Tags

, , , , , , , , , , ,


Drama perebutan kekuasaan dan gonjang-ganjing pemerintahan yang melibatkan kaum Cina, terutama perempuannya sebagai ‘kambing hitam’ …

Kemalangan yang menimpa sebagian perempuan etnis Tionghoa di Indonesia dalam tragedi kemanusiaan Mei 1998, nampaknya telah menggugah beberapa penulis novel terkemuka, salah satunya Sindhunata dan Veven Sp Wardhana, untuk kembali merefleksikan nilai-nilai kemanusiaan dan dialog antarbudaya yang telah lama menjadi modal sosial bangsa Indonesia. Cerita tentang perempuan entis Tionghoa dalam bingkai cerita panjang (novel) ataupun cerita pendek (cerpen) karya kedua seniman itu, memiliki kekhasan dalam masing-masing refleksi humanisnya. Kebetulan mereka berdua sama-sama berasal dari Kota Malang, Jawa Timur. Sebuah kota yang sejuk, kawasan hunian dan kota wisata yang tak luput dari ketelengasan penguasa dalam tragedi pembantaian etnis Cina pada tahun 1947. Saat itu tentara Belanda melancarkan politioneel actie, yang dilakukan dengan menjarah, merampok, memerkosa, dan membunuh orang-orang Cina. Hal yang serupa terjadi di beberapa kota di Jawa Timur menjelang aksi militer Belanda di Kota Malang. Tercatat ratusan bahkan ribuan nyawa orang-orang Cina melayang pada peristiwa itu.

Sebagai seorang seniman, sastrawan, dan filsuf, Sindhunata memilih menulis novel berjudul “Putri Cina” (2007) sebagai kritik strategis pada makna relasi antarmanusia, antaretnis, serta sikap keberpihakannya kepada kemanusiaan dan keadilan. Sebuah cita-cita yang selalu diperjuangkan umat manusia dari masa ke masa. Di sisi lain, sosok jurnalis kawakan dan penulis novel populer, Veven Sp Wardhana mengoleksi kumpulan karya cerpennya yang berbobot dalam sampul buku berjudul “Panggil Aku Penghwa” (2002).

Cerita panjang-pendek yang mengisahkan sosok perempuan etnis Tionghoa sebagai bagian dari kelompok minoritas, karya kedua novelis itu memang terlepas dari kerangka teoritikal feminis ataupun konsep tentang gender. Seperti apa yang pernah diinterpretasikan Tineke Hellwig dalam “In The Shadow of Changes, Citra Perempuan dalam Karya Sastra Indonesia” (2003), bahwa kebanyakan novel tentang perempuan yang ditulis oleh laki-laki cenderung memosisikan karakter laki-laki sebagai pahlawan dalam dunia imajinernya (Hal. 11).

Mungkin cukup tepat analisis Hellwig itu. Sosok Peng Hwa sebagai etnis Tionghoa, ataupun Gurdo Peksi suami Giok Tien yang berasosiasi dengan sosok Putri Cina yang malang, muncul sebagai citra pahlawan dalam masing-masing cerita. Namun, dalam konteks diskriminasi yang berbasis sentimen etnis Tionghoa di Indonesia, laki-laki pun adalah korban. Entah ia memang keturunan asli Cina, atau sekadar memiliki istri berdarah Tionghoa, laki-laki yang demikian juga menjadi sasaran stereotipe masyarakat. Karakter laki-laki yang identik sebagai korban dalam masing-masing narasi panjang-pendek justru sangat efektif untuk menjelaskan diskriminasi etnis Tionghoa bukan hanya berada pada ketimpangan relasi gender, namun lebih pada sistem budaya patriarki yang melegitimasi kekerasan sebagai keniscayaan hidup manusia.

