Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,


perempuan dan tvSeorang perempuan berjalan menghampiri cermin, ia bergumam, “kulit wajahku mulai berkerut, kurang kencang. Lemak menumpuk di sana sini, tidak proporsional. Akankah orang tertarik dengan tubuhku yang demikian, ah.. tidak, aku tidak cantik lagi!”

Apa sebenarnya yang menyebabkan perempuan begitu was-was dengan perubahan bentuk tubuhnya. Khawatir, tidak menarik secara seksual, kelewat waspada, berat badan naik, lemak terlampau tebal. Pertanyaan, kekhawatiran perempuan atas tubuhnya, sebenarnya sedang menunjukkan betapa tidak netralnya tubuh perempuan, ditentukan, dikendalikan oleh kekuatan/kuasa di luar dirinya. Sedemikian detail kuasa tersebut menkonstruksi tubuh perempuan, mendeterminasi peran biologis dan sosial. Relasi kuasa, patriarki, agama, negara, atau pasar, memiliki modus yang tidak terlalu berbeda, menkonstruksi tubuh perempuan. Modus yang paling sering beroperasi adalah domistikasi peran perempuan: peran politik, sosial dan ekonomi. Peran perempuan dalam kehidupan selesai dengan adanya lembaga perkawinan, yang mensyaratkan kewajiban perempuan atas rumah tangga sebagai ibu. Sedangkan perempuan sebagai istri dituntut untuk taat dan patuh kepada suami. Namun, di luar itu semua, tubuh perempuan tumbuh bersama dengan mitos. Sosok ibu, bagi perempuan adalah sebuah orientasi mutlak keperempuanan. Lembaga perkawinan adalah sebuah institusi yang melegitimasi seksualitas perempuan serta menjadi tujuan utama. Misalnya sejak kecil, anak perempuan tidak mengenal boneka, lembaga pendidikan tidak mengajarkan kepatuhan, ketaatan, ke-lemah-lembutan perempuan sebagai konsep dasar menjadi ibu, akankah perempuan membutuhkan lembaga perkawinan, sebagai orientasi seksual? Mitos tentang ibu, ternyata diinternalisasi oleh tubuh perempuan, melalui mekanisme sosialisasi terus menerus, akhirnya, menentukan peran, fungsi seksual dan sosial perempuan.

Mitos Kecantikan

Begitu tidak netralnya tubuh perempuan, sampai untuk mendefinisikan ‘kecantikan’, ia harus mengfirmasi gagasan ‘cantik’ itu dengan imajinasi laki-laki. Untuk menjadi cantik, perempuan sepenuhnya takzim, patuh pada imajinasi laki-laki. Naomi Wolf, dalam bukunya “Mitos Kecantikan, Kala Kecantikan Menindas Perempuan”, mengetengahkan problem, kerugian yang diterima perempuan Amerika akibat mitos kecantikan. Menurutnya, mitos kecantikan telah mengepung perempuan, di semua lini kehidupan perempuan. Sebagai seorang feminis barat, Naomi Wolf mempresepsi feminisme sebagai slogan ‘perang’ atas kekaisaran maskulin dan budaya patriarki. Mitos kecantikan, menurut Wolf, telah menciptakan ketegori, kualifikasi tentang ‘cantik’, harus diterima secara terberi, given, oleh perempuan.

Wolf mencoba menelusuri jejak-jejak mitos kecantikan, sebagai efek revolusi industri, dengan berpijak pada data-data empirik, anorexia di era 80an, yang menyerang perempuan muda di Amerika. Dengan metafora iron maiden, sebagai pigura, fire wall kecantikan, Wolf memetakan serangan mitos kecantikan, di setiap aktivitas hidup perempuan.

