Tags

, , , , ,


Jakarta -29/03/2008-Diskusi bersama budayawan, Halim Thole, di Kantor Kapal Perempuan, Kalibata Utara I/18, mengetengahkan tema “Perempuan dan Sastra di Indonesia: sisi-sisi pertarungan ideologis.” Diskusi tersebut adalah bagian dari rangkaian kegiatan yang digelar Kapal Perempuan untuk melihat seberapa jauh diskursus feminisme berkembang di dalam karya-karya sastra populer di Indonesia.

visi peradaban IndonesiaCitra perempuan dalam sejarah karya sastra populer di Indonesia, menyusul tumbangnya Orde Baru dan munculnya era reformasi, telah memposisikan perempuan dan karya sastra dalam berbagai bentuk. Di masa Orde Baru pengaruh budaya Barat telah melahirkan novelis perempuan dan beragam media massa (majalah wanita) yang merujuk pada gaya hidup masyarakat perkotaan. Novel dan karya sastra populer dengan pengarang perempuan terkenal seperti Marga T, La Rose, Mira W, telah menyajikan ‘bimbingan’ moral perkotaan kepada ibu-ibu rumah tangga di waktu senggang. Untuk itu, dalam bentuk yang populer, karya sastra dibedakan menjadi dua macam, yaitu karya yang ‘serius’ dan ‘kurang serius.’ Karya yang serius derepresentasikan oleh para pengarang seperti NH Dini, Sri Bekti, atau Marianne Kattopo. Kecenderungan karya sastra di masa Orde Baru adalah sikap pengarang yang ‘apolitis’ dan minim keterlibatan sosial. Pada saat itu estetika humanisme universal telah menghegemoni karya-karya sastra untuk menjaga jarak dari nilai-nilai sosial-politik, nota bene, adalah nilai-nilai rujukan estetika realisme sosialis. Hal tersebut memposisikan narasi perempuan dalam karya populer hanya bersuara dari ruang domestik.

Setelah Orde Baru tumbang, terbitnya novel Saman, karya Ayu Utami, menjadi pemicu munculnya karya-karya sastra lain dengan narasi yang semasa Orde Baru jarang diketengahkan. Munculnya karya-karya sastra di era reformasi dengan pengarang-pengarang perempuannya, praktis telah menjawab ‘kebuntuan’ karya sastra yang kurang melek pada realitas sosial-politik dan seksualitas. Misalnya, novel Saman yang bertutur mengenai keterbukaan dalam mengungkap persoalan seks, menjadi jawaban isu yang dilontarkan Gunawan Muhammad di tahun 1980-an, “Seks Sastra, Kita,” (Sinar Harapan, 1981). Karya sastra yang ditulis oleh perempuan di era reformasi telah membuka peta baru, mengangkat permasalahan perempuan keluar dari ranah domestik menuju permasalahan sosial-budaya dan politik.

Halim mengingatkan “kita harus berhati-hati dan wajib mewaspadai ketika agama mulai berupaya menggunakan karya seni-sastra sebagai media.” Hal tersebut disebabkan karena agama menjadi sebuah sumber keyakinan dan menjadi naluri dasar pertama manusia dalam sejarah peradaban. Ketika agama dan seni menyatu, maka sangat besar kemungkinannya untuk membuat seseorang menjadi fundamentalis. Seni akan memperbesar energi sebuah agama untuk melakukan serangkaian hegemoni. Novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ menjadi contoh konkrit, bagaimana ideologi Islam mempergunakan seni sastra untuk membangun narasi gender, relasi perempuan dan laki-laki dalam laku masyarakat Islam urban. Narasi gender yang dibangun dalam bingkai cerita novel ayat-ayat cinta, dalam skala luas dibaca oleh masyarkat perkotaan, mampu membawa nilai Islam urban menjadi arus utama.

“Jika kita keberatan mengenai keberadaan sebuah karya seni, kita juga harus memikirkan cara untuk membuat karya seni tandingan,” ujar Halim. Problem karya sastra saat ini menurut Halim, lebih disebabkan kecenderungan kultur kota yang membangun sebuah cerita. Hal ini kemudian menyebabkan terjadinya penyeragaman selera dengan menyerap isu-isu internasional tanpa seleksi dalam balutan gaya hidup perkotaan dalam tiap narasinya. Sedangkan tradisi riset bisa dikembangkan untuk lebih melihat masalah-masalah lokal sebagai ide dan gagasan dalam sebuah karya. Mungkin tuntutan pasar yang mendorong karya-karya novel bercita rasa seragam dan hirarkis dalam memandang sebuah tatanan masyarakat. Maka resiko untuk menyeragamkan masyarakat lokal dengan merujuk pada isu-isu kota, akan mencerabut akar permasalahan sebenarnya. Misalnya masalah kemiskinan, pendidikan, dan permasalahan perempuan. Pertarungan ideologis melalui karya sastra, bisa membaur dalam politik ekonomi. Maka pertannyaannya (mungkin riset yang menjawab), seberapa besar pengaruh novel-novel di dalam masyarakat? (dit)