Dari Lukisan ke Tulisan

Sindhunata, seorang penulis novel yang menjadi karya sastra klasik: “Anak Bajang Menggiring Angin” (1983), terinspirasi dalam sebuah pameran lukisan dan berkenan hati untuk menuangkan imajinasinya ke dalam tulisan apik berjudul “Putri Cina” (2007). Kepiawaiannya dalam menafsirkan mitologi Jawa dalam berbagai serat dan babad, terutama Babad Tanah Jawa, nampaknya menjadi sumber utama dalam menarasikan kisah Giok Tien, tokoh utama dalam cerita itu. Babad Putri Cina yang sedianya menjadi katalog pendamping pameran lukisan itu, dengan tangan dingin, dibuatnya menjadi karya sastra kritis tentang ‘genealogi’ kekerasan minoritas etnis Cina di Indonesia. Bukan sekadar catatan sejarah yang ia telusuri, namun cerita-cerita pewayangan ia refleksikan sebagai basis nilai. Menurutnya, sumber kekerasan yang menimpa etnis Cina di Indonesia erat kaitannya dengan moral ekonomi dan tradisi sebagian masyarakat Tionghoa sebagai perantau, yang dijiwai semangat taoisme: sebuah pencapaian harmoni antara kebutuhan material dan spiritual. Namun pada praktiknya, mengapa orang-orang Cina di perantauan kerap menjadi korban kekerasan dan pembantaian? Sindhunata mencoba menjawabnya dengan melacak akar kekerasan dengan menafsirkan sebuah mitologi jawa tentang kisah awal mula penciptaan dunia Jawa.

Sebelum dunia beserta isinya tercipta, para dewa-lah yang menjadi penguasa. Sang Hyang Tunggal, seorang penguasa dunia para dewa saat itu, memiliki tiga orang anak yaitu Sang Hyang Antaga, Ismaya, dan Manikmaya. Dua bersaudara diantaranya, Syang Hyang Antaga dan Ismaya ketika beranjak dewasa, saling bersaing memperebutkan tahta ayahandanya. Persaingan itu berujung pada perseteruan, pertarungan adu kesaktian dalam perlombaan menelan sebuah gunung Garbawangsa yang ditawarkan oleh Manikmaya, sebagai jalan tengah untuk akhiri perebutan tahta. Lantaran keinginan yang kuat untuk menang, Antaga harus merelakan wajahnya yang rupawan. Mulutnya sobek ketika berkali-kali mencoba menelan gunung itu. Namun tidak demikian dengan Ismaya. Dengan kesaktiannya ia mampu menelan gunung Garbawangsa yang berisikan seluruh kehidupan di dunia fana. Tetapi, akibat nafsu ingin mengalahkan saudaranya sendiri, perut Ismaya menjadi menggelembung besar terganjal gunung yang ditelannya itu. Mengetahui tabiat putra-putranya yang saling berseteru dan bertengkar seperti manusia –padahal manusia belum lagi dicipta, Sang Hyang Tunggal pun murka. Diusirnya kedua anaknya ke dunia menjadi pendamping dua sifat manusia, baik dan jahat. Antaga berubah namanya menjadi Togog dan bertugas mendampingi sifat jahat manusia, sedangkan Ismaya berubah namanya menjadi Semar serta bertugas mendampingi sifat baik manusia. Apa yang terjadi dengan Manikmaya? Ternyata dialah yang paling diuntungkan dari perseteruan dua saudaranya itu. Ketika kedua saudaranya diusir ke dunia mendampingi manusia, Manikmaya naik tahta menggantikan ayahandanya. Dia lah yang menjadi biangkeladi persetruan dan perlombaan adu kesaktian menelan gunung Garbawangsa. Manikmayalah konspirator yang memenangkan persaingan dan perebutan tahta ayahandanya. Setelah berhasil berkuasa ia tak ubahnya dengan tingkah manusia yang berlaku sewenang-wenang dan aniaya. Penggalan kisah sejarah terlahirnya dunia Jawa yang mengisahkan para dewa yang berkuasa, merupakan ajaran penting tentang nafsu yang harus selalu diwaspadai. Manusia memiliki watak dasar yang berpotensi menimbulkan kerusakan. Bagaimana tidak, dalam kisah di atas, para dewa pun meniru perilaku manusia yang suka berseteru. Kisah lain yang menurut Sindhunata menggambarkan manusia yang tidak mampu melampaui kodratnya untuk terus melakukan kekerasan, terdapat dalam tragedi padang Kurusetra. Sebuah cerita dalam episode epos besar Mahabarata: perang Baratayuda. Perang saudara antara kubu Pandawa dan Kurawa.

