Tags

, , ,


film sceneJakarta -16/05/2008- Memperingati hari internasional melawan homophobia (International Day Against Homophobia, IDAHO), tanggal 17 Mei, beberapa NGO dan aktivis perempuan menggelar serangkaian acara untuk menyambutnya.

Acara diselenggarakan di Goethe Haus diawali dengan sesi jumpa pers dilanjutkan dengan diskusi publik, peluncuran jurnal berjudul “seksualitas Lesbian,” dan buku kumpulan puisi dan cerpen isu “Lesbian.” Terlihat beberapa pentolan aktivis perempuan dan aktivis lesbian seperti Mariana Amirudin (Jurnal Perempuan), Ade Kusumaningrum (Indonesian Lesbian Forum), serta Djenar Maesa Ayu. Mereka berkumpul dan mendiskusikan kembali tema homoseksualitas terkait sikap masyarakat Indonesia atas eksistensi kaum homoseks dan lesbian di hadapan rezim heteroseksual.

Tujuh belas tahun yang lalu, tepatnya tanggal 17 Mei 1991 dunia internasional melalui WHO secara resmi menyatakan bahwa homoseksualitas bukanlah sejenis penyakit atau gangguan kejiwaan. Nampaknya hal ini menjadi landasan normatif para aktivis transgender di Indonesia untuk semakin percaya diri, mulai berani menyatakan identitas seksualnya, dan melakukan sosialisasi pengetahuan kepada masyarakat tentang homoseksualitas.

 

Homophobia, sebuah sikap masyarakat berpaham heteronormatifitas yang hanya mengenal dua jenis identitas dan orientasi seksual: maskulin (laki-laki) dan feminin (perempuan), telah mengeksklusi individu/komunitas yang berorientasi seksual di luar pandangan heteroseksual. Sikap masyarakat yang anti dan ‘takut’ terhadap kelompok homoseksual menjadi persoalan utama dalam diskusi peringatan IDAHO itu.

 

Sebagai seorang aktivis lesbian, Ade Kusumaningrum melihat cerminan homophobia masyarakat Indonesia dalam kasus pemberitaan kaum lesbian di media massa. Menurutnya selama ini ada beberapa hal yang menyebabkan masyarakat Indonesia masih mengidap homophobia. Ketidaktahuan dan ketidakinginan mendapatkan informasi tentang homoseksual, ketakutan terhadap perbedaan orientasi seksual, promosi homophobia oleh kelompok tertentu, dan anggapan bahwa perilaku homoseks tidak alami telah menjadi alasan utama mengapa kaum homoseks masih belum bisa diterima mayarakat.

Pengalaman Ade menjadi narasumber di beberapa media massa kaliber nasional, telah membuatnya semakin mengerti bahwa masyarakat memang membutuhkan informasi dan pengetahuan yang memadai tentang homoseksualitas. Pada tanggal 10 September 2002, sebuah televisi swasta dengan program siaran yang mengangkat tema lesbian, telah memilih Ade sebagai narasumber utama. Cukup memprihatinkan kiranya, ketika redaksi melakukan prakondisi sebelum wawancara, framing media massa elektronik itu masih menganggap psikologi seorang lesbian sebagai hal yang menyimpang dan bersifat patologis. Sebagai seorang lesbian, Ade ingin memberikan perspektif lain, ia mencoba bernegosiasi dengan pihak redaksi mengenai ide cerita. Akhirnya tercapai kesepakatan bahwa narasi cerita berasal dari narasumber dengan informasi dan penambahan narasumber seorang ahli antropologi. Ternyata itu pun belum cukup, karena di akhir narasi redaksi memberikan ending, bahwa seorang lesbian harus kembali ke jalan yang benar dan bisa menjadi normal!

Berbeda dengan sosok Djenar Maesa Ayu, novelis yang kerap dianggap nyentrik itu hadir di Goethe Haus dengan penampilan seadanya. Di atas panggung ruangan serba guna itu terlihat empat orang, satu dintaranya lelaki sebagai moderator, belakangan mengakui dirinya seorang gay, bersama mereka membahas ketakutan akan homoseks di Indonesia. Djenar terlihat duduk santai, menyilangkan kakinya, ia berada di sisi paling kiri meja presentasi. Jika di hadapan Ade nampak laptop 12 inchi, dan rekan-rekan yang lain juga nampak berserakan kertas makalah dan materi presentasi, di hadapan Djenar hanya terdapat sekaleng bir dingin. “Sebelumnya saya minta maaf kalau ke sini cuma bawa body dan dengan baju yang kian hari kian tipis,” tutur Djenar. Penulis novel “mereka bilang saya monyet” itu mengenakan stelan backless dipadu dengan legging warna gelap, terlihat sangat pas untuk acara semacam IDAHO di sore yang mendung itu. Dengan mengenakan backless, jelas tiap mata bisa melihat beberapa motif tato yang menghiasi kulit sawo matangnya. Penuturan Djenar mengenai homophobia terlihat ‘biasa.’ Ia menegaskan sikap dukungan kepada gerakan homoseks dan lesbian sejauh itu tidak merugikan siapa pun.

Sebelumnya, Ati Nurbaiti seorang jurnalis, mengemukakan pandanganya mengenai framing media massa terhadap pemberitaan lesbian dan masa depan homoseksualitas di Indonesia. Menurutnya, wajar jika seorang reporter melakukan wawancara dengan narasumber beserta perangkat etika yang ia pahami, seringkali tidak sesuai dengan harapan narasumber. Ketika berada di dalam sistem keredaksian, angle yang sudah ditentukan tidak bisa ditawar lagi. Praktis, seorang reporter harus menaatinya.

Media massa merupakan cerminan dari kehidupan masyarakatnya. Sebaliknya, keragaman media massa pun tergantung kepada keragaman masyarakatnya. Jika selama ini media massa di Indonesia nampak kurang berpihak pada kaum homoseksual, hal tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa masyarakat masih belum bisa menerima mereka. Ade pun melihat demikian. Setidaknya dibutuhkan banyak dekade agar masyarakat bisa menerima kaum homoseks. (dit)