Tags

, , ,


Jakarta (24/11) Ada yang menarik dari pernyataan Komnas Perempuan, mengenai perlindungan saksi/korban dan perempuan pembela HAM kemarin. Memperingati hari anti kekerasan terhadap perempuan sedunia, Komnas Perempuan, melakukan 16 hari kampanye, dimulai pada tanggal 25 november 2006. Kampanye tersebut, sedianya melibatkan 45 organisasi perempuan yang tersebar di 18 daerah, dari Aceh hingga Papua.

Saat Komnas Perempuan mengundang wartawan dan media, dalam konferensi pers (24/11), tentang kampanye 16 hari, menyatakan beberapa alasan perlunya perlindungan saksi/korban dan perempuan pembela HAM. Komnas Perempuan mencoba mendorong publik, memberi perhatian pada perjuangan perempuan pembela HAM, di tengah ancaman dan intimidasi. Hal tersebut disebabkan tingginya tingkat kerentanan, ketika mereka melakukan advokasi. Komnas Perempuan juga menyatakan keprihatinannya atas besarnya ancaman impunitas, kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi dalam konflik bersenjata.

Hal senada disampaikan Ita Nadya, salah seorang jubir Komnas Perempuan, menurutnya ada perbedaan pembela HAM perempuan dengan laki-laki. Pertama, mereka adalah perempuan. Kedua, tingkat kerentanan, kekerasan,teror, yang tinggi, saat memperjuangkan hak-hak perempuan. Lebih lanjut, kampanye perempuan pembela HAM dilakukan dalam agenda dialog nasional dengan judul, “Perempuan Melawan Kekerasan dan Diskriminasi: tantangan bersama untuk membela para pembela.” Dialog nasional tersebut, dilaksanakan pada tanggal 27 November 2006, dan pada tanggal 28-30 November, dilanjutkan dengan pertemuan perempuan pembela HAM se-Asia di Bangkok.

Selain itu, Komnas Perempuan melakukan kampanye perlindungan saksi/korban dan perempuan pembela HAM dalam isu-isu budaya. Dalam film dokumenter berjudul “memasuki ruang budaya” sebagai media kampanye, diproduksi Komnas Perempuan, dijelaskan bahwa perempuan pembela HAM harus terlindungi secara kultural dari kerentanan pembelaan hak-hak perempuan. Ruang budaya seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman bagi para pejuang perempuan (dit).