Pada suatu mangsa, Raja Janamejaya, putra Parikesit, cucu Abimanyu dari keluarga Pandawa yang gugur dengan gagah perwira saat perang Baratayuda, ingin membersihkan diri dan keturunannya dari darah yang tertumpah di Kurusetra. Ia berniat melakukan upacara kurban yang bisa membebaskan dirinya beserta keturunannya dari kutukan perang saudara itu. Nampaknya takdir masih belum berpihak pada anak keturunan Pandawa ini. Sewaktu akan melaksanakan upacara, datanglah seekor anjing yang bernama Seremaya. Ketika upacara akan dilangsungkan, anjing tersebut tiba-tiba mendekat. Lantaran seekor anjing yang dianggap mengganggu jalannya upacara, Sutrasena adik Janamejaya, memukul anjing itu hingga lari dan mengadu kepada ibunya, Sarama. Mendengar tangisan dan sedu-sedan anaknya, murkalah sang ibu. Dikutuknya Janamejaya beserta anak keturunannya sehingga tak terlepas dari bencana perseteruan abadi antarsaudara. Anak manusia, keturunan Janamejaya ditahbiskan tidak akan bisa melampaui kodrat Saremaya sebagai seekor anjing. Makhluk yang suka bertengkar dengan sesamanya.

Kisah-kisah itu di-wedar oleh Sabdopalon-Nayagenggong –seorang abdi raja Brawijaya kelima yang ternyata adalah Sang Hyang Ismaya sendiri– saat Putri Cina bertanya mengapa ia dan kaumnya (etnis Tionghoa di tlatah Jawa) selalu binasa dan menjadi korban kekerasan. Kisah tersebut menggambarkan watak dasar manusia yang serakah akan harta, gelar, dan jabatan, apapun akan ditempuh untuk memperolehnya, meski saudara sendiri taruhannya. Dalam novel Putri Cina, penulis menyajikan ajaran-ujaran moral tentang sisi determinan manusia yang cenderung mengumbar nafsu duniawi sebagai premis awal untuk memetakan akar kekerasan, terutama kekerasan yang menimpa etnis Tionghoa di Indonesia.

Simpulan Sindhunata tidak berhenti pada lacakan mitologi dan kisah pewayangan saja, ia sengaja menciptakan tokoh Giok Tien sebagai subjek kritiknya terhadap situasi sosial-politik Indonesia. Kritik terhadap dialog antaridentitas etnis dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Saat situasi aman tentram, aman terkendali, kelompok etnis Cina di Indonesia yang gemar berdagang, dirangkul sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam suku dan etnis. Mereka adalah saudara serumpun. Tapi ketika situasi sosial berubah arah, politik menjadi kian tak menentu, sementara jika dibiarkan akan terjadi kekacauan yang lebih luas, maka berpalinglah bangsa ini kepada etnis Cina untuk sesegera mungkin ‘ditindak’, dihakimi, dan dibinasakan… Kelompok Tionghoa di Indonesia, menurut Sindhunata, selalu menjadi ‘tumbal’ perubahan sosial, selalu menjadi kelompok yang patut disalahkan atas semua krisis dan seluruh kemerosotan nilai.

Bayangan kekerasan yang akan melanda tanah Jawa, yang sebenarnya merupakan sejarah yang berulang, kutukan Saremaya, dan perseteruan antarsaudara, dirasakan Putri Cina lewat cerita Sabdopalon-Nayagenggong. Saat ia melihat seorang laki-laki lucu keluar dari kendaraannya dengan menenteng kurungan (sangkar burung) dan wayang potehi (wayang Cina) dengan diiringi lagu “jamane jamane jaman edan…,” serta suara serdadu berbaris, Putri Cina sadar bahwa gambaran itu adalah suatu pertanda. Boneka itu adalah dirinya sendiri. Dirinya dan kaum etnis Cina yang lama tinggal di tanah Jawa, bahkan jauh sebelum Kompeni Belanda datang, yang selalu dirundung kekerasan ketika terjadi pergolakan sosial dan politik.

