Tags

, ,


edward w said

Edward W Said

Nampaknya akan sulit untuk menulis tema tentang perempuan secara partikular, sebab selubung imperialisme yang menyerupai ‘kekuatan peradaban’ telah meluluhlantakkan Afghanistan atas nama demokrasi dan hak asasi perempuan.

Selama bertahun-tahun sikap acuh atas pemiskinan seluruh populasi masyarakat Afghan dan kondisi perempuan yang memprihatinkan di bawah kekuasaan Taliban secara partikular, sekarang, lagi, menyelimuti persebaran perempuan Afghan sebagai symbol atas pemilahan Islam yang salah di dalam wacana persaudaraan melawan terorisme, diawali oleh seorang Presiden Amerika yang telah menyerang hak asasi perempuan di rumah. Namun, hal tersebut juga telah meminjamkan arti pentingnya beasiswa feminis di bidang ini, seperti halnya perjuangan kita untuk tidak memihak dan beroposisi terhadap homogenisasi dikursus nasionalisme sentimental yang dimobilisasi oleh Bush/Blair yang muncul menyuarakan bahasa ‘kita’ (menegaskan diskursus feminis berdampingan dengan bentuk multikulturalisme liberal) dengan cara demikian mereka rencankan dan jalankan rezim baru yang buruk layaknya sesepuh ahli perang yang nampaknya juga akan berlangsung tanpa melibatkan pendapat perempuan.

Buku ini mencakup keanekaragaman posisi yang memunculkan pertanyaan tentang kolonialisme, imperialisme budaya, gender dan teori poskolonial. Sejak terbitnya buku Orientalisme karya Edward W Said tahun 1978, analisis tentang imperalisme dan kolonialisme dengan tegas telah dipolitisasi. Pengetahuan jarang terlihat netral, meski banyak pihak menantang tendensi Said atas Orientalisme sebagai tafsir monolitik. Kurangnya perhatian Said di awal formulasinya pada wilayah gender, pun di dalam representasi perempuan atau kontribusi perempuan terhadap budaya kolonial (pernyataan Said, 1993), telah dikoreksi oleh penulis-penulis seperti Lisa Lowe (1991), Sara Mills (1991), Billie Melman (1992) dan Jeny Sharpe (1993). Sekian banyak penulis tersebut secara langsung atau pun tidak telah dipengaruhi oleh gagasan Gayatri Spivak (1985,1998), mengenai analisis historis relasi ekonomi global yang membentuk diskursus tentang kekuasaan telah diformulasikan ulang oleh relasi pengelolaan gender, rasial dan klas sebagai bentuk subjek. Pembuktian bahwa perempuan Barat tidak memberikan kontribusinya pada budaya imperial terlihat pada sosok perempuan yang bekerja sebagai penulis, artis, dan komentator dan perempuan-perempuan dari keseluruhan kelas sosial tersebut tengah disibukkan oleh relasi kolonial di dalam konstitusi sebuah wilayah koloni yang mana tidak lagi mengalami kemajuan sejak 15 tahun yang lalu. Bagaimanapun juga, masih menyisakan tendensi pada aspek kesejarahan perempuan dalam menemukan dan merayakan ‘pengecualian’ perempuan pelancong/dermawan/penjelajah yang nampaknya tidak terlampau mengerti pilihan perempuan pada umumnya, meski demikian kerugian yang ditimbulkan oleh regulasi gender di Barat, masih bisa dirasakan sebagai sebuah panggung kesempatan di dunia imperialis. Inilah hubungan antara pihak koloni dan subjektifikasi perempuan yang dieksplorasi dengan sangat bersahaja oleh Deborah Cherry dalam Beyond the Frame. Ia selaku tokoh seniman perempuan di Inggris pada paruh pertengahan abad ke-19 terlihat sangat sesuai pada saat imperialisme memberikan ruang psikis dan keterbukaan pikiran bagi femininitas kulit putih menjadi alternatif di dunia modelling. Chery dikenal sebagai seorang artis perempuan yang berpengaruh, ia mencoba menguji seberapa jauh ‘titik balik’ berpengaruh pada visual studies beberapa tahun terakhir bisa berguna mengembangkan jaringan antara representasi visual dan politik representasi.

Cherry mengadopsi ‘taktik komunal’ Foucauldian untuk memetakan perubahan akhir peradaban Barat atas pengaruh perempuan kelas menengah –kelas atas- London yang berkesempatan untuk mengembangkan identitas professional yang menjadi sangat esensial bagi kemandirian perempuan, ia mengadaptasikan metode aliansi dan persaudaraan perempuan Langham yang menghasilkan perempuan progresif di tahun 1850 dan 1860-an.

Visual culture menjadi sebuah bidang yang sangat menakjubkan berkembang jauh dari sebelumnya, dimana definisi baru tentang “perempuan modern” ikut mewarnai dan berkontestasi (Cherry, 2000:34). Dengan kreasi yang tak henti-hentinya atas publikasi feminis, perempuan dan artis disibukkan untuk menjadi lambang aspirasi perempuan profesional, dimobilisasikan dalam perdebatan tentang upah kerja dan sekolah kejuruan untuk perempuan (Cherry, 2000:48).

Cherry menawarkan penjelasan yang mendetail dan menarasikan perbedaan persepsi yang sangat tipis antara perempuan terkenal dan pelukis perempuan, ia menjelaskan dengan gamblang bahwa di dalam lukisan kehidupan modern terkandung aktivitas kontemporer dan perdebatan populer. Hubungan artistik antar perempuan dan sosialisasi konkritnya terwujud dalam situasi krisis ekonomi: dari pusat kota Cavendish dan Kantor Langham Bessie Rayner Parkes editor Jurnal Waverly dan Jurnal Perempuan yang juga memiliki ruang baca khusus perempuan serta penggagas komunitas untuk mempromosikan perempuan sebagai tenaga kerja, telah melakukannya sebaik sebuah pameran seni perempuan. Pusat dari bentuk dasar aktivitas feminis ini menempatkan seniman perempuan di tengah-tengah dunia seni laki-laki.

Namun dunia seni dan diskursus feminis sepanjang tidak menciptakan keterasingan dan Cherry berhasil mengkoneksikan adegan seni metropolitan London menjadi ruang kolonial yang terjadi di Algeria. Dengan menggunakan gagasan Derrida tentang difference untuk membongkar oposisi biner, ia menempatkan Algeria dan London dalam sebuah pertunjukan drama, meruntuhkan konsep sejarah keterasingan dan memposisikan praktik feminis di dalam konteks kolonialisasi. Orientalisme menjadi sebuah ruang representasi yang popular dan menguntungkan, dan seniman perempuan berpartisipasi dengan sangat antusias (Lewis, 1996). Misalnya Joyce Zonana (1993), Cherry menunjukkan bagaimana Orientalisme Feminis membentuk konsep tentang feminis Inggris yang menjadi sosok individual modern (mampu menggambarkan emansipasi modernitas mereka berlawanan dengan ketundukan lumpen yang menempel sosok perempuan ‘pribumi’). Selanjutnya, ia mengelaborasi bagaimana pengalaman kolonial juga ikut andil dalam pertukaran mode (pariwisata, seni lukis, dan sketsa) yang memajukan jaringan politisi feminis dan professional.