26fasha.jpgSinema elektronik (sinetron), dalam beberapa tahun ini menjadi primadona acara hiburan televisi di Indonesia. Di era 90an, bersamaan dengan munculnya beberapa stasiun televisi swasta,

layar kaca Indonesia dihiasi oleh bintang-bintang impor dari Amerika Latin. Beberapa judul film drama, telenovela, seperti Marria Mercedes, Cassandra, Inez Sang Sekretaris, dan sederet film lain dengan bintang-bintang seksinya, sama-sama menawarkan kisah romantis (melodrama). Film-film impor tersebut mendapat sambutan luar biasa dari pemirsa Indonesia, terutama ibu-ibu rumah tangga. Dengan jam tayang prime time, menjelang siang, film drama tersebut sukses menjaring segmen pemirsa para pegiat dapur.

Sebenarnya telenovela menceritakan hal yang relatif sama, konflik rumah tangga dan cinta segitiga sebagai klimaksnya. Tokoh utama dalam telenovela biasanya adalah seorang perempuan, memiliki paras cantik namun kurang beruntung secara finansial, jatuh cinta atau dicintai oleh pria ningrat yang kaya. Lika-liku perjalanan cinta digambarkan dengan detail, terkesan bertele-tele, dikemas dalam puluhan bahkan ratusan episode. Telenovela impor itu menggambarkan sosok perempuan, sebagai peran utama, yang takhluk dan menjadi subordinat tradisi borjuasi Eropa. Seorang gadis miskin bernama Marria, mendambakan kekasih tampan, terhormat dan kaya, karena ia sering melintasi sebuah rumah mewah tak jauh dari tempat tinggalnya yang kumuh. Cassandra, seorang gadis cantik keturunan Gipsi, mencintai laki-laki kaya, pewaris sebuah perusahaan terkenal di Peru. Kedua perempuan tersebut digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya, cintanya terlarang, terhalang tembok kelas sosial yang tinggi. Mereka hamil di luar nikah, sebagai siasat untuk keluar menembus kebekuan tradisi kelas borjuis. Anak yang mereka lahirkan pada akhirnya menjadi pewaris tunggal kekayaan keluarga, anak buah cinta terlarang tersebut jadi rebutan, dipaksa pisah dengan ibunya yang miskin.

Seolah mencoba meretas kesuksesan telenovela, beberapa rumah produksi lokal menayangkan sinetron yang berbasis konflik rumah tangga, yang nyaris sama. Sinetron-sinetron bergenre India, seperti Tersanjung, Tersayang dan beberapa sinetron laga seperti Deru Debu, Jalan Makin Membara, ratingnya cukup tinggi. Untuk sinetron bergenre India, alur cerita mencapai klimaks pada akumulasi konflik (full conflict). Konflik berkisah antara harta warisan, dan cinta. Sedangkan sinetron laga, lebih nampak sebagai ajang maskulinitas, lebih didominasi sosok laki-laki yang pandai berkelahi, suka membela ‘mereka’ yang lemah. Namun sinetron seperti Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara, berhasil keluar dari frame sinetron berbasis konflik rumah tangga. Narasi yang dibangun nampak sederhana, bercerita dalam konteks tradisi lokal, nyaris persis dalam cerita hidup keseharian. Konflik tetap ada namun lebih menyoal identitas dan pluralisme masyarakat Indonesia. Sinetron Keluarga Cemara, garapan Arswendo Atmowiloto, malah menyuguhkan sebuah potret realitas kemiskinan yang menjadi problem pemerintah. Bagaimana sebuah keluarga yang dulunya kaya raya, saat mereka jatuh miskin, tetap bertahan hidup dengan menarik becak. Namun dalam industri televisi, rating acara masih menjadi ‘kitab suci’, menentukan jumlah pemasang iklan, televisi akan tetap eksis dengan pemirsa setia dengan ideologi konflik yang identik dengan kekerasan. Sinetron-sinetron berideologi konflik tumbuh subur, meraih rating acara tertinggi, meminggirkan sinetron dengan perspektif yang beda. Perempuan mayoritas dikonstruksi sebagai obyek, lemah, selalu tergantung dengan materi dan cinta buta. Singkat kata, sinetron Indonesia dalam satu dekade menjadi rezim acara hiburan yang masif dengan nuansa konflik dan kekerasan.