Warga Amerika Serikat, dikejutkan dengan munculnya sekelompok anak muda, berbadan kurus, mata cekung, mereka tidak makan, dan hanya minum cairan rendah kalori. Mereka rata-rata perempuan muda, berumur 15 sampai 18 tahun. Kebiasaan makan mereka sangat buruk. Saat perempuan-perempuan muda ini menghadiri sebuah pesta, mereka ikut makan, menyantap semua hidangan yang disuguhkan. Namun, mendadak, mereka bergegas ke toilet, memuntahkan, mengeluarkan secara paksa makanan dalam lambung dengan memasukkan jari-jarinya ke tenggorokan. Setelah itu, kembali ke ruang pesta, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mereka adalah anak-anak muda Amerika, pengidap anorexia akut. Sebuah penyakit, gangguan pada syaraf, akibat kurangnya asupan makanan bagi tubuh. Anorexia secara medis, biasanya diidap oleh perempuan muda, belum menikah. Gejalanya, datang bulan tidak teratur, sengaja ditunda dengan pertimbangan mengganggu aktifitas, rambut mudah rontok, ketakutan untuk makan karena takut berat badan naik. Memaksa untuk memuntahkan makanan dalam lambung, menjadi tradisi generasi muda Amerika saat itu.

Anorexia, menyerang generasi muda Amerika, bukan karena negara tidak mampu mensuplai gizi yang layak untuk warga negaranya, tetapi, anak-anak muda itu takut kegemukan, tidak fashionable, meski harus menanggung sakit.

Saat perempuan muda Amerika beranjak dewasa, mereka langsung berhadapan dengan realitas kecantikan dalam media, bentukan pasar. Gagasan cantik bentukan pasar tersebut menjadi tuntutan utama, menentukan pergaulan sehari-hari, yang pasti, secara seksual, menarik perhatian lawan jenis. Cara-cara ekstrim, menurunkan berat badan, ditempuh demi memenuhi hasrat kecantikan. Tidak hanya diet ketat, mereka nyaris tidak makan. Angka kematian akibat aneroxia, di era 80an, naik tajam.

Ketika perempuan mulai masuk dalam industri, pasar menciptakan kualifikasi kecantikan yang mengadopsi male gaze di setiap kategori pekerjaan. Di dalam lingkungan kerja, mitos kecantikan, menciptakan kategori ‘cantik’, sebagai mekanisme seleksi pekerjaan, profesi yang digeluti seorang perempuan. Wolf menggunkan istilah Professional Beauty Qualification (PBQ), sebagai unit utama seleksi kerja perempuan. Ia memberi contoh, seorang ancor atau pembawa acara televisi yang cantik, haruslah seorang perempuan yang masih muda, idealnya di bawah 30 tahun. Ketika ia sudah mulai tua, rating acara yang dibawakannya mulai menurun, maka perusahaan sah untuk memberhentikannya. Praktik PBQ diperkuat dengan fakta-fakta pengadilan di Amerika, yang memenangkan kasus pemberhentian penyiar perempuan. Asumsinya, perusahaan broadcast akan beresiko menerima kerugian, rating turun, tidak menarik pemirsa lagi, ketika tetap mempertahankan seorang ancor tua. Begitu juga dengan pekerjaan yang membutuhkan perempuan sebagai variabel marketing, seperti pelayan toserba. Para pelayan itu diharuskan menggunakan pakaian tertentu, yang serta-merta menjadi indentitas, bahwa pekerjaan mereka adalah ‘melayani’ konsumen.

Mitos kecantikan, sebagaimana digambarkan oleh Wolf, memaksa perempuan untuk mematuhi ideologi kecantikan. Semenjak revolusi industri, pasar terbuka bagi tenaga kerja perempuan, dan terbukti mereka lebih produktif dari laki-laki, ideologi kecantikan muncul dari amanat pasar, melakukan domistikasi kerja perempuan. Terlihat ada semangat anti diskriminasi kerja perempuan, pada tulisan Wolf, ketika PBQ dintrodusir pasar sebagai alat legitimasi kecantikan. Mitos kecantikan menurutnya melahirkan sebuah era kecantikan, abad bedah kosmetik. Di mana perempuan muda Amerika berlomba-lomba mempercantik tubuhnya dengan melakukan serangkaian ritual kecantikan, operasi plastik.