Gagasan utama dari penulisan novel Putri Cina bertolak pada tafsir mitologi Jawa, sebuah sumber falsafah yang menjadi basis nilai, kemudian diracik dengan catatan sejarah tentang kekerasan terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Narasi Giok Tien Sendiri berada pada paruh cerita (hal. 153), ketika negeri Medang Kemulan Baru, sebuah anasir masa runtuhnya Orde Baru yang diwarnai aksi kekerasan terutama menjelang Mei 1998, yang berubah menjadi Pedang Kemulan karena mengalami krisis moral dan pergolakan situasi politik. Saat itu kaum etnis Cina akan dikorbankan untuk segera memulihkan negeri yang dilanda amuk massa. Giok Tien adalah seorang istri Gurdo Paksi, panglima tertinggi negeri Pedang Kemulan. Sebelumnya Giok Tien adalah seorang bintang sandiwara, ketoprak keliling Sekar Kastubo, yang sering mengadakan pertunjukan di berbagai daerah di pelosok negeri. Ketika konflik memuncak, Giok Tien dan saudara-saudaranya merasa khawatir akan ikut menjadi korban seperti kaumnya yang lain, meski suaminya adalah seorang perwira tinggi di negeri itu.

Namun sekali lagi sejarah berulang. Tragedi Roro Hoyi nyaris berulang menimpa pada diri Giok Tien. Roro Hoyi adalah seorang Putri Cina yang akan dipersunting oleh Prabu Amangkurat, dalam kisah geger Mataram. Pun, tokoh Roro Hoyi sering dimainkan Giok Tien sewaktu ia masih tergabung dalam kelompok ketropak Sekar Kastubo. Roro Hoyi tewas di tangan Tejaningrat, putra mahkota kerajaan Mataram, lelaki yang amat dicintainya. Tejaningrat tega membunuh Roro Hoyi, Putri Cina yang sedianya akan dinikahi Amangkurat, lantaran ayahandanya menantang untuk memilih tahta ataukah wanita yang ia cintai itu. Dan nampaknya Tejaningrat lebih memilih tahta kerajaan dan mengakhiri hidup perempuan yang sangat mencintainya itu. Dalam setiap adegan percintaan Roro Hoyi dan Tejaningrat, sampai hidupnya berakhir di ujung keris, Giok Tien begitu menghayati lakon itu dan ikut melarutkan setiap orang yang menonton pertunjukannya.

Memang di akhir kisah “Putri Cina” (2007), kematian Giok Tien tidak berakhir tragis seperti Roro Hoyi. Namun sebagai bagian dari orang Cina yang hidup di tanah Jawa, ia ikut menjadi korban, ‘tumbal’ drama perebutan kekuasaan. Ia dan suaminya, Gurdo Peksi, yang akhirnya berhenti menjadi senopati dan mengabdikan hidupnya untuk Giok Tien, tewas di tangan Joyo Sumengah, saingan Gurdo Peksi sekaligus orang yang sangat mendambakan Putri Cina. Kisah Putri Cina berakhir ketika suami istri itu berubah menjadi sepasang kupu-kupu yang terbang membumbung tinggi ke langit persisi seperti kisah Sam Pek Eng Tai. Pasangan kupu-kupu itu terbang meninggalkan negeri Pedang Kemulan dan jenasah Joyo Sumengah. Setelah berhasil membunuh Gurdo Peksi dan Giok Tien, Patih Joyo Sumengah lebih memilih mengakhiri hidupnya sendiri dengan tikaman keris Kyai Pesat Nyawa. Keris lambang kekuasaan yang didambanya selama ini. Guratan pena penulis dalam mengurai kepedihan Putri Cina, berikut detil-detil emosi dalam tiap wedaran falsafah Jawa, seolah menjembatani lukisan Putri Cina pada bentuk yang literal.

