Tags

, , ,


img_0029.jpg

diskusi bersama dony gahral ardian

Jakarta -13/03/2008- Diksusi novel “Ayat-Ayat cinta,” karya Habiburrahman El Shirazy yang digelar di kantor Kapal Perempuan Rabu (12/03) sore kemarin dihadiri banyak aktivis perempuan dan NGO di Jakarta. Sebagai pemerhati karya sastra dan pengajar, Donny Gahral Adian didaulat memberikan catatan kritis atas novel yang sangat laris itu.

Meski belum sedahsyat “Laskar Pelangi,” novel “Ayat-Ayat Cinta” menurut Dony adalah sebuah penanda baru masyarakat Islam urban. Latar belakang penulis yang mengenyam pendidikan di Kairo, Mesir, telah mewarnai narasi pluralisme dan feminisme dengan gagasan Islam urban.

Kaum Islam urban, menurut Donny, ingin tetap berdinamika dengan isu-isu kontemporer. Hal tersebut ditunjukkan dengan narasi cerita yang mengakomodasi (dalam batas tertentu) pergeseran sikap dalam relasi laki-laki dan perempuan. Misalnya, mengenai inisiatif perempuan yang lebih ditafsirkan inferior, digambarkan sebaliknya. Namun, penggambaran itu tetap mengikuti anasir fundamen-fundamen keislaman.

Fahri, tokoh utama digambarkan nyaris sempurna sebagai sosok Islam urban. Sosok yang saleh, terkendali, adaptif dengan iklim modern, pacaran cara Islami, dan peduli dengan lingkungan yang plural. Betapa sempurnanya sosok Fahri, sampai empat perempuan sekaligus mencintainya dan salah seoarang diantaranya, Aisha, melamar Fahri dengan bantuan pamannya. Kemudian, apakah narasi tentang relasi laki-laki-perempuan tersebut benar-benar merepresentasikan ketegasan sikap feminis selama ini?

“Selalu ada sesuatu yang bergerak berlawanan dengan pesan pengarang,” tegas Donny. Upaya Shirazy memutarbalikkan anggapan bahwa laki-laki aktif, perempuan pasif, justru menciptakan hirarki baru lelaki (saleh, terkendali)/ perempuan (tak terkendali). Dengan kata lain, aksen Islam Urban oleh sosok Fahri dalam novel “Ayat-Ayat Cinta,” menjadi modal (budaya) patriarki untuk masuk ke ranah pluralisme dan menggelitik femininitas. Kecurigaan beberapa pengamat karya sastra di tengah hiruk-pikuk novel Islami selama ini, adalah adanya pengarusutamaan fundamentalisme Islam melalui isu-isu kontemporer. Mengutip ungkapan Halim Tole, pegiat seni dan pemerhati budaya, “ke depan kita (pembaca) harus bersiap untuk membaca karya-karya sastra populer secara kritis, karena nilai-nilai yang menjadi pesan itu sarat dengan kepentingan kekuasaan.” Halim meramalkan bahwa di masa yang akan datang, akan merebak karya-karya sastra populer yang ditunggangi berbagai bentuk kepentingan (dit).