Selain itu, wolf juga memperhatikan perempuan dalam teks kebudayaan. Menilik tradisi eropa, tradisi patriarki pada abad 14, laki-laki mengumpulkan, melakukan katalogisasi perempuan, dalam bentuk sajak dan lagu, sebagai upaya memisahkan perempuan dari perannya dalam kebudayaan. Perempuan dibiarkan untuk memiliki pemikiran, intelejensi dan tubuh, tapi tidak keduanya. Kebudayaan menciptakan stereotipe perempuan yang afirmatif dengan mitos kecantikan.

Membaca konstruksi kecantikan era 80an, wolf melihat media massa lebih dari sekedar agen penkonstruksi, media mengambil bagian, menjadi ritus kecantikan. Media massa muncul sebagai agama baru kecantikan, perempuan Amerika begitu taat menjalankan perintah agama kecantikan ini. Agama kecantikan, membawa pemujaan atas ketakutan terhadap umur, dan kelebihan lemak. Majalah-majalah wanita Amerika, mengambil alih posisi gereja religius, sebagai pengawas, pengontrol perilaku perempuan. Majalah-majalah tersebut menjadi kitab suci, menyampaikan kabar gembira tentang kecantikan pada perempuan muda Amerika. Perempuan model cover, iklan, majalah wanita, menjadi panutan sejati pesan kecantikan, tuntunan hidup, perilaku seks perempuan.

Mitos kecantikan, menurut Wolf, ikut andil dalam mendomistikasi seksualitas perempuan, dalam bentuk pornografi dan sadomasokisme kecantikan. Potensi seks perempuan untuk mengalami orgasme berkali-kali, dibungkam oleh dorongan seksual yang dibentuk masyarakat. Pornografi kecantikan dan sadomasokisme, menjadi politik kanalisasi rasa bersalah, rasa malu dan rasa sakit ke dalam pengalaman perempuan yang berkaitan dengan persoalan seks.

Sebagai feminis barat, Wolf, menggunakan pendekatan yang sangat antagonistik, dengan meletakkan semua analisisnya secara kontradiktif. Pandangan ini bisa dikatakan sepenuhnya binary position, meletakkan perempuan vis a vis dengan kebudayaan, pasar, agama, nota bene milik laki-laki, kekaisaran maskulin. Hal itu bisa dilihat dari upaya Wolf melakukan ‘penyelamatan’ atas ketertindasan perempuan, melampaui mitos kecantikan.

Wolf mencoba menggugah kesadaran perempuan tentang konsep cantik. Menurutnya, perempuan akan selalu cantik dengan atau tidak dengan mitos kecantikan. Hal ini, mengharuskan perempuan untuk membelah kesadarannya, mampu membedakan antara mitos, dan apa yang benar-benar berada di luarnya. Wolf menegaskan perempuan, harus memiliki sikap independen atas identitas keperempuanannya. Mitos kecantikan akan menjadi serangan utama perempuan, sepanjang perempuan masih gelisah, merasa dirinya jelek. Menurut Wolf, mitos kecantikan tidak akan berarti apa-apa, karena perempuan itu sebenarnya memang cantik. Dalam buku Mitos Kecantikan Kala Kecantikan Menindas Perempuan, dengan jelas Wolf menjelaskan bagaimana seharusnya sikap perempuan yang tertindas, keluar dari kerudung mitos kecantikan. Wolf menekankan aspek kemandirian, kesetaraan, indepedensi perempuan, hak menetukan pilihan, sekaligus melakukan politik pemaknaan, sebagai bagian dari strategi liberasi yang menjadi ciri khas feminis barat. Wolf menulis; “Perempuan akan bebas dari mitos kecantikan ketika kita dapat memilih untuk menggunakan wajah, tubuh dan pakaian kita sebagai salah satu bentuk yang sederhana dari ekspresi diri dari banyak lingkup ekspresi diri lainnya. Kita bisa berdandan untuk kesenangan diri kita, tetapi kita harus tetap memperjuangkan hak-hak kita.” (Wolf, hlm.550).

