Tags

, , , , , , ,


Menilik sosok perempuan tandha’ dalam lingkup masyarakat patriarki Madura

f-tandha21.jpgMasyarakat Madura dalam rentang waktu yang cukup panjang, mungkin sudah dua abad lebih, telah berhasil menemukan jatidiri sebagai suku bangsa yang memiliki tradisi diasporik (suka bermigrasi).

Meski demikian, kesenian Madura yang muncul sebagai produk kebudayaan sangat jelas terbaca sebagai upaya mereprsentasikan ketangguhan kulturalnya menghadapi kenyataan geografis pulau Madura, tanah bertipe ladang yang kurang subur. Menyenangkan sebenarnya, ketika mengetahui masyarakat Madura memiliki apresiasi yang tinggi terhadap seni pertunjukan, di saat mereka juga harus bertahan hidup dalam kelangkaan ekologis pulau penghasil garam itu. Bouvier (2002) pun mengamati dinamika seni pertunjukan di Madura sebagai bentuk representasi jatidiri yang tangguh. Ia, dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa masyarakat Madura dalam berkesenian sangat mengutamakan konsep harmonisasi. Hal ini ditunjukkan dalam seni pertunjukan tayub yang melibatkan penari perempuan (tandha’) dan laki-laki secara berpasangan dalam setiap gerak tarinya. Seni Tayub menurut Bouvier adalah sebuah genre seni tari yang mengutamakan penari perempuan dan laki-laki sebagai fragmen pertemuan dua jenis kelamin yang berbeda.
Paralel dengan konsep harmonisasi seni pertunjukan tayub dengan meletakkan perempuan tandha’ dan penari laki-laki dalam satu ruang, masyarakat Madura bisa jadi sangat mudah untuk melihat posisi penari perempuan (tandha’) dalam dimensi seksual. Pertunjukan tandha’ sering diasosiasikan sebagai kesenian yang dekat dengan prostitusi terselubung dan perilaku yang amoral. Konon diketahui bahwa keberadaan tandha’ dalam sebuah pentas memang sengaja diundang untuk meramaikan sebuah hajatan, konsep sosial ini dipahami sebagai atolong (menolong) oleh orang Madura. Saat ini tandha’ lebih menyerupai pekerjaan profesional, orang Madura mengistilahkannya alako’ (bekerja).
Dalam konteks relasi laki-perempuan, masyarakat Sumenep dan Madura secara umum, adalah masyarakat patriarki. Kepemimpinan berada di tangan laki-laki, sedang perempuan berada pada posisi yang terlindungi. Kekhasan patriarki Madura tertuang pada tata kekerabatan, politik ruang dan budaya kekerasan, yang berputar pada topik penguasaan dan pemilikan laki-laki atas perempuan. Misalnya, model bangunan hunian di Madura tanean lanjheng terbukti tidak berfungsi tunggal sebagai rumah tinggal saja. Dengan posisi bangunan yang terpusat, tanenan lanjheng juga berfungsi sebagai pusat kegiatan laki-laki (suami) sekaligus pusat pengontrolan aktivitas perempuan. Kekakuan patriarki masyarakat Madura dalam memandang perempuan sebagai milik laki-laki tercermin pada cara penyelesaian konflik dengan jalan kekerasan, carok, terutama konflik yang berdimensi seksual (perselingkuhan), di samping permasalahan tanah dan ternak.

Terjungkirnya Kuasa Laki-laki Madura

Pada puncak titik kekakuan patriarki itu, tandha’ muncul sebagai perempuan seni, menciptakan kelonggaran relasi gender, dan menjungkirbalikkan kekuasaan laki-laki Madura. Awalnya seni pertunjukan tayub dengan tandha’ sebagai pemain perempuannya, menjadi sekadar seni hiburan rakyat biasa. Tetapi ketika peran perempuan tandha’ itu bergeser dari panggung pertunjukan ke ruang keluarga, laki-laki (suami) nampaknya, bisa jadi, tidak lagi disebut sebagai kepala keluarga. Penghasilan tandha’ yang di atas rata-rata, menyebabkan mereka mampu mengambil alih peran kepemimpinan dan pengambil keputusan dalam keluarga. Hal ini dialami oleh Suhaniyah, seorang tandha’ dari Dasuk, Sumenep, yang berhasil mencukupi semua kebutuhan keluarga lantaran bekerja sebagai tandha’. “Saya tidak minta uang ke suami dari hasil ngorkesnya, biar dipakai sendiri sehingga dia tidak minta uang terus ke saya,” ungkapnya. Suhaniyah memiliki honor rata-rata 500 sampai 750 ribu rupiah untuk sekali pementasan. Akan tetapi dalam sekali pentas ia bisa mendapatkan uang satu sampai tiga juta rupiah dari saweran.
Suka atau tidak suka, suami harus mengakui bahwa dia tidak lagi sepenuhnya bisa meminta istrinya berhenti menjadi tandha’, pun menggenggam norma lama bahwa suami mengatur istri dan istri wajib menaati perintah suami. Alasannya persis berada pada titik ekonomi keluarga yang saat ini telah berada di genggaman sang istri. Pengakuan seorang suami tandha’ asal Saronggi ini telah menjelaskan fenomena terjungkirnya kuasa laki-laki Madura; “saya pernah cemburu, tapi buat apa, karena istri saya ada di atas panggung dan banyak orang. Kalau saya mulai merasa cemburu, maka akan cepat-cepat saya buang. Kalau di atas panggung, orang kan tidak berani macam-macam. Sempat terpikir meminta istri berhenti bekerja sebagai tandha’, tapi ternyata saya harus memikirkannya kembali karena penghasilan tandha’ memang besar.”
Beriringan dengan pembalikan nilai dan norma serta kepekatan patriarki Madura itu, pada level kelas menengah, profesi tandha’ masih diragukan bisa memenuhi standar moral yang ada. Perempuan dalam posisi sosial masih diharapkan sebagai perempuan yang ideal, tetap tidak lepas dari kodrat, bertanggungjawab pada keluarga dan masyarakat. Agaknya profesi tandha’ bagi sebagian perempuan terdidik, masih berada di luar kualifikasi perempuan ideal. “Faktor yang membuat tandha’ dinilai negatif karena ia tidak lebih hanyalah objek laki-laki, memuaskan birahi laki-laki. Tandha’ lah yang membuat laki-laki kemudian berfikir perempuan mudah dipegang dan bisa dijawil-jawil hanya dengan modal uang,” tutur Bu Ida, seorang rektor perempuan salah satu universitas swasta di Sumenep.
Mungkin jarang diketahui, bahwa sekitar tahun 70-an tandha’ sudah tidak mengenakan rape’ (semacam kemben) dan praktik nyompeng (memberi uang di dada tandha’) praktis telah hilang. Tandha’ Madura yang lebih menonjolkan aspek olah vokal daripada gerak tari, lebih sering mengenakan kebaya layaknya ibu-ibu PKK pada umumnya. Pada saat ini seni karawitan yang ada di Sumenep didominasi oleh kelompok pengrawit perempuan. Masihkah tandha’ harus selalu diverifikasi untuk mendapatkan tempatnya dalam masyarakat, sementara kontribusi serta peran tandha’ secara sosial ataupun domestik sudah sangat menjelaskan strategi pembebasan perempuan?

Franditya Utomo