka, praktis para pedagang pribumi dan Cina mengalihkan perhatian bisnisnya ke pelabuhan lain: Aceh dan Banten. Secara bertahap, jalur perdagangan pun mulai bergeser ke jalur utara Pulau Jawa demi menghindari patroli kapal-kapal Portugis. Kondisi bandar-bandar, pelabuhan dagang di Nusantara mengalami pasang surut akibat konflik politik dan perebutan kekuasaan raja-raja Jawa yang akhirnya membawa VOC keluar sebagai pemenang.
Sebagai kongsi dagang yang memiliki otoritas politik, VOC mulai melakukan praktik monopoli perdagangan sebagai hasil konsesi politik dengan para raja Jawa. VOC selalu memiliki andil, campur tangan, dalam setiap penahbisan raja-raja Mataram: Amangkurat I dan II. Hal itu membuat kekuasaan kerajaan semakin terpinggirkan, rakyat semakin terbebani dengan hutang yang harus segera dibayar dalam bentuk pajak. Pemberontakan-pemberontakan pun mulai muncul, salah satunya sempat menyeret komunitas Cina ke dalam pusaran politik. Peristiwa “pemberontakan Cina” di Batavia pada tahun 1740 menjadi noktah kelam dalam sejarah pekerja Cina di Pulau Jawa. Kompeni merespon pemberontakan itu secara represif. Setidaknya 10.000 orang Cina tewas dalam insiden itu.

Partner yang Baik
Lumpuhnya pusat-pusat perdagangan di Nusantara pada abad akhir abad 17, seperti Malaka, Aceh, Banten, Jawa Timur, dan Makasar menjadi sebuah awalan bagi VOC menuju ke puncak kesuksesannya sebagai imperialis di abad 18. Namun pada paruh pertama abad 18 pula, VOC mengalami kebangkrutan akibat membiayai peperangan yang mahal dan perilaku korup para pejabatnya. Akhirnya VOC secara administratif dinyatakan bangkrut dan otoritas politiknya diambil alih oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dari seluruh perubahan kondisi sosio politik itu, ternyata tidak berpengaruh pada eksistensi orang-orang Cina sebagai pedagang. Bahkan peran ekonomi perdagangan mereka semakin menguat sejak abad ke-18.

Salah satu faktor kesuksesan pedagang Cina terutama dalam mengelola bisnis candu di Hindia Belanda karena jaringan dagang yang luas, seluas kekuasaan kompeni Hindia Belanda itu sendiri. Jaringan perdagangannya meliputi kawasan regional, interegional, dan antarpulau. Perkembangan konsumsi candu telah menyertai perkembangan imperium perdagangan orang-orang Cina (hal. 120). Selain itu para pedagang Cina di pesisir utara Jawa Timur pandai menangkap kesempatan dan fasilitas yang diberikan oleh VOC berupa lisensi berdagang opium, maupun fasilitas dan perlindungan dari penguasa pribumi. Selanjutnya mereka juga membangun hubungan dagang dengan sesama etnis Cina untuk memperkokoh ikatan diantara mereka sendiri.
Infiltrasi VOC ke pesisir utara Jawa Timur, telah melibatkan para pedagang Cina sebagai jalan keluar, selain kekuatan militer, untuk mengatasi kesulitan perdagangan Kompeni Hindia Belanda di sana. Kompeni lebih memilih berpartner dengan para pedagang Cina karena kepiawaiannya dalam hal berdagang secara koleksi ataupun distribusi. Dengan membentuk jaringan dagang dengan orang-orang Cina di pesisir, Kompeni semakin memperlancar dominasi perdagangan di wilayah Jawa Timur meliputi Tuban, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Probolinggo, Besuki, Panarukan, dan Madura Barat (Bangkalan, Sampang, Pamekasan).

Buku berjudul “Cina Pesisir: Jaringan Bisnis Orang-Orang Cina di Pesisir Utara Jawa Timur Sekitar Abad 18”, mengetengahkan tesis tentang kerjasama tiga arah para pedagang Cina dan politik asosiatif mereka untuk bertahan di tengah pergolakan sosio politik Hindia Belanda.

Para pedagang Cina sekitar abad ke-18 membangun kerjasama dengan VOC, penguasa pribumi, dan antarsesama komunitas Cina untuk melancarkan praktik dagang.

Akhirnya, pesisir utara Jawa Timur sebagai lokus sosial, ekonomi, dan politik yang meliputi kota-kota pelabuhan yang strategis, telah melahirkan sebuah generasi Cina kaya-raya, yang terdiri dari orang-orang Cina di Jawa.
Provinsi Jawa Timur merupakan bagian permanen dari pemerintahan Hindia Belanda karena faktor geopolitiknya. Buku yang bercerita tentang sejarah bisnis Cina ini merupakan awalan bagi ulasan sejarah perekonomian kota-kota di wilayah pesisir di Indonesia. Informasi cukup berharga yang bisa didapat dari buku ini antara lain mengenai sejarah keturunan raja-raja di Jawa yang juga keturunan Cina. Selain itu analisis sejarah berbasis ekonomi maritim bisa menjadi jembatan bagi penggalian lokus-lokus sosial, politik, budaya, serta membuka kemungkinan penemuan fakta yang mampu mendukung terus-menerus penggalian sejarah maritim bangsa Indonesia. [ ]

Franditya Utomo

Informasi Buku

Judul : Cina Pesisir: Jaringan Bisnis Orang-orang Cina di Pesisir Utara Jawa Timur Sekitar
Abad 18
Penulis : Retno Winarni
Penerbit : Pustaka Larasan
Tebal : 170 halaman
Tahun terbit : 2009
Penyunting : Praminto Moehayat & Trijono