Penubuhan Perempuan, Monstrous Feminine, dan Hibriditas

Beriringan dengan pendapat dan sikap Wolf atas kecantikan yang menindas perempuan, Aquarini Priyatna Prabasmoro di dalam buku “Kajian Budaya Feminis, Tubuh, Sastra dan Budaya Pop,” menegaskan independensi perempuan atas tubuhnya. Dengan menggunakan metode penulisan autobiografis, Aquarini secara kontemplatif mendedahkan narasi yang memengaruhi proses penubuhan perempuan. Perhatian dan kritik pada karya-karya sastra dan budaya pop, semakin memperjelas kegelisahan serta keteguhannya sebagai seorang feminis.

Sementara orang beranggapan tulisan autobiografis itu menjadikan penulisnya sebagai tokoh utama, penting, bahkan sebagai pahlawan, Aquarini secara mendasar mendudukkan permasalahan budaya feminis secara kontemplatif dalam rumah tangganya, kehidupan pribadinya. Pilihan untuk menikah baginya adalah sikap ketidakbenciannya pada laki-laki, sementara bagi sebagian aktifis feminis, menganggap pilihan itu cukup aneh. Laki-laki masih dianggap sebagai sumber permasalahan, musuh, dibenci karena melanggengkan sistem patriarki. Dengan lugas ia tegaskan, bahwa sebagian besar kebahagiaan yang ia peroleh, selain ia peroleh dari ibunya, adalah dari peran para lelaki dalam keluarga, teman, dan kini suaminya. Aquarini bisa jadi hanya sekedar seorang feminis, dan bergerak pada aras kritis saja. Akan tetapi dengan merasakan getaran feminisme dalam kehidupan nyata, ia telah sampai pada permenungan tentang penubuhan perempuan, pengalaman pribadi, proses ‘menjadi’ perempuan, ia dengan tubuhnya.

Bisa dikatakan Aquarini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Simone de Beauvoir, dengan bukunya yang terkenal “The Second Sex,” beserta argumennya yang masyur, “one is not born, but rather becomes a women”. Dengan menyandarkan argumentasi pada tesis Beauvoir, Aquarini berharap bisa melakukan resistensi terhadap sistem pembedaan seks/gender. Hal tersebut ia lakukan karena sementara ini bayak teoritisi feminis yang mengkategorikan Beauvoir sebagai salah satu pendukung kuat pembedaan seks/gender. Yakni, perempuan dianggap memiliki dua aspek diri, perempuan sebagai makhluk biologis dan perempuan sebagai makhluk kultural, historis. Rangkaian argumentasinya, memang tidak bisa lepas dari asumsi-asumsi dasar Beauvoir tentang seks/gender, karena memang secara ideologis Aquarini mencoba meletakkan pondasi feminisme postrukturalis yang kontekstual dengan kultur dan milieu Indonesia.

Seorang perempuan adalah tubuh, plus konstruksi sosial yang diinvestasikan pada tubuhnya, sehingga seks bukanlah dasar konstruksi sosial dan kultural. Di sini terlihat seolah-olah konstruksi gender mendahului seks, namun gagasan bahwa tubuh biologis tidak semestinya digunakan sebagai pembenaran atas inskripsi sosial/kultural terhadap tubuh, bisa dibenarkan. Pembedaan seks/gender tidak dapat bekerja dengan baik di dalam suatu lingkungan tertentu. Artinya seorang perempuan adalah seseorang yang bertubuh perempuan tidak selalu bermakna metafisik ataupun esensialis. Tubuh perempuan adalah [tubuh] manusia dan juga [tubuh] perempuan. Dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan tidaklah berarti perdebatan itu secara inheren esensialis. Yang menarik dari argumentasi Aquarini adalah, ketika ia mencoba menjelaskan jejak-jejak pemikiran Beauvoir dalam tiap-tiap premisnya, hal yang sama telah ia alami bersama dengan tubuhnya, pengalaman penubuhan itu sendiri.

