Seperti biasa Pak De berangkat ke kantor agak siang. Dunia NGO yang ia geluti serasa memberinya peluang untuk bernafas lega, setidaknya untuk bekerja, ia lebih bebas menentukan sendiri jadwal hariannya. “Yang penting program jalan, dan laporan nggak telat,” tegas Pak De bersemangat.

Sesampai di kantornya yang asri itu, Pak De lekas menyambar koran harian favorit, langganan kantor. Konon, media massa cetak versi majalah dari koran harian itu, pernah dibredel di era Orde Baru, lantaran keukeuh pada sikap kritisnya. Belum sampai membaca keseluruhan headline koran itu, Pak De sudah terkekeh-kekeh.

“Sampeyan kok tertawa, ada apa toh pak De?”

“Ini loh Mas, masak departemen hukum berubah jadi bank, kan lucu,” jawab Pak De dengan senyum yang masih tersungging lebar. Kumisnya yang tebal jadi ikut gerak-gerak, ikuti bibirnya yang kecoklatan, tanda dari seorang perokok berat. 

“Lah itu kan cuma sekadar kartun toh Pak De, bukan dalam arti sebenarnya.”

Sambil meletakkan tas punggung miliknya, ia tetap berusaha berpendapat. “Iya, memang Si ilustrator berupaya menjelaskan dengan sederhana kasus nasional sisminbakum dengan bahasa grafis yang mudah. Dan, memang, departemen hukum dan HAM itu bukan sebuah institusi moneter atau perbankan. Tapi aku betul-betul salut lho mas,”

“Salut kenapa Pak De?”

“Soalnya jarang ada departemen di negeri ini yang reputasinya bisa menyamai sektor perbankan. Lha sistem administrasi perubahan badan hukum itu kan pemasukannya sampai 400 miliar lho. Itu kan jumlah yang sangat besar. Sekarang pun masih jadi perdebatan apakah dana itu dikelola oleh koperasi atau memang jadi pemasukan negara.”

“Betul juga Pak De, dengar-dengar sampai melibatkan pejabat-pejabat dulu, bahkan menyeret seorang guru besar hukum pidana pula. Wah-wah, jadi runyam nih.”

“Makanya, sekarang kalau sampeyan punya saudara yang jadi notaris, suruh bikin koperasi juga. Siapa tahu bisa mengelola dana-dana administrasi seperti koperasi di dephumham itu. Kan lumayan.”

“Wah sampeyan berlebihan Pak De, mana punya saudara notaris. Tapi, kalau koperasi, adik saya punya satu. He.. he..”

Pak De dan sohibnya itu pun tertawa lepas, setelah membahas berita hari ini. Sejenak dialog mereka berangsur-angsur berpindah ke meja kerja masing-masing. Mereka pun larut dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Sedangkan Pak De, ya, ngeblog lagi. Dasar…[ ]