Tags

, ,


Jacques Lacan

Jacques Lacan

Hubungan antara feminisme dan psikoanalisis merupakan sebuah hubungan yang kompleks dan saling mempengaruhi. Beberapa pemikir feminisme telah menuduh teori psikoanlisis tentang palosentrisme,

dan tentang naturalisasi penindasan perempuan, sementara para feminis lainnya telah telah menggunakan kedua teori psikoanalisis tersebut untuk memperkuat substansi pembahasan mereka mengenai formasi subjek feminin. Keberagaman penggunaan teori psikoanalisis Jacques Lacan melalui konteks dan periode yang berbeda telah menjadi contoh yang bagus dalam hal merubah sebuah pola hubungan. Di dalam buku ini Kristen Campbell menyajikan pembacaan ulang atas psikoanalisis Lacanian, dimana ia juga gunakan untuk membangun sebuah teori original tentang hubungan sosial yang berbasis pada feminisme gelombang ketiga. Fokus utamanya adalah menjelaskan bagaimana feminisme dapat mengubah pandangan kita dalam memahami diri sendiri dan orang lain, dan menunjukkan bagaimana epistemologi feminis yang dikomunikasikan oleh teori Jacques Lacan mampu berguna dalam melihat fenomena tersebut.

buku campbellJacques Lacan and Feminist Epistemology adalah sebuah buku tentang sebuah keketertarikan yang luar biasa untuk bisa dipelajari dalam ruang lingkup sosiologi, filsafat, dan cultural studies, meski demikian, pengetahuan yang bagus dari psikoanalisis Lacanian juga penting untuk mengapreasiasinya. Buku ini terdiri dari lima bagian, yang kaya akan bibliografi. Campbell memulai penjelasannya dengan sebuah eksplorasi dan sebuah definisi dalam ruang lingkup epistimologi, serta melacak sejumlah posisi teoretis yang muncul, meskipun yang muncul adalah hibriditas dan keberagaman.

Kemudian ia menyadari bagaimana teori Lacan –keduanya dalam ‘Ecrits’-nya dan di dalam seminar-seminarnya selama ini- telah memasukkan orientasi teoretik dan politis dari feminisme, dengan menawarkan sebuah perspektif baru untuk memahami formasi pengetahuan feminisme. Ia memikirkan teori Lacan dalam empat diskursus serta memperlihatkan relevansinya dengan pemahaman baru antara pengetahuan, subjektivitas, dan perilaku sosial. Di dalam bab 3, ia mendiskusikan formasi subjek feminis, dan hubungannya dengan proses yang menjadikan feminis menjadi subjek yang sangat seksis. Pada bab berikutnya ia mempertimbangkan batasan dari teori sosial Lacan –dengan bantahan tidak akan memberikan makna penting pada nilai klas dan etnisitas- yang secara signifikan kering dalam menafsirkan kemungkinan perubahan dalam relasi sosial. Di dalam bab kesimpulan, ia menghadirkan feminisme sebagai sebuah diskursus modern, yang memastikan pada representasi baru dalam sebuah tatanan simbolik, atas intersubjektivitas dan subjek feminin yang terbentuk. Dalam penelusuran Campbell atas model-model identitas seksual dan politik feminis, saya mengepresiasi dan menekankan pada proses konstitusi seperti identitas –yang tidak pernah dipikirkan sebagai sebuah kualitas yang terberi. Ia Justru mengarahkan feminisme itu sendiri sebagai sebuah produk sosial yang perlu didekonstruksi, seperti halnya bentuk-bentuk pengetahuan lainnya. Pembacaannya atas Lacan –yang ia paparkan sebagai hal yang produktiv dan strategis- ternyata lebih memberikan pencerahan: ia menyarikan konsep dari teori Lacan, kemudian memindahkannya kepada epitemologi feminis. Ia mengklaim bahwa tujuannya bukan untuk sekadar mengomentari teori Lacan, tetapi untuk mengambil mana yang mungkin bisa bermanfaat pada epistemologi feminis yang memiliki fokus pada perubahan sosial. Ia memaparkan setiap lintasan beroperasinya epistemologi feminis dengan cara yang sangat tepat, tidak menyerah pada pilihan teoretiknya, dan selalu membedakan pembacaanya atas teori Lacan itu sendiri dengan pembacaan yang juga dilakukan oleh orang lain (i.e. Kristeva, Irigaray, Rose, Grosz), yang sepenuhnya ia hadirkan dan menjadi diskusi. Kesimpulan yang didapat tidak disangsikan sebagai kreativitas dan sangat menakjubkan, tetapi satu hal yang mungkin cukup mengherankan dalam konsep psikoanalisis yang diformulasikan dan dipergunakan oleh Lacan merupakan sebuah disiplin klinis, senyatanya memiliki tafsir yang sama ketika dipindahkan ke dalam disiplin yang lain yang memiliki perbedaan kerangka teoretikal. Singkat kata, empat diskursus teori tersebut merupakan tugas yang sulit, hal tersebut berarti pada bab 2, secara partikular, Campbell memberikan detilnya, tetap dirasa berat bagi sebagian orang yang membacanya jika tidak terlalu akrab dengan psikoanalisis Lacan. Meski demikian, kemampuan menulisnya, sangat kaya dalam memberikan repetisi dalam sebuah konsep yang kompleks, menjadi sangat membantu para pembacanya. Bagaimanapun juga, selanjutnya di dalam menggunakan isu-isu sosial atau riset empiris sebagai contoh kemungkinan membantu pembacaan menjadi lebih tercerahkan. Relevansi dan sesuatu yang baru dari kerja Campbell menarik pada fakta bahwa pada umumnya kritisisme feminis atas Lacan berbasis pada karya awalnya ‘Ecrits’, dan seringkali tidak menegaskan perkembangan akhir teorinya. Karya original Campbell yang telah diperbarui menggunakan makalah seminar Lacan (Encore and L’Envers de la Psychanalyse, first translated into English only in 1998 ) sangatlah menarik dan menantang untuk digunakan, yang mungkin mengedepan untuk kembali mempertimbangkan kontribusi Lacan lebih jauh pada teori subjektivitas dan relasi sosial. Dan lagi, hasil kerja Campbell menyarankan pada sebuah proyek feminisme gelombang ke-4, layak untuk dipertimbangkan secara serius dan melakukan penelitian.

LISA PARMIANI

Università Cattolica, Milano

Herta Nagl-Docekal, Feminist Philosophy, trans. Katharina Vester, Foreword by Allison Jaggar. Oxford and Colorado: Westview Press, 2004. 170 pp. (excl. footnotes and index). ISBN 0–8133–4189–2 (hbk); ISBN 0–8133–6571–6, £19.99 (pbk) Feminist Philosophy is the English translation of Nagl-Docekal’s 1999 book, originally published in German. Owing to difficulties of translation, the English volume has a somewhat cumbersome style that is jarred and uninviting. Beyond the language issues there are also certain cultural differences that did not travel well across the channel. The author draws freely on material from the Continental philosophical tradition with which the typical Anglophone reader may not be familiar, and little in the way of introduction to that tradition is provided. The tone of Nagl-Docekal’s book is surprisingly defensive. The author begins by trying to justify feminist philosophy, stating, ‘the thesis that women still face discrimination in many ways is well founded’ (p. xiv). Thus the problem of discrimination and the attempts to tackle it with liberal 222 Feminist Theory 6(2)