Perempuan bukanlah realitas yang ajeg, tetapi lebih merupakan suatu yang menjadi dan dengan demikian harus didefinisi. Karena itu tubuh melahirkan subjektivitas tubuh. Tubuh perempuan, karena lebih dari sekedar faktisitas, adalah bagian dari kemanusiaannya. Hal ini yang menjadi kontradiksi dalam diri perempuan. Sebagai manusia ia adalah subjek, suatu kesadaran. Tetapi, sebagai seorang perempuan ia adalah “liyan yang absolut.” Ia adalah objek.

Di sisi lain, Aquarini juga memresepsi tubuh perempuan melalui pendekatan psikoanalisa. Merunut pemikiran Julia Kristeva, dan analisis atas beberapa film seperti Alien, The Question of Silence serta analisis pada iklan pembalut wanita, Aquarini bereksperimen tentang abjeksitas tubuh perempuan. Abjek adalah apa yang mengganggu identitas sistem, tatanan yang tidak menghargai batas, posisi dan aturan. Peminggiran, pengeluaran abjek adalah peminggiran, pengeluaran (eksklusi) yang diperlukan untuk menjaga keberlangsungan hidup subjek. Abjek berhubungan dengan perversion (penyimpangan) karena dipusatkan pada super ego. Abjeksi menimbulkan kenikmatan yang menyimpang. Di satu sisi ada keinginan untuk meminggirkan dan mengabaikan suatu abjek, di sisi lain ada kenikmatan sebagai subjek yang melakukan/berada di dalam proses abjeksi untuk mengonfrontasi abjek dan kemudian mengabjekkannya, misalnya kenikmatan mengeluarkan urine atau feses.

Dalam analisis film Aliens, abjeksitas melahirkan apa yang disebut dengan monstrous feminine. Dalam banyak budaya, monster seringkali ditandai sebagai perempuan (nenek sihir, kuntilanak, nyai roro kidul, empo rinting, timung tee, alien). Perempuan juga dikonstruksi sebagai monster (tidak masuk akal, tidak terkontrol, memiliki tubuh yang berubah-ubah dan tidak terkendali serta berpotensi mengkastrasi) (Aquarini,hlm.121). konsep mengenai tubuh perempuan yang tidak terkendali menempatkan perempuan sebagai monster yang dapat mengkastrasi. Penggambaran citra perempuan sebagai monster pengkastrasi ini merupakan representasi dari ketakutan laki-laki akan kastrasi yang dapat dilakukan oleh perempuan. Montrous feminine atau monster perempuan bukan semata-mata lawan dari monster laki-laki, melainkan monster yang merupakan wujud dari segala sesuatu yang menakutkan, serta pada saat yang sama adalah apa yang memukau dari perempuan (Aquarini,hlm.122).

Aquarini melihat femininitas perempuan dideterminasi oleh imajinasi laki-laki dan budaya patriarki di dalam ilustrasi iklan dalam media massa. Sosok perempuan yang diilustrasikan dalam beberapa iklan kosmetik, menggambarkan kualifikasi kecantikan pada tubuh perempuan yang melibatkan penilaian laki-laki sebagai representasi budaya patriarki. Nilai intrinsik pasar adalah pada produk kecantikan yang ditawarkan, misalnya iklan krim pemutih menghendaki laki-laki mengakui yang cantik adalah yang perempuan yang berkulit putih, sedangkan warna di luar putih tidak layak mendapatkan perhatian laki-laki. Perempuan diarahkan untuk mematuhi imajinasi iklan krim pemutih itu, taat pada imajinasi laki-laki. Putih dan tidak putih adalah sebuah kategorisasi feminitas perempuan, kecantikan perempuan.