Cerita-Cerita Pendek

“Panggil saja nama saya: Peng Hwa.” Demikian awal kalimat di paragraf akhir cerita pendek yang menjadi salah satu andalan penulis di buku ini. Setidaknya judul “Panggil Aku Peng Hwa” (2002), diletakkan di awal halaman buku. Sebelumnya tulisan itu sempat diterbitkan oleh Harian Kompas 11 Oktober 1998, lima bulan pasca tragedi yang menimpa mayoritas etnis Tionghoa di Jakarta. Baginya, Peng Hwa bukan sekadar nama. Tapi sebuah identitas etnis yang berkaitan dengan sejarah sebuah bangsa berperadaban tinggi. Namun, saat identitas etnis itu tak lagi dihargai, tak diinginkan menjadi bagian dari bangsa Indonesia, nama Effendi Wardana –sebuah nama pemberian negara– muncul, menjadi alat negosiasi untuk bisa meng-Indonesia, untuk tetap hidup. Namun sebaliknya, nama “Peng Hwa” di akhir cerita itu hadir sebagai noktah tegas tentang hak minoritas etnis Cina di Indonesia. Sebuah komunitas etnis yang mengalami pahit-getir rezim yang berkuasa. Bahkan untuk sekadar memiliki nama bermarga saja tidak bisa. WNI keturunan, Waniktio (warga negara Indonesia keturunan Tionghoa), atau nama pemberian negara, adalah model pengelolaan keragaman etnis yang sangat bias.

Kumpulan cerita pendek –yang sebagian besar sudah pernah dimuat di media massa– karya Veven Sp Wardhana, di segmen cerita “Panggil Aku Peng Hwa,” penulis mencoba mendialogkan entitas etnis Tionghoa dalam diskursus multikulturalisme, bagaimana sebuah rezim mengelola keanekaragaman identitas etnis. Peristiwa kekerasan yang menimpa mayoritas etnis Cina di Jakarta pada Mei 98, coba direkonstruksi dan menjelajahi kepingan emosi korban yang selamat dan kebanyakan berada di luar negeri. Sosok Siao Cing Hwa yang terpaksa mengungsi ke luar negeri setelah tunangannya tewas akibat kerusuhan di Indonesia, trauma yang dirasakan oleh tokoh Xiao Qing, atau arwah penasaran perempuan Tionghoa bernama Hsiao Tsing, menjadi kronik identitas perempuan Tionghoa yang mengalami represi dan pergolakan zaman. Belanda, Prancis, Kanada, dan India, menjadi lokasi tutur serta narasi yang menghubungkan antara penulis dengan tokoh-tokoh rekaannya, beserta anasir-anasir cerita fiksi memberi konteks yang kuat. Bumbu romantika, percintaan, dan perselingkuhan, menjadi ‘selera’ sastra yang nampaknya sulit ditinggalkan penulis.

Mungkin ada sedikit perbedaan mengenai sistematika tulisan yang dimuat di media massa cetak dengan tulisan yang dikodifikasikan menjadi sebuah buku. Seperti yang diakui oleh penulis di bagian awal buku, bahwa beberapa bagian dari tulisan-tulisannya yang dimuat di media massa mengalami ‘penyusutan’ karena harus menyesuaikan dengan porsi halaman rubrik. Ketika datang kesempatan untuk bisa mengumpulkan tulisan-tulisan itu menjadi sebuah buku, naskah-naskah awal yang belum mengalami penyuntingan justru menjadi lebih mengkilat dan bernyawa. Penulis terlihat lebih leluasa menuangkan kelindan cerita dan memainkan emosi pembaca dengan kepingan-kepingan penanda multikultur seperti penggunaan aksen Cina yang dicampur dengan bahasa Prancis, Jerman, dan Belanda yang juga berhubungan dengan pola geokultural masyarakat Cina yang gemar bermigrasi.

