Tags

, , , , , , ,


desemenasi-who.jpg

presentasi riset kespro widjodjo center

Jakarta -20/2/2008- pertemuan yang diadakan oleh Mitra Inti Foundation dan forum Seksualitas Indonesia, di auditorium Widjojo Center, bermaksud untuk mendeseminasi hasil studi WHO mengenai gender, seksualitas dan praktik perawatan organ intim perempuan.

Penelitian WHO tersebut diadakan untuk mengetahui seksualitas perempuan di negara-negara berkembang dalam konteks perawatan vagina sebagai organ penting reproduksi.

Sebagai sebuah studi resmi WHO, penelitian mengenai kesehatan reproduksi perempuan tersebut telah dilaksanakan di empat negara, yaitu Indonesia, Thailand, Afrika Utara, dan Mozambik. Untuk Indonesia penelitian diadakan di Yogyakarta pada tahun 2005. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena dianggap cukup merepresentasikan ekspresi seksualitas perempuan Jawa, dengan melihat konteks tradisi masyarakat dan keberadaan keraton sebagai pusat nilai. Penelitian tersebut melibatkan beberapa pakar antropologi, gender, dan budaya antara lain Ninuk Widyantoro, Herna Lestari, Laily Hanifah, Iwu Dwisetyani Utomo, Basilica Dyah Putranti, dan Yustinus Tri Subagya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan, Polri, BKKBN, dan NGO Perempuan yang tergabung dalam forum seksualitas Indonesia. Selain sebagai pengurus yayasan Gaya Nusantara, Dede Utomo juga nampak hadir sebagai moderator diskusi panel.

Presentasi mengenai hasil penelitian diawali oleh Ninuk Widyantoro, ia menguraikan tentang sisi kualitatif penelitian kesehatan reproduksi perempuan Jawa. Menurutnya, perawatan organ intim perempuan sangat erat kaitannya dengan konstruksi gender, atau ngudi sarira (menjaga martabat diri dan martabat suami). Konstruksi gender di Jawa tersebut kemudian melahirkan disiplin tubuh ‘menjadi perempuan’ yang terbagi menjadi beberapa fase biologis, fase sebelum dan setelah menstruasi, pra nikah, sebelum dan setelah persalinan, dan perempuan menikah. Dalam hal ini keberadaan jamu (tradisional/modern) sangatlah penting keberadaanya sebagai bagian perawatan ogran intim perempuan, vagina. Jamu dibutuhkan oleh perempuan Jawa pada tiap fase biologis ‘menjadi perempuan’.

ninuk.jpgTidak hanya sekadar menjadi bagian perawatan vagina, keberadaan jamu juga pararel dengan aktivitas seksual perempuan Jawa. Selain berfungsi sebagai organ reproduksi vagina perempuan selalu diimajinasikan untuk tetap dalam kondisi kering, rapet, dan peret untuk mencapai kenikmatan dalam berhubungan seks. Misalnya, dalam pengamatan yang cukup mendalam, ternyata pekerja seks komersial jauh lebih optimal melakukan perawatan vagina. Pekerja seks tidak berhenti pada perawatan konvensional dengan meminum jamu secara rutin atau membersihkan saja, tapi ia lebih mengsplorasi segala bentuk perawatan vagina, termasuk jamu, gurah vagina, dan tongkat Madura.

Sementara itu Herna Lestari menjadi peneliti yang melakukan presentasi dari sisi kuantitatif penelitian. Ia lebih membahas mengenai metodologi penelitian, karakteristik responden, durasi hubungan seks, dan variabel-variabel dasar lain yang mendukung penelitian kualitatif. Pada akhir presentasi, penelitian menyimpulkan dan merekomendasikan beberapa hal penting. Jamu sering digunakan untuk menjaga kesehatan, terutama pada konteks perkawinan. Oleh sebab itu tenaga medis tidak menganjurkan pengkonsumsian jamu sejauh tidak membahayakan kesehatan. Untuk itu dalam praktik pengkonsumsian jamu, perempuan membutuhkan perlindungan dari badan Pengawas Obat-obatan (BPOM) terkait studi klinis untuk mendalami manfaat dan efek samping penggunaan jamu dalam perawatan vagina.

Sementara itu pada akhir acara sebagai penutup sesi tanya jawab, Saparinah Sadli memberikan pendapatnya sekaligus merangkum poin-poin penting hasil penelitian. Menurutnya, membahas perempuan dan vagina adalah masalah konsep tentang kebudayaan sebuah masyarakat. Selama ini vagina tidak berhasil dimiliki oleh perempuan, vagina ternyata bebas dimiliki oleh pemerintah, agama, tradisi, terleih lagi dikomodifikasi oleh pasar. Perempuan bisa memiliki vaginanya untuk kepentingan kesehatan. Untuk itu dengan konsep kesehatan reproduksi, perempuan harus lebih kritis untuk memanajemen informasi terkait kebutuhan perempuan merawat vagina, terutama jika menggunakan jamu tradisional (dit).