Selain itu perempuan yang diilustrasikan dalam iklan kosmetika, menampilkan representasi seksualitas perempuan sebagai hibrid, dengan menghadirkan sosok perempuan indo (Aquarini,hlm.312). Hibriditas merupakan konsep penting dalam konstruksi feminitas dan seksualitas perempuan. Hibriditas membawa nilai modernitas yang mengacu pada barat, dan putih dikonstruksi menjadi suatu hal yang disukai dan diinginkan, menandai kecantikan dan feminitas yang diidealkan (idealized beauty) (Aquarini,hlm.313). Lebih lanjut hibriditas kecantikan mempolarisasi gagasan seksualitas dalam oposisi biner perempuan, perempuan baik-baik/perempuan jalang, mariam/hawa, sang malaikat dan si penggoda. Aquarini mengistilahkannya sebagai “passionate angel,” feminitas maupun seksualitas ideal perempuan adalah hibrid, menginginkan perempuan pada saat yang sama menjadi seorang ‘perempuan terhormat’ sekaligus menjadi seekor binatang yang penuh nafsu, perawan tetapi penggoda.

Mitos kecantikan yang dimaknai oleh Wolf dan Aquarini sebagai bentuk kepungan, serangan dan menindas perempuan, bisa dikatakan kurang lebih sama. Terlepas keduanya adalah pakar feminisme, yang memiliki tipologi dan strategi liberasi yang tidak jauh berbeda, mereka berharap agar perempuan segera beranjak keluar dari serangan mitos kecantikan dan ideologi kecantikan, dengan menegaskan hasrat kuasa yang menjadi potensi besar dalam diri seorang perempuan. Hasrat untuk memiliki tubuh dan penubuhan perempuan menjadi fase yang vital untuk mencapai kesadaran gender. Potensi hasrat yang selama ini dinegasikan oleh sistem dan budaya patriarki. Hasrat yang didomestikasi oleh relasi kekuasaan negara, agama dan pasar. Hasrat perempuan yang terkomodifikasi oleh tatanan ekonomi, direduksi menjadi alat produksi, dan sepenuhnya menjadi subordinat dalam relasi sosial-politik.

Tubuh Perempuan dan Ikon Budaya

Tubuh perempuan sebagai abjek, memiliki pengertian yang tidak ajeg, tidak statis, terus mengalami perubahan karena adanya praktik pemaknaan. Di dalam ruang pemaknaan inilah, kekuatan dominan seperti agama, negara dan pasar mengambil langkah strategis, berkontestasi mengokupasi tubuh perempuan, lebur dalam sebuah ikon dan representasi. Selama ini ikon memiliki pengertian kurang lebih sebagai pengetahuan yang bersifat umum, sebuah titik pengakuan yang secara luas diterima oleh anggota suatu masyarakat, serta memberikan kesempatan setiap orang untuk mengalami rasa kebersamaan di tengah keberagaman. Dalam hal ini, tubuh perempuan merupakan situs penting yang menjadi penanda sebuah budaya massa. Tentunya abjeksitas tubuh perempuan sangat berperan dalam menandai perkembangan sebuah kebudayaan, peradaban. Menjadi ikon budaya.

Dalam buku “Barbie Culture Ikon Budaya Konsumerisme,” Mary F. Rogers mencoba menelusuri jejak kecantikan yang melekat pada sebuah boneka plastik bernama barbie, beserta segenap kompleksitas budaya massa yang meniupkan ruh kecantikan padanya. Sebagai seorang peneliti lapang, Rogers melakukan serangkaian korespondensi terhadap sebagian warga negara amerika serikat, untuk meraba kecantikan dan menangkap episteme barbie di benak masyarakat.

