Tags

, , , , ,


Bagi sebagian masyarakat di pulau Jawa, terutama di daerah tapal kuda Jawa Timur (Karisidenan Besuki), pasti tidak asing dengan kesenian rakyat Gandrung Banyuwangi. Sebagai sebuah kesenian yang berakar pada tradisi masyarakat, tari gandrung hidup di tengah-tengah masyarakat Banyuwangi beserta keragaman etnis dan budaya.

Kota Banyuwangi terdiri dari 24 kecamatan dan memiliki beberapa wilayah konsentrasi pementasan gandrung seperti Cluring, Glagah, Rogojampi dan daerah Banyuwangi kota.
Tari gandrung yang dimainkan oleh sosok perempuan, adakalanya mendapat respon negatif dari masyarakat karena seni pementasannya identik dengan para lelaki pengibing, yang memberi saweran saat menari bersama-sama. Geertz dalam The Religion of Java, memandang seni tari seperti tayub, jaipong dan para penarinya (tandak, tledek, ronggeng) pada mulanya adalah sebuah kesenian adiluhung keraton. Pada perkembangannya, kesenian adiluhung tersebut terdegradasi menjadi seni rakyat, yang makin hari dipandang dari sisi mesumnya, berkualitas rendah, dan bertendensi prostitusi karena berfungsi sebagai media hiburan rakyat jelata.
Gandrung sendiri memiliki kesan yang tidak jauh berbeda ketika hadir sebagai media hiburan rakyat. Akan tetapi jika ditilik pada akar sejarahnya, jarang orang yang memperhatikan asal mula gandrung dan perannya di Banyuwangi. Seni gandrung pada mulanya dimainkan oleh laki-laki (gandrung lanang), berpakaian biasa dengan membawa kendang dan rebana. Gandrung lanang keluar masuk hutan memanggil sisa-sisa pejuang Blambangan yang menyelamatkan diri di hutan setelah pecahnya perang Bayu.
Perlu diketahui bahwa peristiwa perang bayu bagi sebagian elite politik dan elit budaya lokal, menjadi sandaran sejarah yang cukup penting untuk menentukan hari jadi kota Banyuwangi (harjaba). Sampai sekarang penentuan harjaba masih dalam perdebatan dan silang pendapat. “Mengenai polemik hari jadi Banyuwangi, harus ada seorang ahli sejarah yang memiliki otoritas intelektual untuk memberikan pendapatnya,” ujar salah satu tokoh elit budaya Banyuwangi Abdul Kadir Armaya.
Selain polemik harjaba, pembahasan mengenai using apakah termasuk kategori bahasa atau dialek, gandrung apakah representatif jika menjadi maskot kota, menjadi sebuah dialog multikultural dan dinamisasi budaya bagi masyarakat Banyuwangi.

Syair gandrung lanang

Pada gandrung perempuan (gandrung wadon) syair yang biasa dibawakan adalah tema tentang cinta. Hal ini sesuai dengan arti “gandrung” secara harfiah yaitu kedanan atau tergila-gila, digandrungi. Maka lagu yang biasa dibawakan oleh para penyanyi sekaligus penari gandrung perempuan, sering diasosiasikan dengan cerita tentang hubungan cinta dan asmara. Bahkan tidak jarang lagu-lagu pop yang sedang tren, juga bisa dinyanyikan oleh gandrung perempuan.
Berbeda dengan gandrung lanang. Gandrung lanang ada sejak dibabatnya hutan Tirto Arum (asal nama kota Banyuwangi) sekitar tahun 1772, dan bertujuan untuk menyelamatkan sisa-sisa prajurit Blambangan.
Syair gandrung lanang lebih menyerupai sandi-sandi khusus yang sengaja dinyanyikan sebagai strategi perang dan memetakan posisi lawan. Seperti pada tembang di salah satu syair gandrung lanang, “Lawang gedhe wonten kang njagi, medalo ring lawang budhulan. Artinya bagian-bagian penting sudah dikuasai Kompeni, lewatlah pada bagian-bagian yang rapuh. Jadi sebagian tempat yang penting sudah dikuasai musuh, dan kalau mau menyerbu seranglah bagian-bagian yang rapuh.
Gambaran tentang pejuang Blambangan yang keluar masuk hutan, untuk mencari dan merebut kemerdekaan serta mendamba kehidupan baru yang penuh pengharapan, dijelaskan pada syair kembang pepe. Sedangkan salah satu syair gandrung yang menunjukkan tingkat spiritualitas rakyat Blambangan dijelaskan pada syair kembang dirmo.
Menurut salah seorang pemerhati seni gandrung dan sejarah Blambangan, Fatrah Abal, pesan perjuangan untuk merebut kemerdekaan hidup yang disampaikan oleh gandrung lanang mulai bergeser menjadi syair-syair cinta, sejak Semi menjadi gandrung perempuan pertama.
“Secara harfiah gandrung itu berarti sangat mengharap atau pengharapan, sebuah cita-cita. Bukan seperti sekarang gandrung menjadi hiburan yang lebih banyak syair-syair cinta. Asalnya syair-syair gandrung itu syair perjuangan, sama seperti Soekarno mendambakan kemerdekaan Indonesia,” tegas Fatrah Abal yang kini tinggal di daerah Banyuwangi kota.
Pada waktu gandrung dimainkan oleh laki-laki, gandrung berperan sebagai media perjuangan dengan misi kemerdekaan dan kedaulatan hidup. Sedangkan ketika gandrung perempuan mulai mengganti keberadaan gandrung lanang, gandrung menjadi sebuah seni pertunjukan atau opera yang tujuannya murni untuk menghibur. Perpindahan dari gandrung lanang ke gandrung wadon, membawa perubahan pada struktur dan sistem masyarakat Banyuwangi. Sistem masyarakat Banyuwangi yang pada awalnya tertutup, menjadi sangat terbuka dan akomodatif terhadap budaya yang datang dari luar. Hal tersebut dapat dilihat dengan beragamnya kesenian Banyuwangi yang sebenarnya bisa dikategorikan sebagai invented tradition. Karena dalam hal perumusan identitas budaya, nampaknya banyak pihak yang berkepentingan.
Terlepas dari kepentingan politik praktis untuk merumuskan identitas budaya, sebenarnya gandrung memiliki nilai-nilai yang patut untuk diteladani. Jika dilacak pada elemen dasarnya, syair-syair gandrung itu tercipta ketika rakyat Blambangan merasakan kepedihan perang dan imperialisme. Syair-syair gandrung menyiratkan gagasan perlawanan dalam bingkai seni dengan mengemansipasi kesadaran rakyat Blambangan untuk segera merebut kemerdekaan, lepas dari kungkungan kolonialisme dan imperialisme.

Franditya Utomo