Tags

, , , , , , , , ,


Hasrat ingin ngeblog nampaknya jodoh hari dengan deadline terbit Srinthil. Sebuah media cetak dua bulanan yang selama dua tahun terakhir ini telah melibatkanku dalam dunia editing. Meski deadline sering molor, nampaknya Srinthil bertekad menjadi bacaan alternatif perempuan. Di usianya yang tergolong muda, tujuh tahun, Srinthil masih bergairah dengan bahasa dan perbendaharaan kata di jagad kesusastraan. Ya, setidaknya, aku sebagai orang yang terlibat didalamnya turut merasa seperti itu, he.. he.. .

Kini masuk edisi enambelas. Tema yang diangkat tentang perempuan Tionghoa miskin di Surabaya, Jawa Timur. Semua materi tulisan, rubrikasi, foto, materi iklan sampai ilustrasi, sudah siap. Layouter (baru) nampak nggak sabar, ingin segera menjamah Srinthil dengan piranti-piranti lunak miliknya. Wakakakakak. Ya Tuhan, barusan ia (layouter lama) tiba-tiba nyelonong masuk ke ruangan Srinthil …

Sudahlah. Kembali ke materi-materi tulisan. Seperti biasa, saat bertemu dengan istilah-istilah baru, diksi baru, atau yang lainnya, pertama, aku akan cek kamus. Kedua, cek google dan wikipedia. Jika dua cara itu masih belum mampu menaklukkan Sang ‘pendatang baru’, sebagai upaya akhir, ultimum remedium, weih.., aku akan menyelesaikannya secara adat. Diskusi dan eksekusi.

Artinya dengan mendiskusikan masalah-masalah keredaksian, tim penyunting masih memiliki peluang untuk membuat konvensi bahasa secara sektoral sebagai solusi taktis. Setidaknya ada upaya untuk tetap memperkaya bahasa Indonesia dalam berbagai segi, terkait dengan sifatnya yang arbiter itu.

Srinthil edisi perempuan Tionghoa bercerita tentang pengalaman-pengalaman perempuan miskin Kota Surabaya yang tinggal di sebuah bantaran sungai. Sungai tersebut masih termasuk aliran besar Sungai Brantas. Kali Mas mengalir melintasi Kota Surabaya. Nampaknya, masalah muncul di sini. Tanpa sadar –mungkin lebih tepat: sangat kurang teliti– dari keseluruhan tulisan, laporan, ternyata tidak konsisten dalam mempresepsikan sungai itu. Hmm, sungai atau kali ya?

Sebelumnya, aku tak terlalu perhatikan ketidakkonsistenan itu. Pasalnya, sungai bukanlah sebuah kata baru, pun, minim resiko taksa jika berubah menjadi frasa. Diksi ‘sungai’ relatif aman apabila bersanding dengan diksi-diksi lain. Siapa nyana? Hampir semua persepsi tentang lintasan air itu ditulis dengan tidak konsisten. Di halaman-halaman awal ada kalimat yang menguraikannya dengan “sungai mas”, “kali mas”, “kalimas”, bahkan “sungai kali mas” dan “sungai kalimas”. Astagfirullah …

Harfiah sungai adalah jalan air alami. Sedangkan menurut ensiklopedia bebas, Wikipedia, sungai ketika bertemu dengan kata ‘mas’ memiliki arti: pecahan Sungai Brantas yang berhulu di Kota Mojokerto, mengalir ke arah timur laut dan bermuara di Surabaya. Ensiklopedia nirlaba yang terbuka pada tiap-tiap perbaikan istilah dan bahasa itu mencantumkan “Kali Mas” sebagai padanan frasa Sungai Mas.

Srinthil, kau tak teliti! Hm… salah ya. Yup, aku yang tak teliti. Tim penyunting juga. Sewaktu aku menemukan sebuah buku, hasil riset Tionghoa di Surabaya, penulis sudah menggunakan frasa Sungai Mas, sebagai penanda pesebaran etnis Tionghoa di Surabaya. Belakangan, ketika ada perbedaan persepsi morfologi sungai mas yang menjadi ‘hanya’ Kalimas, membuatku agak ragu putuskan mana yang jodoh dengan Srinthil.

“Gak ilok!” Sewaktu menggunakan lagi cara yang kedua, membuka ensiklopedi bebas, Wikipedia, Kalimas yang kumaksud itu memang benar sebuah morfologi Sungai Mas. Tapi ia merujuk pada makna kata sebuah pelabuhan. Ya, sebuah pelabuhan tradisional di Kota Surabaya yang sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat bongkar-muat barang. 

Srinthil, Aku, dan kawan-kawan yang lain terbukti begitu lengah dan sangat linier memahami perubahan makna kata dan dinamika bahasa. Namun dengan kelengahan ini, kami terus berupaya untuk memperkaya bahasa Indonesia dan terus mengail kata dan makna di ranah bahasa nusantara. Mungkin juga di Kalimas. Siapa tahu?