Barbie adalah noktah femininitas yang tegas. Barbie merepresentasikan sosok individualis yang keras dalam penampilannya yang feminin. Ia tidak memiliki suami, anak, atasan, guru, pendeta ataupun tetangga. Dunianya terbangun di sekitar dirinya sendiri dan teman-temannya. Perbedaan boneka barbie dengan boneka biasa adalah, boneka pada umumnya hanya mendorong anak perempuan untuk tetap menjadi dan berada dalam citra keibuan. Sedangkan barbie senantiasa mengesankan penampilan feminin yang tepat untuk situasi apapun yang ia lakukan, sebagai polisi, pemadam kebakaran, guru, dan sebagainya. Barbie tampil sebagai sosok feminin menyebrangi batas-batas yang biasanya memisahkan pengertian laki-laki dan perempuan. Satu hal lagi yang menjadi kelebihan boneka plastik ini, barbie tidak pernah dibiarkan muncul tanpa kelamin, androgin, seperti boneka plastik pada umumnya. Barbie tidak pernah dikhawatirkan menjadi “anak laki-laki.” Sebagai ikon budaya feminis, barbie menyiratkan feminitas dalam pekerjaan yang didominasi laki-laki. Konstruksi tubuh barbie sebagai seorang gadis muda sangatlah sempurna. Rambut yang indah, kaki yang jenjang, payudara yang sempurna, pinggang yang langsing, ia adalah ikon kecantikan khas Amerika.

Konstruksi tubuh perempuan yang mewadag dalam citra barbie, mensyaratkan nilai dan norma serta keniscayaan budaya konsumerisme. Nilai-nilai kapitalistik itu diperkuat dengan narasi kehidupan boneka plastik itu dalam novel, buku serta perangkat permainannya. Cerita kehidupan barbie adalah sebuah perayaan aktivitas kerja, gaya hidup, dan penampilan yang fantastis. Barbie adalah ikon budaya yang mengutuk kelebihan berat badan, orang-orang yang berbadan gemuk, ia membangun citra waktu luang dan konsumsi (Rogers,hlm.14). Tidak heran jika penggemar barbie tidak hanya anak-anak muda amerika saja, seperempat juta orang di seluruh dunia ternyata mengoleksi boneka fashion itu.

Tidak sekedar menjadi memori kolektif masyarakat paska industri, boneka barbie adalah citra wadag perempuan yang diokupasi oleh nilai kapitalisme, pasar, yang mempertegas indentitas masyarakat liberal dan individualis.

Kompleksitas tubuh perempuan disebabkan adanya aktor kekuasaan yang meletakkan landasan pencitraan yang syarat makna. Sedangkan makna itu sendiri berada di ruang yang bebas, arbiter, siap dioposisi dan dinegasikan oleh kekuatan/kuasa di luarnya. Ketika tubuh perempuan digerakkan, dikendalikan oleh mitos kecantikan, maka gagasan tentang cantik itu sendiri merupakan pesan yang sangat jelas. Tidak hanya laki-laki yang memiliki imajinasi kecantikan dan menurunkan dalam bentuk gagasan-gagasan ideal kecantikan yang diafirmasi oleh tubuh perempuan. Namun, kekuasaan di luar orbit gender, bisa jadi agama, negara atau pasar, memiliki gagasan kecantikan yang lekat dengan masing-masing norma serta nilai yang diniscayakan. Ketika perempuan menganggap pesan kecantikan adalah murni dari gagasan laki-laki/patriarki, maka ia tidak akan pernah bisa keluar dari orbit gender dan oposis biner seksualitas. Berkah, pencerahan yang diperoleh tidak lebih dari laki-laki sebagai musuh abadi, ethernal enemy. Sedangkan kekuasaan di luar orbit gender itu sendiri tidak pernah tersentuh.

Penegasan perempuan atas dasar hasrat pada tubuhnya, bisa jadi salah satu upaya untuk keluar dari relasi seks/gender yang menganggap laki-laki sebagai satu-satunya musuh. Abjeksitas, penubuhan perempuan – pemaknaan relitas tubuh perempuan yang tidak ajeg, tidak statis, dan terus berubah – harus merupakan motivasi untuk menuntun perempuan dari jebakan-jebakan gagasan ideal, nilai dan norma aktor kekuasaan, terutama pasar/industri. Sekali tubuh perempuan menjadi ikon dan merepresentasikan sebuah kondisi ideal, ‘cantik,’ bisa dipastikan gagasan ideal itu berasal di luar tubuhnya. Maka perempuan harus bersiap untuk beroposisi bahkan dinegasi oleh kekuatan di luar tubuhnya yang terlanjur mendefinisikan tubuh ‘cantik’ perempuan.

Franditya Utomo