Nampaknya penulis mencoba membangun narasi dengan semangat egaliter. Ia, sedapat mungkin mengurai stereotipe atas perempuan Tionghoa sebagai refleksi, dan tidak lengah dengan situasi sosial-politik –peristiwa kekerasan berbasis sentimen etnis– sebagai catatan sejarah dan marjinalisasi perempuan.

Di bagian berikutnya, cerita-cerita pendek yang dirangkai secara situasional, lebih berupa pengalaman perjumpaan multikultural di negara-negara maju di Eropa seperti Perancis dan Jerman. Misalnya dalam cerita “Perempuan Bawah Tanah,” tokoh utama berjumpa, berkenalan, dengan sosok perempuan Perancis yang ternyata adalah kekasih seorang lelaki Aljazair, yang melakukan serangkaian teror bom di stasiun kereta bawah tanah. Memang dalam situasi sosial pasca 11 September 2001, tragedi WTC, memunculkan serangkaian aksi vandalis pemasangan bom di stasiun kereta bawah tanah, subway, di beberapa negara di Eropa.

Semangat anti kolonialisme juga sangat terasa dalam cerita “Matahari Meleleh di Beku Salju,” ketika tokoh utama sorang aktivis pro demokrasi berpacaran dengan seorang perempuan, Indonesianis asal Jerman. Penulis begitu detail menjelaskan situasi emosi tokoh utama ketika mampu menundukkan seorang perempuan kulit putih, memacarinya, dan membuatnya tergantung secara emosional. Sentimen negara dunia ketiga yang kerap dijajah bangsa kulit putih dalam sosok tokoh utama begitu mewarnai narasi cerita, meski hanya dalam lingkup hubungan asmara dan affair. Bahkan Si tokoh utama menciptakan sosok istri, anak, dan keluarga bahagia dalam imajinasinya, untuk sekadar membuat perempuan Jerman itu cemburu dan terus berharap.

Perhatian penulis pada sosok perempuan yang mampu menjembatani jurang kehidupan sosial, tercitra pada “Perempuan Dangdut.” Musik dangdut, musik orang tersudut, ternyata lebih akomodatif dan sensitif dengan permasalahan-permasalahan sosial keseharian ketimbang musik-musik pop. Tidak hanya cerita tentang cinta yang bisa diumbar dalam bait lagu, tapi sikap protes dan kritik bisa menjadi jiwa musik dangdut. Sampai saat ini musik dangdut lekat dengan kehidupan masyarakat kelas bawah. Setidaknya tokoh Laela, perempuan dangdut, yang dinikahi oleh seorang anak pejabat Pertamina kaya-raya, cukup menjelaskan perbedaan antara kebutuhan materi dan kebahagiaan. Bahwa berbeda menjadi seorang Laela perempuan Nyonya, dengan Laela perempuan dangdut. Menjadi Nyonya ia merasa seperti dalam sangkar emas, namun dengan menjadi perempuan dangdut, ia serasa seperti burung yang terbang tinggi bebas melesat ke awan. Laela akhirnya ingin kembali menjadi perempuan dangdut.

Drama perebutan kekuasaan dan gonjang-ganjing pemerintahan yang melibatkan kaum Cina, terutama perempuannya sebagai ‘kambing hitam’ dalam narasi Putri Cina, menjadi sebuah cerita panjang tentang sejarah diskriminasi etnis Tionghoa yang telah lama hidup di tanah air. Demikian halnya dengan Peng Hwa dan tokoh-tokoh perempuan dalam kumpulan cerita pendek Panggil Aku Peng Hwa, menjadi pungkasan protes sosial atas kungkungan penguasa. Sehingga tantangan umat manusia mendatang terkait masalah identitas dan dialog antarbudaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sangat ditentukan dengan basis nilai, falsafah pandangan hidup yang menjadikan manusia lebih santun dan humanis.

Franditya Utomo

 

(tulisan ini dimuat di dalam Jurnal Srinthil, rubrik timbangan pustaka, edisi ke-16, “Dilema Status Kewarganegaraan Perempuan Tionghoa Miskin”. Dapatkan versi digital Jurnal Srinthil di http://www.desantara.org/products)