Beberapa waktu kemudian, muncul kegelisahan sineas-sineas muda untuk memecah kebekuan kreativitas dunia film dan televisi. Era film indie dan film televisi, serta drama Asia, cukup sukses menjadi tandingan hegemoni sinetron-sinetron bergenre India. Rata-rata bertema kehidupan remaja (chicklit), konflik ditampilkan ala anak muda, terkesan norak, kampungan, tapi khas. Meski mengilhami beberapa film layar lebar, ide-ide chicklit belum mampu menggeser sinetron sebelumnya, sinetron berbasis konflik dan kekerasan. Bahkan beberapa tahun terakhir, sinetron bertema religi, mistis, mulai menggejala dan menempati rating pemirsa tertinggi. Perempuan masih ditayangkan dengan konstruksi yang sama, tetap menjadi subordinat dalam struktur sosial, fetish.

Dalam Kerudung Mitos Kecantikan

Kebekuan perempuan dalam layar kaca atas hegemoni sinetron berideologi konflik, secara dramatis menkonstruksi tubuh perempuan. Dari sudut pandang multikultural, relasi antara kepentingan pasar dan budaya patriarki, sepenuhnya telah memasukkan sosok perempuan dalam mitos kecantikan. Sebuah keniscayaan memang, mitos sering digunakan untuk dapat mengontrol sepenuhnya tubuh perempuan. Sejak kecil seorang anak perempuan dibesarkan dengan mitos tentang ibu, kepatuhan dan kecantikan. Persepsi kecantikan dengan detail meresap dalam relung kesadaran perempuan, melalui mekanisme sosialisasi. Sinetron sebagai unit hiburan massal, mengemban amanat untuk menyebarkan pesan ‘kecantikan’ ini ke dalam kehidupan perempuan.

Industri pertelevisian akan selalu mempertahankan program hiburan yang berating tinggi, pemasang iklan masih menentukan kelangsungan hidup sebuah industri pertelevisian. Nota bene, tayangan-tayangan hiburan tersebut sarat dengan muatan ideologis, ideologi kecantikan. Ideologi kecantikan membawa elemen konstruksi perempuan cantik – tinggi, langsing, rendah lemak, dst – mecair dalam batas realitas film ke realitas kehidupan sosial. Pun secara definitif, pesan ‘kecantikan’ telah mengafirmasi sosok perempuan cantik dengan imajinasi laki-laki. Persetubuhan antara ideologi pasar dan patriarki, melahirkan generasi yang sangat sugestif terhadap media massa, televisi. Beberapa pengusaha media berkelas dunia, seperti Rupert Murdock, Star TV, berhasil masuk ke industri nasional dengan mengakuisisi perusahaan media lokal. Mitos kecantikan secara telak menyerang perempuan dengan segenap kompleksitas kultural. Ia mendefinisikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh perempuan. Memang tidak separah anorexia yang menyerang perempuan muda di Amerika, namun mitos kecantikan bagi perempuan Indonesia membawa implikasi kultural yang signifikan. Pada tahun 90an, tarian salsa sempat menjadi standar kecantikan seorang perempuan. Saat itu bombardir telenovela Amerika latin, membawa tradisi dansa-dansi ke nusantara. Seorang akan menjadi cantik ketika ia mampu memainkan tarian salsa secara sempurna. Kursus-kursus tari salsa, senam kebugaran dengan model salsa(isme) dibuka, tidak ketinggalan kelompok musik pop ikut meramaikan tren ini. Pada skala mikro, model pakaian, asesoris, make up yang bercorak latino menjadi unsur penting, menentukan kecantikan. Pandai menari, tentunya diikuti dengan bentuk tubuh yang enak dilihat. Hal ini menciptakan kualifikasi tersendiri dalam menentukan tubuh yang cantik. Program diet yang ketat, menjadi jalan keluar bagi perempuan yang mendamba kecantikan. Makanan, minuman rendah lemak memenuhi pasar, menggeser konsumsi makanan berkalori.

Perempuan terjebak oleh ritus-ritus kecantikan yang diusung oleh sinetron-sinetron berbasis konflik dan kekerasan. Definisi cantik sepenuhnya terberi, model rambut, gaya berpakaian, gaya bicara, identik dengan gaya pemain sinetron. Sinetron-sinetron tersebut menciptakan kualifikasi kecantikan tersendiri. Kualifikasi kecantikan ini nantinya menjadi jaminan pasar yang melayani permintaan, produk-produk kecantikan.