sigit-blog.jpgBulan Desember tahun 2007 dalam hitungan Jawa adalah bulan besar, maka tidak heran kalau banyak orang yang memanfaatkan, atau menjatuhkan hitungan untuk melangsungkan acara-acara besar seperti sunatan selamatan, sedekah bumi, jamasan, bahkan kawinan.

Ada sosok yang menarik perhatian di Desantara pada pertengahan bulan besar ini. Soalnya dia yang dulu ceria, suka teriak-teriak ngga jelas, tertawanya mengguncang toilet, tiba-tiba menjadi pendiam, suka bicara sendiri, bergumam pelan sambil garuk-garuk pantat: shhh.. kacamataku mana ya? (padahal masih nempel di jidatnya) Laki-laki berperawakan tambun (menurut pengakuannya bobotnya sudah turun 10 kg), berkacamata, suka membaca, dan suka memperhatikan gerak gerik orang ini akrab dipanggil Sigit.

Sebenarnya banyak nama panggilan untuk menghadirkan orang ini. Mbak Novi (mantan Pemred Srinthil) memanggilnya “Gik, Sigik!” dengan intonasi Madura yang sangat kental. Konon, Mbak Novi suka teringat adik laki-lakinya di Jember ketika memanggil Sigit. Kalau Mas Basis (OB teladan di Desantara) memanggilnya: “Wak Jablai ente mau ke mana?” dengan logat Betawi fasih. Pak Basis suka menggoda Sigit kalau hari Sabtu ketahuan masih sendirian di Desantara menemani Tuki. Kalau Mbak Ciska yang manggil (Sigit pasti bisa gila kalau dipanggil cewek Cina bohai yang satu ini…wakakakakkakak) “Mas Budhi mau pake yang mana, yang hitam atau yang merah? Karena udah ngeres duluan, seenaknya Sigit jawab “aku biasa pake yang putih rasa strawbery!” kontan saja Mbak Ciska bingung dan bertanya-tanya, Srinthil edisi berapa ya, yang covernya ada strawberynya? Mbak Ciska adalah sosok perempuan Cina yang pernah didamba Sigit untuk menjadi pendamping hidupnya, sebelum ia ketahui lewat friendster, di samping foto2 yang syur, Ciska sudah ada yang punya :(

Usut punya usut, ternyata kegundahan yang dialami Sigit selama ini, kebingungannya (terutama setelah pelatihan jurnalistik di Banyuwangi lalu), karena ada perempuan yang sudah nggak tahan minta dia kawinin. “Ini adalah berkah pelatihan selama satu bulan di Banyuwangi,” papar Sigit. Diam-diam, ia menyimpan senyum dalam kegundahanya, melipat tawa dalam gelisahnya, usai sudah pencarian kitab jalancintanya. Hanya restu dan doa yang ia harap dan pinta. Selamat menempuh hidup baru Git…

Jabat erat,

hudarustammassugididietnoviyanambakningzaki